Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
BAB 49 Suamiku Bossku


__ADS_3

"Iya pak, terima kasih atas bantuannya, kami akan segera menuju ke kantor polisi." Papinya sedang berbicara melalui telpon.


Hana, mami Anita, Cakra, ibunya Clara sedang berada dirumah sakit. Semua mendengar dengan seksama pembicaraan yang sedang berlangsung. Cakra yang hanya diam menatap Clara akhirnya bisa fokus kembali mendengar percakapan papinya dengan seorang polisi yang ada didalam telponnya.


"Pi, aku ikut.." Suara pertama Cakra.


"Iya nak, boleh." Papinya tersenyum melihat anaknya kembali berbicara.


"Pi, aku juga ikut." Hana juga bersuara. Dia sangat penasaran dengan pelaku utama yang sudah tertangkap.


"Sekarang cepat berdiri...! Mami..., Papi pergi dulu." Ucap papinya sambil mencium kening istrinya dan tak lupa dia juga berpamitan dengan ibunya Clara.


"Iya pi, semoga masalah ini bisa terselesaikan dengan cepat." Maminya penuh harap kali ini.

__ADS_1


Mereka sudah pergi meninggalkan rumah sakit, Cakra yang duduk berdampingan dengan papinya terlihat mengepal tangannya dengan kuat. Wajahnya menjadi merah menahan amarah ingin secepat mungkin dia menemui pelaku utamanya.


"Cakra.., papi tidak mau kamu membuat onar dikantor polisi. Tolong percayakan kasus ini kepada polisi dan semoga cepat ditangani. Biarkan hukum yang berbicara dan jangan main hakim sendiri agar prosesnya berjalan lancar dan pelakunya mendapatkan hukuman yang setimpal."


"Aku tidak bisa janji Pi." Ucap Cakra.


"Kalau begitu kamu pulang sekarang...! Papi tidak mau ini akan menjadi rumit karena ulahmu dan nama baik papi akan tercoreng." Papinya mempertegas ucapannya.


"Oke Pi, aku akan bertindak baik." Cakra langsung menyandarkan badannya sedangkan Hana hanya bisa melihat kakaknya dengan rasa sedih.


Polisi sudah mengepung tempat pelaku, saat itu tepat sekali pelaku sedang berada dirumahnya yang sudah beberapa hari menjadi incaran polisi. Pelaku ini tergolong orang yang memiliki perilaku psikopat dia akan melakukan apapun jika itu adalah keinginan yang menjadi obsesinya. Saat pelaku mengetahui bahwa dirinya sudah menjadi incaran polisi dia sudah menyiapkan segalanya termaksud merakit peledak yang akan dia gunakan untuk bunuh diri didepan polisi.


Satu....

__ADS_1


Dua....


Tiga...


Aba-Aba dari polisi terdengar. Mereka siap menendang pintu rumah pelaku. Saat itu pelaku sudah mengunakan peledak dibadannya dan tertawa melihat kehadiran polisi yang kaget melihat dirinya. Polisi mundur dan dan ternyata dia tidak menyadari jika ada seorang polisi yang menyelinap masuk melalui pintu belakang dan langsung menjatuhkan badannya. Akhirnya setelah melewati proses yang lama pelakunya bisa dilumpuhkan dan digiring kekantor polisi.


Kembali kekantor polisi....


Mereka sudah memarkirkan mobilnya. Cakra sudah membuka pintu mobil. Terlihat jelas amarahnya yang berapi-api dari raut wajahnya yang memerah.


"Cakra, dengarkan perkataan Papi! Papi mohon jangan membuat Papi susah karena emosimu yang tidak bisa kamu kontrol. Ini demi Clara, ini demi orang tuamu dan ini demi kebaikanmu Cakra, jadi Papi mohon, dengarkan Papi kali ini saja." Papinya menarik tangannya berusaha mengingatkan anaknya yang sedang emosi.


"Papi..., papi tidak pernah tahu rasanya menjadi aku..! Papi, aku tidak bisa pi, aku sakit pi, aku sangat sakit dengan semua ini. Papi tahu perasanku saat ini..? Papi tidak pernah tahu persaanku sehancur apa sekarang melihat Clara terbaring tak sadarkan diri sedangkan aku bisa melihat pelakunya sedang baik-baik saja. Mana mungkin aku bisa diam menyaksikan ini semua Pi, Aku tidak punya harapan lagi melihat kondisi Clara sekarang.., aku menyerah Pi. Papi aku tidak tahu akan sehancur apa jika Clara pergi meninggalkanku kedepannya dan mungkin Papi juga tidak akan pernah melihat aku lagi didunia ini." Nada suara Cakra meninggi.

__ADS_1


Papinya hanya bisa mendengarkan semua luapan perasaan Cakra yang telah lama dia pendam dalam diam. "Aku akan menyuruh polisi untuk mengawalmu..!" Bentak papinya.


__ADS_2