Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
BAB 32 Suamiku Bossku


__ADS_3

Cakra dan Clara masih terbaring santai sambil berpelukan setelah bercinta. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka berdua. Bagaimanapun, keduanya masih merasa canggung setelah kedatangan Felysha yang sungguh diluar dugaan. Cakra yang masih menyayangi Felysha yang merupakan cinta pertama dan terlama di hidupnya. Dia tentu tidak ingin menyakiti hati Clara yang notabene adalah istri sahnya itu. Sebaliknya, Clara yang sedari awal cintanya karena keterpaksaan pada Cakra lambat laun berubah menjadi lebih kuat terlebih setelah menjadi istri sah Cakra.


"Pergilah mas, temui Felysha..sebentar lagi jam 9." suara Clara tiba-tiba memecah kesunyian didalam kamar. Cakra terkaget lalu sedikit salah tingkah didepan Clara.


"Tak apa mas, aku ngerti kok... situasinya sulit yah? hehehe.." Clara mencoba meledek Cakra yang kelihatan masih sedikit gugup. "Ayolah, atau aku bantuin mas mengganti baju?" Sekali lagi Clara mencoba mencairkan suasana.


"Trims Clara, kamu memang istri yang paling pengertian." ucap Cakra setelah lama terdiam. Ia tak percaya Clara sepengertian itu terhadapnya.


Clara yang masih berbaring ditempat tidur melihat Cakra sudah meninggalkan kamar dan pergi menemui Felysha. "Mas, ternyata kamu masih sangat mencintainya padahal aku hanya ingin mengujimu. Ya Tuhan, mengapa perasaanku sangat sakit dan ini terasa lebih menyakitkan dari perlakuan William padaku." Katanya sambil meneteskan air mata.


Tak sampai setengah jam kemudian, Cakra berangkat menuju ke tempat pertemuannya dengan Felysha di sebuah Cafe mungil dekat taman kota.

__ADS_1


Ekspresi Felysha datar saja menyambut kedatangan Cakra. Ia memilih tempat duduk untuk mereka di sudut Cafe agar lebih privasi. Setelah memesan dua gelas Espresso dan dua Pancake mereka larut dalam diam bagaikan insan tidak pernah saling mengenal. Untung saja suara lantunan lagu cinta diiringi gitar acoustik yang dinyanyikan band di Cafe itu membantu mengikis rasa hambar di antara mereka.


"Ternyata hubungan kita selama 12 tahun ini sia-sia ya... darimu saya belajar banyak kalo laki-laki itu adalah mahkluk yang tidak setia.." Fely membuka percakapan dengan sedikit sinis.


"Tapi jujur saya tetap mencintaimu Fely sampai detik ini..walaupun saya sudah beristri sekarang." Cakra membalas.


"Dasar egois.. mana ada cinta yang terbagi.. kalau memang kamu sayang dan cinta padaku toh kamu pasti akan menungguku sampai kapanpun." kata Fely tegas.


Setelah beberapa menit terdiam Cakra menjawab pelan "Tapi rasa sayangku tetap lebih besar padamu Fely.. ingat, 12 tahun yang telah kita jalani lalu bukan waktu yang singkat.. banyak suka duka yang telah kita lewati bersama." Mata Cakra berkaca-kaca.


"Aku akan mempertahankan cintaku padamu dan akan merebutmu kembali dari sisinya." Kata Fely tegas.

__ADS_1


"Itu tidak akan mungkin dan tidak akan pernah terjadi karena mulai saat ini aku akan belajar untuk melepasmu."


"Mengapa tidak mungkin..?" Fely menatap mata Cakra.


"Karena dia wanita yang patut aku pertahankan untuk menjadi pendampingku. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah cocok. Kamu akan tetap dengan pendirianmu sedangkan aku akan tetap dengan pendirianku. Jadi mengapa kita harus memaksakan diri untuk bersatu jika itu tidak bisa."


"Jadi maksud dari kata-katamu tadi masih mencintaiku itu apa?" Felysha setengah berteriak.


"Aku ingin kamu tahu bahwa itu adalah kata-kata terakhirku yang paling romantis yang aku ucapkan padamu."


"Cakra, kamu benar-benar jahat kepadaku." Fely sangat terkejut mendengar pengakuan Cakra matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis.

__ADS_1


"Jangan menangis dengan penuh kebohongan Fely, sakitkan rasanya..? Begitu juga denganku. Kamu kira aku tidak mengetahui kamu sedang berbuat apa di Paris. Kamu selingkuh dengannya, aku kira kamu bisa menjaga kepercayaanku Fely..., ternyata kamu perempuan yang tidak mempunyai rasa malu. Ardian, jangan bilang kamu tidak mengenal nama itu." Fely bagaikan disambar petir dia tidak pernah menyangka Cakra memberikan kejutan yang sangat luar biasa diakhir pertemuan mereka.


Sambil berurai air mata Fely bangkit lalu pergi meninggalkan Cakra. Espresso dan Pancakenya ditinggalkan begitu saja bersama Cakra dan keriuhan Cafe itu.


__ADS_2