Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
Suamiku Bosku, two part 50


__ADS_3

"Muaachh." Kecupan lembut di pipi Tania dari seseorang dibelakangnya yang sempat membuatnya terkejut sesaat lalu kembali tersenyum lebar setelah siapa yang dia lihat saat membalikan tubuhnya kebelakang.


"Sayang..?" wajah Tania berseri-seri melihat Calvin dibelakangnya.


"Kok kaget.? akukan sudah bilang mau datang? Ucap Calvin sambil duduk disampingnya sedangkan Raka dan Julie merasa tersaingi dengan Calvin.


"Kirain nggak datang, kita udah hampir pulang karena lama nungguin kamu."


"Nih aku ada disini sekarang sayang."


"Sayang mau pesan minuman?" Tania sudah memberikan Calvin daftar menu yang ada dalam cafe itu.


"Tidak perlu, hanya ingin menemin kamu." Calvin langsung mengangkat rambut Tania yang menutupi puncak kepalanya lalu mengecupnya dengan lembut dengan sedikit lama.


"Kita nggak di anggap sejak tadi Juli." Ucap Raka melihat mereka bermesraan didepannya sedangkan Calvin lupa jika ada dua bocah duduk dihadapan mereka.


"Pacar kamu.?" tanya Calvin melihat Julie.


"Iyalah masa pacar orang aku bawa-bawa."


"Akhirnya dapat juga pujaan hatimu." Calvin sambil menyodorkan tangannya kepada Julie.


"Calvin." Calvin memberitahu namanya.


"Aku tahu nama kakak., Aku Julie." Sahut julie sambil terseyum.


"Kamu tahu aku.?" Calvin merasa heran apa dia pernah kenal dengan Julie sebelumnya.


"Siapa sih yang nggak tahu kak Calvin disekolah dulu." Jawab Julie masih tersenyum melihat Calvin yang sudah banyak berubah. Dulu jangankan menjabat tangan orang melirik orang saja seakan jijik baginya.


"Oh iya lupa, teman SMA Tania dulu yah." Calvin akhirnya bisa mengingat kembali wajah Julie.


Agak lama mereka bercanda dikafe itu dan akhirnya merekapun berpisah dengan saling berpelukan satu sama lain. Raka dan Julie sudah pulang lebih awal, dengan melambaikan tangan Tania melihat mereka dengan senyuman kebahagiaan akhirnya sahabatnya itu bisa jadian.


"Sayang aku bawa mobil., kamu balik aja kekantor." Tania memegang tangan Calvin keluar dari kefe.


"Kita pulang barengan aja sayang."


"Tapi mobilku.?"

__ADS_1


"Nanti aku suruh Rey akan mengambilnya disini.?"


"Kuncinya ada sama aku." Tania menggoyangkan kunci didepan Calvin.


"Kunci serepnya ada dengan Rey, jangan kwatir semua bisa di atur."


"Baiklah."


Calvin mengeluarkan hpnya dari saku celananya dan terlihat berbicara dengan Rey lalu dia memasukan kembali hpnya kedalam sakunya.


"Ayo pulang.?


"Rey bilang apa.?" Tania mengikat rambutnya ke atas hingga terlihat lehernya yang putih itu dari belakang.


"Kamu mengodaku.?" Calvin bisa melihat leher putih Tania yang biasa dia tepelkan stempel kepemilkan sehingga leher Tania memerah karenanya.


"Mengoda.?" Tanya Tania bingung.


"Nanti di rumah kalau mau mengodaku, ini tempat umum." Calvin membuka kembali ikatan rambut Tania hingga lehernya tertutup kembali dengan rambut panjangnya yang agak bergelombang dibagian bawah.


"Hehehe maaf." Tania hanya tertawa kecil melihat Calvin.


Calvin mempercepat langkah kakinya sambil menarik tangan Tania masuk kedalam mobil. Tak lupa dia memasangkan seat bell dibadan Tania. Calvin langsung melaju tanpa pikir panjang dan terlihat beberapa kali Calvin mengoda Tania dengan mengelus-ngelus tangan Tania dengan lembut mengisyaratkan sesuatu yang dia inginkan kepada Tania lalu melanyangkan senyuman penuh arti kepadannya.


