
"Aku pulang sayang." Calvin masuk dan mencium Tania yang sedang menonton TV diruang keluarga.
"Kok cepat pulangnya sayang.?" tanya Tania.
"Mau aku bikinkan susu..? pasti kamu lupa minum susu." Jawab Calvin mengalihkan pembicaraan.
"Iya aku lupa sayang."
Calvin langsung kedapur untuk membuatkan Tania susu.
"Ini susunya." ucap Calvin sambil mengelus perut Tania dengan lembut.
"Terima kasih sayang."
"Pertanyaanku belum dijawab, kok sayang pulang cepat.? Kamu sakit.?"
"Iya, aku agak kurang enak badan."
"Kalau begitu sana istirahat dulu."
"Aku lagi ingin bersama kamu sayang." Jawab Calvin sambil berbaring dipaha Tania.
Tania mengelus kepala Calvin dengan lembut.
"Kamu ada masalah yah dikantor.?"
"Haa.., tidak ada sayang."
Mengapa Tania bisa tahu yah, apa yang aku katakan jika aku sedang dirumahkan papi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.
"Oh syukurlah. Aku pikir kamu berbuat salah dikantor jadi papi memarahimu."
__ADS_1
Apa? dia tahu.?
"Sayang, untuk sementara waktu aku akan tinggal dirumah dan menemanimu. Aku tidak ingin masuk kantor."
"Sayang kamu pasti berbohong, kamu ada masalah yah.? Bukannya kamu bilang kepadaku untuk tidak menyimpan rahasia diantara kita.?"
"Tania maafkan aku, aku takut kamu akan marah dan meninggalkan aku." Sambil memeluk Tania.
"Bagaimana aku mau marah jika masalahnya saja aku tidak tahu."
"Tapi janji kamu tidak akan meninggalkan aku Tania.?"
"Walaupun kamu jatuh miskin aku akan tetap bersamamu." Jawab Tania sambil tersenyum.
"Aku dipecat untuk sementara waktu."
"Apa.? Papi memecatmu.? Masalahnya apa.?"
"Apa..? Kamu serius sayang? Gila. Pantas saja papi memecatmu."
"Sayang kok ngomong gitu, katanya kamu nggak marah."
"Aduh sayang aku lagi hamil, jadi kita harus bagaimana kedepannya.? Apa aku harus cari kerja saja.?" Jawab Tania.
"Jangan sayang, uangku masih sangat banyak ditabungan, bisa untuk hidup beberapa tahun."
"Calvin apa pikiranmu terlalu pendek? Kapan kamu bisa dewasa sayang?" Tania terlihat pusing.
"Baiklah aku akan menyelesaikan masalah ini, tenang saja sayang. Kasian dede bayi didalam sini jika kamu marah-marah." Sambil memegang perut Tania.
"Baiklah, maafkan mama sayang." Tania mengelus lembut perutnya begitupun dengan Calvin beberapa kali mencium perut Tania dengan lembut.
__ADS_1
Bip..Bip.Bip. suara nada panggilan telpon Tania.
"Halo ka Vina." Tania mengangkat telpon.
"Mana sisa uang yang kamu janjikan, kamu berbohong ya anak pungut." Ucap kakaknya kepada Tania.
Calvin langsung mengambil alih hp dari tangan Tania.
"Apa kamu bilang? istriku anak pungut? Asal kamu tahu, wanita jelek seperti kamu banyak dijalanan. Istriku memang dulu anak pungut tapi sekarang dia jadi tuan putri. Dan beri tahu kepada orang tuamu untuk menunggu kedatanganku dirumahmu sore nanti. siapkan saja mobil dan sertifikat tanah yang aku pinjamkan dulu kepada kalian...!" Jawab Calvin dan menutup telfonnya.
"Sayang, jangan lakukan itu. mereka akan makan apa jika rumah makan itu kamu tarik.? Sayang aku mohon demi aku dan calon bayi kita jangan lakukan itu."
"Tania jangan menjadi wanita terlalu lemah dan terlalu baik, mereka itu jahat kepadamu."
"Aku tahu sayang mereka jahat tap-" Air matanya sudah jatuh membasahi kedua pipinya.
"Baiklah jangan menangis, aku tidak akan melakukan itu." Jawab Calvin sambil menyeka air mata Tania yang jatuh membasahi kedua pipinya.
"Janji sayang." Tania.
"Aku tidak janji." Calvin.
"Sayang, janji yah." Tania.
"Tania.. ayolah aku benci dengan mereka." Calvin.
"Anggap saja mereka tidak ada didunia ini." Tania.
"Tapi kamu janji tidak akan menemui mereka lagi." Calvin.
"Aku janji., asal kamu jangan menganggu hidup mereka." Tania.
__ADS_1
"Iya Istriku, demi kamu." Calvin.