
"Maaf tuan muda, aku akan mamasang pakaian anda." Tania berdiri didepan Calvin.
"Tania..., Berhenti berkata seperti itu. Hubungan kita sudah sangat baik semalam. Aku sunguh minta maaf kalau kamu masih marah kepadaku karena ucapanku yang begitu kasar kepadamu. Aku akan menyuruh papi untuk menikahkan kita secepatnya jika kamu masih terus seperti ini." Kata Calvin yakin dengan apa yang barusan dia katakan.
"Maafkan saya tuan muda, aku belum bisa untuk itu. Aku tidak marah kepadamu dan aku tidak punya hak marah kapada anda." sambil berlutut dikaki Calvin.
"Kalau bagitu berhenti memangilku
tuan muda...! panggil kak Calvin" Calvin tersenyum melihat Tania yang begitu ketakutan dengan ancaman gilanya.
"Iya kak Calvin." Kata Tania patuh.
"Sekarang berdirilah..! pakaikan aku baju calon istriku."
"Calon istri..? ayolah tuan muda berhenti berbicara seperti itu jika orang mendengarnya mereka pasti akan tertawa.
"Siapa yang berani tertawa..? mami dan papi sudah menyetujui hubungan kita.., bukannya itu terdengar lebih baik Tania..?"
"Sampai kapanpun aku tidak sudi menjadi istrimu tuan muda, kalau bukan karena kontrak bodoh itu aku tidak rela menjadi babu terhina seperti ini." Guman Tania dalam hati dan tanganya masih sibuk mengurus Calvin.
"Sudah selesai kak Calvin..." Tania memberikan senyuman kepalsuan penuh dendam.
"Duduklah disini.., aku janji tidak akan melakukannya lagi, menciummu dengan terpaksa maksudku." .
"Baiklah." Tania duduk disampingnya..
"Aku akan memberimu 3 pertanyaan Tania., kamu pilih aku atau Raka..?"
__ADS_1
"Apa..? aku tidak bisa menjawabnya kak."
"Harus jawab..!" Perintah Calvin.
"Oke..., aku piliih Raka.."
"Apa..? Jawaban macam apa itu., sekarang aku ulangi sekali lagi."
"Pilih aku atau Raka.?
"Aku pilih Raka." Tania tetap dengan pendiriannya.
"Dasar kau..! Aku ganti pertanyaanya. Pilih Rey atau aku.?" Calvin kembali mengajukan pertanyaan konyolnya.
"Pilih kak Rey tuan muda."
Tania tidak bisa lepas karena tubuhnya dipegang erat oleh Calvin.
"Calvin..? Tania..?" Teriak Mami Clara melihat mereka berdua sedang berciuman.
"Mami..? Nyonya Clara..?" Calvin dan Tania sama-sama terkejut melihat mami Clara.
"Maafkan aku nyonya, aku salah.." Tania sudah menghampiri mami Clara didepan pintu sampai berlutut dikakinya.
"Tania, mami tidak marah. Mami tahu kamu anak yang baik hanya saja kamu bertemu laki-laki tidak baik."
"Maksud mami aku..?" Calvin menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan kamu..!" Jawab mami Clara.
Tania masih menundukan kepalanya sambil menangis dihadapan mami Clara. Entah dia merasa malu atau takut dan hanya Tania seorang yang mengetahuinya.
"Mami.., Tania jadi sedih seharusnya mami tidak mengangu kami biarkan kami menyelesaikan masalah kami.."
"Ternyata kamu sudah dewasa, baiklah maafkan mami. Mami tinggal dan makanan kalian nanti diantarkan oleh bibi lasti. Calvin jika kamu bertindak berlebihan kamu tahukan akibatnya apa..?"
"Iya mi aku akan dikirim ke luar angkasakan..?"
"Luar negeri Calvin."
"Okelah mami.." Calvin sudah menutup pintu dan kali ini dia menguncinya.
"Tania kali ini permintaan maafku lebih besar dari yang tadi., aku tidak tahu jika mami akan masuk dan melihat kita."
"Aku tahu aku miskin tuan tapi tolong perlakukan aku seperti manusia." Tania kembali menangis.
"Tania maafkan aku yang untuk kesekian kalinya. Aku hanya ingin beberapa bulan ini bersamamu dan jangan menjaga jarak diantara kita. Aku janji aku akan melepaskanmu jika aku tamat SMA." Kata Calvin tapi raut wajahnya terlihat sedih.
"Benarkah..? Kamu tidak bohongkan? maaf tuan muda, maksudku anda tidak berbohongkan..?" Tania nampak bahagia dengan keputusan Calvin.
"Boleh aku memelukmu Tania..?"
"Hmmm bolehh, anggap saja ini ucapan terimakasihku kepada tuan muda." Kali ini Tania yang duluan memeluk Calvin.
"Tania, ternyata aku sama sekali tidak berada dihatimu." Kata Calvin dalam hati.
__ADS_1