Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
Suamiku Bosku two, part 55


__ADS_3

Setelah pertemuannya dengan Julie barulah hati Tania merasa lebih baik. Dan sejak saat itu Calvin tidak pernah lagi membiarkan Tania untuk bertemu dengan ibunya Felysha. baginya Felysha sudah sangat keterlaluan kepada Tania.


3 bulan kemudian


Pagi hari Calvin bangun meraba tempat tidur disampingnya ternyata Tania sudah tidak ada. Dia melihat jam dinding yang tergantung didalam kamarnya ternyata sudah jam 08.00 pagi.


"Sayang." berteriak memanggil Tania.


Tak ada sahutan dari Tania.


"Sayang.,Saya-?" Calvin mencari ke kamar mandi ternyata Tania sedang tergeletak dilantai.


Dengan paniknya Calvin membawa Tania kerumah sakit. Sampai di UGD Tania langsung di baringkan ditempat tidur pasien. Kebetulan Tania berada di rumah sakit om Bryan dan yang sedang bertugas menjadi dokter jaga ditempat itu adalah Raka.


Raka dan calvin sedang berbicara dimeja kerja yang tidak jauh dari tempat Tania berbaring.


"Jadi bagaimana hasilnya Raka.?" Tanya Calvin.


"Untuk lebih jelasnya kita akan melakukan pemeriksaan didokter kandungan." Jawab Raka.


"Sayang.., aku ada dimana.?" Suara Tania terdengar sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Tania..?" Raka yang berlari ketempat pembaringan Tania.


"Syukurlah kamu sudah sadar." Sambil memeluk Tania tanpa sadar.


"Eheem." Calvin memberi kode dibelakang Raka agar melepaskan pelukannya kepada Tania.


"Hehehe maaf, silahkan.., aku lupa dia istrimu." Raka tersenyum malu.


"Kamu dirumah sakit sayang, tadi kamu pingsan dikamar mandi."


"Benarkah.? tadi kepalaku memang agak pusing." Jawab Tania, wajahnya sangat pucat.


Sekarang kita akan ke dokter kandungan ka Calvin, biar aku yang mendorong Tania pakai kursi roda Bolehkan.?" Ucap Raka setengah memohon.

__ADS_1


"Boleh, hanya sekali ini saja. Tadi kamu memeluknya sekarang kamu minta mengatarnya, aku ini suaminya apa bukan sih.?" Calvin tersenyum.


"Seharusnya kamu tidak pulang dari amerika agar aku dan Tania menikah." Jawab Raka sambil mendorong Tania di kursi roda.


"Terserahlah Raka, yang penting aku sudah bahagia dengannya sekarang."


Setelah memasuki ruangan dokter Tania sudah berbaring dan terlihat seoramg perawat memberikan jeli diatas perutnya dan barulah dokter tersebut mengerakan alat usg di atas perutnya. Sambil tersenyum dokter itu menatap Tania yang sedang gugup dengan hasilnya USG.


"Selamat yah."


"Aku hamil dok.?"


"Benar sekali." Jawab dokter tersebut.


Tania tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya dia langsung mengelus perutnya sambil tersenyum. Calvin dan Raka sedang menunggu diluar sama-sama gugup menunggu hasil pemeriksaan Tania.


"Suaminya nyonya Tania."


"Iya dok." Sahut Raka.


"Biarkan aku merasakan jadi menjadi suaminya hanya sebentar saja boleh.?"


"Boleh sekali, ntar aku laporin sama Julie kelakuanmu."


"Baiklah sana masuk." Raka mendorong tubuh Calvin masuk kedalam ruangan tersebut.


Calvin masuk dengan perasaan gugup, Tania tersenyum menatapnya.


"Suami nyonya Tania yah?"


"Iya dok."


"Selamat sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah." Dokter tersebut menjabat tangan Calvin.


"Serius.? kamu hamil sayang.? secepat ini.? terima kasih Tuhan." Sambil memeluk Tania air mata Calvin jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


"Iya sayang aku hamil."


"Terima kasih dok."


"Jangan lupa untuk datang kontrol kembali kondisi kesehatan istrimu dan calon bayi anda. Jangan lupa minum obatnya nyonya Tania."


"Iya dok aku akan rajin memeriksakan kandugannya." Jawab Calvin sambil berdiri merangkul Tania keluar dari ruangan tersebut.


Diluar ruangan Raka juga masih duduk sambil membalas chat dari Julie untuk memberi tahu kondisi Tania.


"Bagaimana hasilnya.?" Tanya Raka memegang tangan Tania.


"Aku hamil ka."


"Selamat yah Tan, ayah akan selalu menjagamu disini nak." Raka mau mengelus perut Tania tapi tangannya ditepis oleh Calvin.


"Raka.., bisa tidak kamu jangan memegang tangan istriku..! Dan jika kamu ingin mempunyai anak menikahlah dengan Julie"


"Baiklah kak Calvin." Wajahnya Raka langsung cemberut.


"Ayo pulang sayang, tidak lama lagi kita akan menjadi sangat bahagia dengan kehadiran bayi kita." Calvin berbicara keras seperti ingin mendengarkan kepada Raka kebahagiaan mereka.


"Tak perlu keras-keras bicaranya." Raka langsung pergi meninggalkan mereka.


"Hahaha cemburu yah." Teriak Calvin.


"Sayang kasian Raka."


"Biarin, biar dia tahu diri untu tidak mengganggumu."


"Dia itu adikmu"


"Walupun adiku tapi dia tidak boleh menyentuhmu."


Calvin dan Taniapun pulang dengan rasa bahagia sambil merangkul Tania dipinggang dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2