
Setelah pulang dari liburan panjang, mereka kembali dengan aktivitas masing-masing. Cakra yang sudah disibukkan dengan pekerjaan kantor yang begitu menumpuk. Sedangkan Clara beristirahat untuk beberapa waktu dari rutinitasnya dibutik karena sedang kelelahan selepas liburan.
Bip.. bip..bip. Panggilan telpon Clara berbunyi.
"Yah Haloo." Suara Clara begitu lesu terdengar ditelinga Cakra.
"Sayang, kamu sakit..?" Tanya Cakra panik.
"Tidak mas, aku hanya kelelahan."
"Aku akan pulang sekarang dan membawamu ke dokter." Cakra langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Clara.
"Mas Cakra benar-benar sudah kelewatan sayangnya, aku hanya butuh istirahat mas bukan kedokter." Clara menyimpan kembali hpnya.
Tok.. Tok.. Tok.. Cakra masuk dan langsung duduk disamping Clara yang sedang berbaring. "Sayang, bagian mana yang sakit..?" Ucap Cakra dan memeriksa bagian tubuh Clara dari atas kebawah.
"Mas, aku benar nggak kenapa-kenapa, aku hanya butuh istirahat kepalaku hanya pusing mas."
"Kepalamu pusing..? Astaga sayang.. ayo kita kedokter, jangan-jangan bekas tabrakanmu kambuh lagi."
"Baiklah mas, terserah kamu saja." Clara hanya pasrah mengikuti semua keinginan suaminya yang begitu tidak masuk akal baginya.
"Aku akan menggendongmu."
"Aku masih bisa berjalan mas."
"Clara, jangan membantah, mas benar-benar takut terjadi apa-apa denganmu."
__ADS_1
"Baiklah mas."
"Non Clara mau dibawa kemana tuan?" Bi Iyam juga terlihat begitu panik karena melihat Cakra dengan wajah panik.
"Ke dokter bi, tolong hubungi mami dan papi untuk datang keklinik dokter Bryan." Cakra sudah setengah berlari membawa Clara.
"Dasar mas Cakra, semua orang menjadi repot karenanya." Clara sebenarnya sangat malu pada penghuni apartemen lain karena Cakra selalu menggendongnya seperti dia tidak punya kaki untuk berjalan.
Sesampainya di klinik milik Bryan, Cakra langsung masuk dan membaringkan tubuh Clara. Sebelumnya Cakra sudah membuat janji kepada Bryan jadi dia tidak perlu lagi mengantri.
"Dok, tolong periksa secepatnya." Cakra masih dengan wajah paniknya.
Bryan sudah memeriksa kondisi kesehatan Cakra.
"Jadi bagaimana kondisinya dok..?"
"Sedang apa dok..? Cakra semakin panik.
"Dia akan hamil muda..?"
"Benarkah..? apa aku tidak salah dengar..?"
"Benar Cakra, Kamu bisa memeriksakannya di dokter spesialis kandungan.
"Terimakasih dok." Wajah Cakra kembali ceria setelah mendengar perkataan dokter Bryan.
"Sayang, ayo kita pergi kedokter kandungan."
__ADS_1
"Untuk apa mas?" Tanya Clara bingung.
"Kita dipercayakan untuk memiliki anak lagi sayang." Sambil memeluk Clara dengan erat.
"Benarkah mas..? Akhirnya Tuhan menjawab doaku mas."
"Cakra, bagaimana keadaan Clara..? Mami Anita terlihat panik.
"Dia baik-baik saja mi, kita akan pergi kedokter kandungan untuk memeriksa Clara.
"Kandungan..? Clara hamil..?"
"Heeemm.. begitu sekiranya mi."
"Ayo nak, mami udah nggak sabar mendengar kabar gembira ini."
Merekapun meninggalkan dokter Bryan. Saat tiba didokter kandungan Clara langsung dilakukan pemeriksaan dan ternyata hasilnya Clara positif hamil dengan usia kandungan memasuki 6 minggu. Mami Anita dan Cakra terlihat begitu senang dan saling berpelukan. Cakra kembali memeluk Clara yang masih terbaring dan mencium keningnya beberapa kali.
"Terimakasih sayang atas segalanya yang kamu berikan kepadaku."
"Terimakasih kepada Tuhan juga mas, karena kehendakNya kita masih diizinkan untuk memiliki anak."
"Iya sayang, aku akan menghubungi ibumu dan Hana, aku ingin mereka mengetahui kebahagiaan ini.
"Iya mas, akan ku pastikan Hana akan pulang jika mendengar ini."
"Hehehe itu sudah pasti, anak itu aku juga merindukannya saat jauh seperti ini." Ucap Cakra sambil tersenyum
__ADS_1