
"Sayang, malam ini kamu tidur dirumah mami saja, aku sudah menghubungi mami memberi tahu keadaanmu. Aku akan lembur malam ini, tidak mungkin aku akan meninggalkanmu di apartemen seorang diri." Cakra masih duduk disampingnya.
"Tidak mau mas, aku ingin bersamamu." Clara memasang muka cemberut sambil memeluk Cakra. Entah mengapa perasaan kali ini tidak ingin jauh-jauh dari suaminya itu.
"Aku janji setelah selesai dengan pekerjaanku aku akan menemuimu. Malam ini kamu akan pergi memeriksakan kandunganmu bersama mami, maaf mas nggak bisa mengantar kamu."
"Mas kok gitu sih sama aku, hiks.. hiks..hiks.." Clara kembali merengek. Akhir-akhir ini dia sangat sensitif, emosinya sangat labil bahkan terkadang dia menangis walaupun hanya karena hal sepele tapi Cakra tidak pernah mengetahuinya.
"Sayang please, aku mohon, aku janji akan menemuimu setelah itu." Cakra sudah mulai terpancing emosi menghadapi sifat Clara yang sangat manja tidak seperti biasanya.
Clara hanya berdiam dan memalingkan wajahnya, air matanya kembali jatuh di kedua pipinya. Cakra yang melihat kelakuan istrinya itu hanya bisa mengelus-ngelus dada berusaha untuk tetap sabar menghadapi Clara.
"Sayang, kamu makan yah.., biar sedikit saja makanan masuk kedalam perutmu agar tenagamu cepat pulih." Cakra sudah memegang makanan ditangannya bersiap untuk menyuapi Clara.
"Aku belum lapar mas.." Clara masih memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Ayolah sayang, ini demi kebaikanmu." Cakra masih setengah memaksa tetapi sebenarnya dia juga kesal melihat tingkah Clara hari ini.
"Baiklah." Clara sudah membuka mulutnya berusaha untuk menelan makanannya.
Sudah beberapa suap masuk kedalaman mulut Clara.
"Mas, berhenti, aku mau muntah." Benar saja, Clara memuntahkan semua makanannya di badan Cakra yang tepat berada didepannya.
"Astaga Clara, kenapa kamu tidak bisa mengontrolnya siih.., lihat ini..., baju mas kotor semua...!" Cakra setengah membentak dan melepaskan bajunya. Kini dia hanya mengunakan kaos dalam. Tapi bisa terlihat jelas badannya yang six pack dan putih.
"Bukan begitu maksudnya mas, Mas sungguh minta maaf kepadamu. Mas janji tidak akan membentakmu lagi." Cakra kali ini harus benar benar ekstra sabar menghadapi Clara.
Mengapa dengan dia yah Tuhan berikan aku kesabaran lebih menghadapi anak ini. Cakra berusaha tetap tersenyum.
"Mas akan mengantarkan kamu pulang kerumah mami yah.., mas akan mengadakan rapat lagi jadi tidak mungkin aku akan meninggalkanmu disini."
__ADS_1
"Terserahlah." Clara hanya pasrah tapi sebenarnya dia hanya ingin berada disamping Cakra saat ini.
Cakra mengangkat tubuh Clara berjalan sampai kedalam mobil. Semua mata tertuju kepada mereka bagaikan kisah-kisah yang ada disebuah sinetron bergenre romantis. Cakra yang berjalan hanya memakai kaos dalam membuat para wanita berdecak kagum melihat tubuhnya.
"Sisakan aku laki-laki seperti itu Tuhan." Seru seorang karyawan wanita yang terhanyut dalam keromantisan yang dibuat oleh Cakra. Suaranya masih bisa terdengar jelas di telinga Cakra.
Sampai didalam mobil Cakra menjatuhkan tubuh Clara dengan hati-hati.
Clara hanya diam menatap keluar jendela. Air matanya kembali jatuh entah apa yang sedari tadi dia risaukan. Cakra yang melihat ekspresi Clara hanya bisa ikut terdiam karena dia sudah tidak tahu akan berbuat apa lagi. Cakra yang fokus mengendarai mobilnya dan tiba-tiba saja telponnya berdering dia melihat ke layar hpnya. Ternyata itu panggilan dari Fely. Clara juga bisa melihat nama itu karena kebetulan hpnya disimpan disampingnya. Perasaan Clara menjadi tambah sedih karena Cakra tidak mengangkat telpon dari Fely, dia berpikir Cakra menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mengapa mas tidak mengangkatnya? Apa mas tidak ingin aku mengetahui isi pembicaraan kalian..?" Ucap Clara sambil meneteskan air mata entah sudah berapa kali dia menangis hari ini.
"Aku malas membahasnya Clara, jadi tolong jangan bertanya lagi." Cakra tidak menatap Clara.
Clara memegang dadanya yang terasa sesak, isak tangisnya kembali terdengar.
__ADS_1