
"Bagaimana keadaannya bu..?" Cakra yang baru tiba dari kantor langsung menghampiri Clara yang sampai saat ini belum sadarkan diri di ruang ICU.
"Belum ada perubahan nak." Ibunya Clara datang menemaninya setelah Cakra menelponnya.
"Maafkan aku bu, aku tidak bisa menjaga Clara dengan baik, aku akan menghukum diriku jika terjadi sesuatu dengannya. Aku sangat mencintainnya bu, dia satu-satunya wanita yang bisa membuatku bisa bangkit dari keterpurukanku selepas Fely mengkhianatiku." Cakra kembali menangis dihadapan ibunya Clara dan hanya bisa melihat Clara dari jendela kaca.
"Ibu sangat mengerti perasaanmu nak, tapi kita hanya bisa berdoa semoga keajaiban bisa datang menghampirinya. Ibu juga sangat bersalah kepada Clara, ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Ibu selalu mementingkan keinginan ibu tanpa menyadari kalau Clara terluka dengan itu. Aku seharusnya menyadarinya dari dulu, sekarang ibu tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyesalinya. Padahal dia adalah anak ibu satu-satunya tapi mengapa aku begitu tega memperlakukan dia seperti ini." Ibunya Clara menangis sampai dadanya terasa sesak melihat anaknya yang tak berdaya dengan ditubuhnya terpasang beberapa alat medis.
"Aku akan terus berdoa bu, aku janji jika dia sembuh aku tidak akan membuatnya menangis lagi karena aku." Cakra masih meneteskan air matanya.
Clara aku berharap aku sedang bermimpi saat ini, aku ingin saat aku bangun dari mimpi burukku ini kamu sedang berada disampingku memegang tanganku dengan erat dan berkata kepadaku "Aku ada disini mas, masih setia menemanimu jadi pernah takut untuk merasa sendiri lagi." Cakra masih menatapnya berusaha setegar mungkin menghadapi kenyataan ini.
Tringg..Tringg.. Suara nada telpon Cakra memecahkan lamunannya.
"Iya haloo..? Sudah ada kabar siapa pelakunya..?" Suara Cakra berbicara kepada orang yang ada didalam telpon.
"Kami sudah menangkap pelakunya pak, tetapi ternyata pelaku utamanya bukan orang ini. Orang ini hanya preman yang dibayar untuk melakukan eksekusi, kami masih mendalami kasus ini untuk menggali semua informasi untuk mendapatkan data pelaku utamanya." Ucap polisi itu.
__ADS_1
"Baiklah pak terima kasih atas kerja samanya, satu jam lagi aku akan berangkat menemui pelaku tersebut." Cakra menutup telponnya.
"Aku akan membuatmu hancur berkeping-keping dan jangan harap keluargamu bisa hidup bebas dikota ini." Gumam Cakra kesal dalam hati.
"Ibu, aku akan pergi kekantor polisi sekarang , Ada telpon dari kantor polisi memberi tahu pelakunya sudah ditemukan. Sebentar lagi Hana akan datang kesini untuk menjenguk Clara, jika ada perkembangan dari Clara mohon hubungi aku." Cakra menyalami tangan mertuanya dan beranjak pergi.
"Iya nak.., pergilah."
Cakra pergi meninggalkan Clara yang masih terbaring tak sadarkan diri.
Saat Cakra hendak pergi ternyata Hana sudah sudah tiba.
"Aku akan pergi kekantor polisi Han, aku titip Clara." Cakra langsung bergegas pergi padahal Hana masih ingin bertanya tentang perkembangan kasus penabrakan Clara.
"Mas, mas, aku berharap kamu bisa sabar melewati ini semua. Kisah cintamu begitu menyedihkan." Hana masih menatap belakang kakaknya yang sudah pergi meninggalkannya.
"Hana..? Mengapa kamu berada disini..?" Suara laki-laki memanggilnya dari belakang. Hana membalikkan badannya melihat laki-laki
__ADS_1
tersebut.
"Kamu..?" Hana terkejut melihat laki-laki itu.
"Kamu lupa namaku..?" Ucap laki-laki itu sambil tersenyum kepadanya.
"Bukan, maaf.. aku hanya terkejut melihatmu. Sedang apa kamu disini Willi..?" Hana masih belum percaya jika William sedang berada didepannya.
"Heemm seharusnya aku yang bertanya kamu sedang apa disini Hana..? Kalau aku sedang praktek dirumah sakit ini."
"Aku..aku sedang menemani Clara.." Hana terlihat gugup.
"Clara..? Dimana dia..? Aku ingin bertemu dengannya. Bolehkan...?, Please Hana, sebentar saja. Dimana dia Hana..?" Tanya William setelah mendengar Clara sedang berada dirumah sakit itu.
"Clara ada didalam ruangan itu." Hana menunjuk ruangan perawatan Clara.
"Tapi itukan ruangan untuk pasien..., Tidak mungkin, kamu pasti membohongiku kan?" William tahu pasti itu ruangan apa, karena dia seorang dokter pasti mengetahui semua ruangan perawatan untuk pasien.
__ADS_1
"Benar William.. itu nyata." Ucap Hana dengan lemas.