Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
BAB 39 Suamiku Bossku


__ADS_3

Clara cukup lama berkutat dengan komputer sampai dia lupa untuk makan siang. Minggu ini hari terakhirnya magang dikantor ini, jadi dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum dia kembali ke kampus untuk ujian skripsi. Kepalanya sangat pusing dan tubuhnya seakan berputar 360 derajat dan cukup lama Clara menahannya hingga akhirnya dia terjatuh dari tempat duduknya. Brukk... suara keras menghantam lantai. Semua orang terkejut setelah melihat siapa yang sedang tergeletak dilantai.


"Cepat angkat.., jangan biarkan dia disitu. Atau bawa saja keruangan pak Cakra." Seru seorang karyawan wanita yang sedang mengangkat kepala Clara yang menempatkan dipahanya. Semua laki-laki saling menatap tidak ada yang berani mengangkat Clara dari lantai bukan tanpa alasan mereka takut menyentuh tubuh Clara jangan sampai Cakra marah karena berani menyentuh tubuh istrinya.


"Kalau begitu telpon saja mba Lira, nanti dia akan memberi tahu kepada pak Cakra." Dengan cepat karyawan yang lain menekan tombol telpon kantor yang langsung tersambung dengan asisten Cakra.


"Mba Lira, Clara pingsan, tolong beritahukan kepada Pak Cakra untuk datang melihatnya."


"Apa..? dia sedang rapat sekarang. tapi baiklah aku akan memberi tahunya."


Lira masuk keruangan rapat dan berbisik ketelinga Cakra yang sedang melakukan presentasi didepan rekan bisnisnya. Cakra yang terkejut mendengar kabar itu langsung pergi meninggalkan rapat tanpa berpamitan kepada rekan bisnisnya. Untung saja ada Lira yang melanjutkan rapat itu sebagai tangan kanannya.

__ADS_1


Cakra memasuki ruangan dimana Clara berada dengan nafas masih tergesa-gesa karena berlari. Cakra langsung mengangkat tubuh Clara dan masuk kedalam lift menuju ruangannya. Sekarang dia sudah terbiasa mengangkat tubuh Clara tidak seperti dulu saat dia pertama kali mengangkatnya dan membuat semua badanya terasa remuk.


Cakra menempatkan Clara di sofa panjang yang ada diruangannya. Cakra kembali mondar-mandir menelpon beberapa orang untuk memberi tahukan keadaan Clara, dia terlihat sangat panik melihat Clara yang terbaring lemah tak berdaya apalagi sampai tak sadarkan diri.


Tok.. tok.. tok.. office boy mengantarkan air hangat dan makanan kedalam ruangan Cakra.


"Terima kasih, kamu boleh pergi." Seru Cakra kepada seorang office boy.


Tok..tok.. tok.. ketukan kedua dan ternyata itu adalah Riyan. Cakra menelponnya memberi tahu untuk datang melihat kondisi Clara saat ini.


Riyan sudah selesai memeriksa kondisi Clara dan beberapa menit kemudian Clara bangun.

__ADS_1


"Dokter Riyan mengapa kamu disini..?" Clara masih memegang kepalanya berusaha untuk duduk.


"Sayang, kamu jangan memaksakan untuk duduk, kondisimu sedang kurang stabil sekarang. Berbaringlah, aku akan menemanimu dan akan tetap berada disisimu." Ucap Cakra yang terlihat senang melihat Clara sudah siuman dan mencium punggung tangan Clara.


"Jadi bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik sajakan..?" Cakra terlihat kembali panik.


"Dia hanya kelelahan, biarkan dia istrahat untuk sementara waktu. Dan besok kalian bisa pergi ke spesialis kandungan untuk melakukan pemeriksaan.?" Jawab dokter Riyan.


"Mengapa dengan kandungannya? Apakah bermasalah." Cakra terlihat polos untuk masalah ini.


"Aku menduga istrimu sedang hamil sekarang, tapi untuk lebih pastinya kalian lebih baik pergi ke ahlinya untuk pemeriksaan lebih lanjut" Riyan sangat serius menjelaskan.

__ADS_1


Cakra terlihat antusias dan sangat senang mendengar jawaban dari Riyan sedangkan Clara terlihat datar dan masih belum percaya dengan apa yang sedang dia dengar. Clara tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin dia bisa hamil secepat itu sedangkan usia pernikahan baru memasuki 4 bulan. Di umurnya yang masih sangat muda, dia masih sangat labil untuk masalah seperti ini dan dia belum bisa membayangkan bagaimana nantinya dia akan mengurus bayinya. Sungguh khayalan Clara sangat jauh kedepan.


__ADS_2