
Pagi ini Tania terbangun seperti biasanya, dia langsung melompat dari tempat tidurnya berlari keluar kamarnya.
"Tania...., apa yang kamu lakukan..?" Tanya kakaknya yang aneh melihat Tania sepagi ini langsung sepanik itu.
"haah..? aku..?" Tania melihat sekelilingnya tenyata dia ada dirumahnya. Pagi hari saat dirumah Calvin dia selalu terbangun kaget karena tidak ingin Calvin marah kepadanya karena telat mengurusnya.
"Aneh..!" Ucap kakaknya lalu meninggalkannya didepan pintu kamarnya.
"Aku didunia nyata sekarang, sadar Tania." Tania balik lagi masuk kedalam kamarnya.
Tania kembali merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya karena itulah kebiasannya saat berada dikamar.
"Pagi ini aku terbangun dalam zona nyaman, semuanya indah tanpa ada kamu didalamnya., inilah yang kamu inginkan Tania jadi mengapa kamu harus bersedih. Dari dulu keinginanmu adalah ingin lepas darinya.., tapi mengapa saat dia melepaskanmu hati ini terasa begitu sakit." Guman Tania dalam hatinya.
Tok..,tok..,tok.., Suara ketukan pintu kamarnya.
"Tania.., kamu sudah bangun..?" Suara ibunya diluar pintu.
"Iya bu.., ada apa..?"
"Bisa keluar sekarang..!"
"Ada ap..a bu.." Tania membuka pintu.
__ADS_1
"Tania.., maafkan aku..!"
Tania menutup pintu kamarnya kembali, setelah melihat orang yang yang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Mau apa dia datang kesini..? aku membencimu Calvin."
"Tan., Tania.., aku mohon untuk terakhir kalinya aku berbicara kepadamu. Aku janji setelah ini aku tidak akan menganggumu lagi.., please Tania." Calvin masih mengetuk pintu kamar Tania.
Didalam kamar Tania duduk dibalik pintu, dia kembali menangis. Sebenarnya dia ingin sekali memeluk Calvin untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi ke Amarika tetapi setelah dia ingat-ingat kalau Calvin akan bersama dengan Jenifer hatinya kembali hancur.
"Tuan muda kita akan ketinggalan pesawat." Kata Rey dari balik pintu kamarnya.
"Tania aku akan pergi, tolong jaga dirimu dengan baik. Aku mencintaimu Tania. Aku janji akan berubah lebih baik lagi sesuai dengan permintaanmu. selamat tinggal Tania" Suara parau Calvin akhirnya hilang dan tinggal kesunyian yang berada dibalik pintunya.
"Rey semoga keputusanku ini tidak salah, aku hanya tidak ingin mereka terluka karenaku."
"Keputusan yang sangat tepat tuan, aku yakin nyonya Clara dan tuan Cakra sangat bangga dengan anda sekarang ini."
"Aku berharap begitu Rey.." Calvin menyandarkan badannya. Orang tuanya juga turut mengantarnya dan berada dimobil pribadi papinya.
Sampai dibandara Calvin langsung masuk karna ini panggilan yang ketiga kalinya untuk dirinya.
"Mami, Papi aku menyanggi kalian." Calvin memeluk mami dan papinnya satu persatu.
__ADS_1
"Mami akan merindukanmu anak manja..." Mami Clara terlihat sedih dengan kepergian anak tunggalnya.
"Mami berhenti berkata seperti itu." Kata Calvin cemberut didepan maminya.
"Jadilah pria sejati nak, papi juga akan merindukanmu." Papi Cakra kembali memeluknya.
"Cepat lari.., kamu akan ketinggalan pesawat."
"Oke.., Love You."
"Rey.., aku akan mengalahkan kamu jika aku kembali.." Teriak Calvin.
"Aku menunggu waktu itu tuan muda." Rey melambaikan tangannya, matanya terlihat berkaca-kaca melihat Calvin pergi
"Rey.., relakan dia pergi. Aku tahu kamu sedih tapi biarkan dia belajar mandiri.." Ucap papi Calvin sambil memegang pundak Rey.
"Iya Tuan Cakra." Mata Rey masih barkaca-kaca., tak muda merelakan orang yang setiap saat bersama kita pergi begitu saja, pada saat itu kita sudah mulai menganggap dia lebih dari sahabat.
"Baiklah, sekarang pulanglah, besok kamu kembali kekantor pusat."
"Baik, terima kasih atas kebaikan kalian tuan dan nyonya." Rey menundukkan kepalanya.
"Kami juga sangat berterima kasih kepadamu, jika kamu tidak ada, aku tidak yakin dia masih bisa berjalan saat ini." Kata mami Clara pada Rey.
__ADS_1
"Hehehe." Rey hanya tersenyum.