
"Clara..?" Pelukan rindu dari Hana.
"Hana..? Aku merindukanmu.." Clara membalas pelukan dari Hana.
"Han, akhirnya aku mengingat hari pernikahanku dengan mas Cakra."
"Syukurlah bebs, aku ikut senang. Semoga kedepannya kamu bisa mengingat semuanya. Aku punya kabar buruk untukmu.." Hana memandang sahabatnya itu.
"Kabar apa..?" Jawab Clara penasaran.
"Aku akan melanjutkan kuliahku di luar negeri bebs, jadi mungkin kita akan jarang bertemu atau sama sekali tidak bertemu untuk beberapa tahun kedepannya."
"Jadi kamu akan meninggalkanku..? Dan dia..? Bagaimana hubunganmu dengannya..? Aku mendengar dia sangat sangat menyukaimu."
"Bryan..?" Tanya Hana lagi.
"Hemm.." Clara hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku menolaknya, aku belum siap menikah muda bebs, dia ingin aku menikah dengannya sedangkan aku masih mencintai pendidikan dan karirku. Kalau kami berjodoh pasti akan bertemu kembali dan aku tidak mau ada ikatan jadi biarkan berjalan seperti air yang mengalir."
"Itu pilihanmu Han, semua tergantung kamu. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu. Dan aku..? Aku pasti kesepian." Clara sudah bersandar dipundak Hana.
"Aku akan menunggumu disana..." Hana mengelus kepala Clara dengan lembut.
"Kakakmu itu kadang terlalu berlebih, keluar rumah saja tidak bisa apalagi mau pergi ke luar negeri pasti akan menjadi masalah besar."
__ADS_1
"Memang seperti itu sifatnya, jika dia sudah sayang kepada seseorang hal sekecil apapun menjadi rumit baginya tapi aku yakin kamu akan bahagia bersamanya."
"Siapa yang menabrakku Han..? Apa pelakunya sudah ditemukan..?"
"Heeemm, sudah."
"Siapa..? Apa aku mengenalinya..?"
"William.., dia pelakunya."
"Astaga Han, kenapa itu bisa terjadi, Aku tidak pernah menyangka dia akan melakukan ini kepadaku. Pantas saja Cakra sangat membencinya."
"Bukan hanya sangat membencinya bahkan dia bisa saja membunuhnya untung saja papi bisa mengontrol emosinya."
"Andai ingatanku bisa cepat pulih pasti mas Cakra akan sangat bahagia."
"Hana, kok aku jadi mewek sih.." Clara kembali memeluk Hana.
"Aku juga bebs."
Setelah lama bercerita mereka makan malam bersama kedua orang tua Cakra.
"Clara, kamu tidur disini saja malam ini. Cakra juga belum pulang, lagian ini sudah sangat malam." Ucap papinya Cakra.
"Iya pi, Clara akan tidur disini soalnya bi Iyam juga sudah tidur dikamarnya."
__ADS_1
"Mami, papi..? Mana istriku." Cakra datang dan mencium mami Anita dan langsung mencium Clara.
"Eh, kau sudah pulang nak, mami kira besok baru pulang."
"Nggak mampu menahan rindu mi, hehehe." Cakra kembali mencium Clara.
"Idiih.. mas Cakra belum berubah juga, ini tempat umum tahu.!" Hana memandang geli melihat kakaknya.
"Makanya nikah sono.." Cakra meledek adiknya itu.
"Hahahaha..." Mereka tertawa secara bersamaan.
Setelah selesai makan, Cakra langsung mengangkat Clara dari tempat duduknya dan akan membawanya ke dalam kamarnya.
"Ciiih... mas Cakra itu berlebihan sekali seperti orang yang pertama kali jatuh cinta." Hana memasang muka kesal melihat kakaknya yang seperti mempertontonkan kemesraannya kepadanya sedangkan Clara hanya bisa tersenyum malu kepada seisi rumah dengan tingkah laku Cakra.
"Nikah sono Han, biar kamu ngerasain gimana rasanya jatuh cinta." Teriak Cakra yang sudah melangkah meninggalkan meja makan.
"Huuuu.. dasar pameeer." Hana kembali berteriak.
Sampai didalam kamar Cakra langsung menjatuhkan tubuh Clara dengan pelan. Dia kembali mencium istrinya itu dari kening sampai kebagian lehernya. Cakra ******* mulut Clara dengan lembut dan Clara membalasnya dengan lembut.
"Aku merindukanmu sayang, jangan pernah bosan untuk melakukan ini setiap hari. Baru melihatmu saja aku sudah bernafsu apa lagi menyentuhmu itu, bisa membuatku gila jika tidak melakukannya." Bisik Cakra ditelinganya.
"Aku juga mencintaimu mas, dan aku tidak akan pernah bosan melakukannya walaupun kita sudah keriput bersama."
__ADS_1
"Hahaha... pikiranku belum sampai disitu Clara."