
Masakan telah siap di meja, Clara begitu bersemangat melihatnya. Cakra memasak makanan nusantara ada Sayur lodeh, udang asam manis, ikan goreng gurame dan tidak lupa dia membuat sambal sebagai pelengkap.
"Woowww....kamu benar-benar hebat mas. Aku tidak percaya kamu bisa membuat semua ini." Clara sudah duduk dimeja makan sambil memandang satu-persatu menu makanan yang ada diatas meja.
"Apa kamu hanya ingin menatapnya..? Ayo makan" Clara dengan cepat mengumpulkan semua lauk kedalam piringnya.
"Hehehe ternyata kamu sangat lapar yah.." Cakra tersenyum melihat tingkah Clara.
"Heeemm kebangetan laparnya mas." Clara membalas senyuman Cakra.
"Wow, rasa udang dan ikan guramenya persis seperti rasa masakan di resto-resto ternama..Hey, apa mas Cakra harus kupanggil chef Cakra saja?" ucap Clara takjub usai mencicipi masakan Cakra. Sekali lagi ia tidak percaya kalau Cakra benar-benar pandai memasak.
Selesai makan mereka bersama-sama membereskan dapur dan mencuci piring.
"Aku tidak menyangka anak orang kaya sepertimu bisa masak dan sangat pandai dengan urusan dapur."
"Itu hal biasa, memasak adalah hobiku." Cakra sudah membersihkan tangannya dan semuanya terlihat rapi seperti semula.
Ting...tong.. Bunyi bel apartemen Cakra.
"Biar aku yang membukakan pintu mas." Clara berjalan untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Siapa yang datang Clara..?" Cakra berteriak dari dapur tapi Clara tidak menjawab. Akhirnya Cakra menuju ruang tamu untuk melihat tamu yang datang ke apartemennya.
"Clara siapa yang da... ?" Cakra menghentikan langkahnya setelahnya melihat orang yang berdiri didepannya.
"Fely...? kamu..? Cakra seakan kehabisan kata-kata melihat kedua wanita yang sedang berdiri didepannya.
"Mas aku akan masuk kedalam kamar.." Ucap Clara yang akan melangkah.
"Tunggu...., mas ingin kamu tetap berada disini." Cakra menahan tangannya.
"Fely, silahkan duduk. Ada apa kamu mencariku.?" Cakra dan Clara duduk berdampingan. Terlihat Clara begitu gugup sebenarnya dia tidak ingin mencampuri urusan mereka berdua.
"Mas, sebaiknya aku pergi saja agar kamu leluasa berbicara dengan mba Fely." Clara kembali berdiri dari tempat duduknya.
"Clara...? Duduk, jangan pergi dari sini tanpa izinku....!" Cakra sudah meninggikan nada bicaranya hingga membuat Clara duduk kembali.
"Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu bicarakan aku rasa kamu boleh pergi." Cakra juga bertahan dengan prinsipnya. Cakra dan Fely terlihat sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah. Sifat inilah yang membuat hubungan mereka hancur walaupun sebenarnya mereka sangat serasi dan saling mencintai.
"Okey, aku akan pergi, Aku akan menunggumu di***** nanti jam 9 malam. Jika kamu tidak datang jangan harap kamu bisa melihatku lagi di dunia ini!" Felysha langsung pergi tanpa berpamitan kepada mereka.
"Mas seharusnya kamu jangan seperti itu kepadanya. Dia hanya ingin berbicara baik-baik kepadamu. Aku sungguh tidak ingin mencampuri urusan kalian berdua." Clara melihat Cakra yang masih emosi.
__ADS_1
"Tahu apa kamu tentang dia, aku tidak menyukai jika kamu tidak cemburu melihatku bersama wanita lain." Cakra sudah berdiri dari tempat duduknya dan masuk kedalam kamar. Clara masih berpikir dengan kata-kata Cakra barusan.
"Maksudnya mas Cakra apa? aku benar-benar tidak mengerti." Clara berlari mengikuti Cakra dari belakang sampai didalam kamar.
"Kamu pikir saja sendiri." Cakra sudah berbaring ditempat tidur.
"Tapi mas.. " Clara menarik tangannya hingga tubuhnya jatuh kedalam pelukan Cakra.
"Clara, berjanjilah kamu tidak akan meninggalkanku.." Cakra membelai rambut Clara dengan lembut.
"Mengapa aku yang harus berjanji mas?"
"Karena kamu itu masih muda dan sangat labil. Kamu sadar tidak kalau kamu itu sangat cantik. Lelaki manapun pasti ingin memilikimu."
"Kamu itu sangat tampan dan kaya raya mas.. wanita manapun juga ingin memilikimu. Apalah dayaku mas, aku hanya wanita biasa buka seperti mba Fely yang cantik, berpendidikan dan mempunyai karir cemerlang. Kalian terlihat sangat serasi."
"Clara, bisa tidak kamu jangan membahasnya sekarang....!
"Baiklah mas.." Clara mencium pipi Cakra agar amarahnya tidak semakin meledak.
Cakra kaget dengan perlakuan Clara yang untuk pertama kalinya genit padanya. Cakra tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Clara padanya. Dia kembali menyatukan tubuh mereka dengan langkah pertama membungkam mulut Clara dengan penuh kelembutan.
__ADS_1