"Sebentar lagi aku akan menerkamu di ranjang kesayangan kita." Calvin terlihat penuh hasrat sejak kedatangannya dikafe melihat Tania.


"Aku lagi dapet.?" Jawab Tania sambil terkekeh.


"Dapet.? Calvin berusaha mencerna ucapan Tania.


"Aku lagi datang bulan." Tania memperjelasnya.


"Ahh...! Calvin langsung memukul stir mobilnya karena kesal.


"Maaf sayang, aku nggak tahu kalau hari ini datang bulan."


"Kamu kok nggak bilang kalau lagi datang bulan sayang."


"Lupa, biasanya kamu nggak minta main pada siang hari." Jawab Tania polos.

__ADS_1


"Tapi aku lagi ingin sekarang." Calvin terlihat lesu, apa yang dia pikirkan sejak dikantor hilang seketika.


"Mau di apa lagi.? nggak mungkin kan kita lakuin saat masih datang bulan." Jawab Tania pasrah.


"Ya udah, aku antar kamu. Aku akan balik ke kantor, aku ada meeting."


"Katanya tadi nggak sibuk.?" Tanya Tania ragu.


"Sekarang sibuk." Jawab Calvin datar tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya dimana nafsunya sudah memuncak sampai diatas kepala.


"Kamu nggak akan lakuin itu dengan sekretaris baru yang seksi itukan.?" Tania memperhalus ucapnya agar Calvin tidak marah padanya.


"Bisa jadi." Jawab calvin asal-asalan masih dengan suasana hati yang buruk.


Tania hanya terdiam dia tidak berbicara lagi setelah itu. Calvin menoleh ke arahnya terlihat buliran bening mengalir keluar dari matanya sambil melihat ke arah jendela berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya mendengar ucapan Calvin.


"Aku tidak serius dengan ucapanku, aku tidak melakukannya dengan orang lain selain dirimu. Jika aku mau sejak dulu aku melakukanya saat diluar negeri ataupun masih disini begitu banyak wanita yang mau aku setubuhi diklup malam yang lebih seksi dan cantik dari sekretaris itu. Aku ingin mendapatkan wanita perawan makanya aku akan menjaga diriku agar wanitaku juga mendapatkan aku masih perjaka."


Tania menarik nafas panjang, tangisannya sudah terdengar keras dan tidak mampu membalas perkataan Calvin.


"Maafkan aku menyakitimu setiap saat Tania." Calvin menarik tangan Tania menggenggam erat tangannya.


Sampai diparkiran apartemen Tania keluar dan menutup pintu mobil Tanpa berpamitan kepada Calvin berjalan meninggalkan Calvin yang masih berada didalam mobil.


Tania masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur masih membayangkan Calvin dengan wanita itu sedang wik wik diruangan Calvin.


"Jangan dibayangkan., aku akan memecatnya jika kamu tidak menyukainya."


"Sayang.? bukannya kamu mau balik kekantor ada meeting.?" Tania terkejut melihat Calvin berdiri didepan pintu kamar.


"Aku batalkan., mana mungkin aku tega meninggalkan kamu dengan kondisi seperti ini." Calvin juga ikut merebahkan tubuhnya disamping Tania lalu meletakan tangannya diatas perut datar Tania.


Tania akhirnya tersenyum puas melihat Calvin berada disampingnya.


"Aku tidak sebrengsek seperti yang kamu pikirkan. Aku mencintaimu jadi aku tidak akan berpikir untuk melakukan dengan orang lain selain kamu." Sambil mengecup kening Tania dengan lembut.


"Terima kasih sayang." Tania membalas pelukan Calvin.


"Tapi disini bolehkan.?" Calvin menunjuk bibir tipis Tania.

__ADS_1


"Hemm boleh."


Akhirnya Calvin hanya mengecup bibir Tania dengan lembut dalam waktu yang lama.


__ADS_2