
Tring..tring..tring bunyi bel apartemen.
Tania berjalan membuka pintu.
"Tumben datang." Tania berdiri menatap laki-laki didepannya.
"Aku mau masuk." Jawab Raka langsung menggeser Tania dari pintu kemudian berbaring di sofa.
"Ada apa dengan wajahmu.?" Tanya Tania.
"Julie mau menikah.?" Jawab Raka sambil mengisap sebatang rokok.
"Hei..jangan merokok dekat istriku..!" Calvin datang dan mengambil rokok dari tangan Raka dan mematikannya.
"Syukurlah akhirnya kalian mau menikah." Ucap Tania.
"Bukan dengan aku, dia dijodohkan." Jawab Raka sambil menutup matanya.
"Apa.? kok bisa.?" Tania tercengang.
"Bisalah, wanita mana yang mau bertahan dengan anak bodoh seperti dia." Ucap Calvin kepada Raka.
"Kak, aku butuh solusi." Ucap Raka.
"Kamu datang pada orang yang tepat. Cepat berdiri..!" Ucap Calvin.
"Solusinya apa.?"
"Aku bilang cepat berdiri...!"
Rakapun berdiri mengikuti arahan dari Calvin.
"Terus apa lagi.?" Tanya Raka.
"Ikuti aku..!" Ucap Calvin.
"Sayang mau kemana.?" Tanya Tania.
"Kamu tunggu disini sayang, aku akan mengajarinya bagaimana cara memperjuangkan cinta yang sesungguhnya." Jawab Calvin sambil mencium puncak kepala Tania.
"Kak kita mau apa? Aku tidak ingin kakak berbuat gila." Ucap Raka.
"Kamu mau Julie menikah dengan orang lain.?"
"Tidak kak."
__ADS_1
"Ikuti saja aku, aku yakin ini akan berhasil."
Raka dan Calvin pergi meninggalkan Tania. Perasaan Tania tidak tenang memikirkan karena takut Calvin akan berulah lagi.
"Jika kamu sudah besar, jangan ikuti sifat papamu nak." Gumam Tania sambil mengelus perutnya yang sudah agak membesar.
Calvin melajukan mobilnya dengan mengikuti petunjuk dari Raka menuju rumah Julie. Raka belum tahu apa yang akan diperbuat kakaknya nantinya. Sampai didepan rumah yang cukup besar Calvin menarik nafas perlahan seperti sedang ingin berangkat berperang.
"Ini rumahnya kan.?" Tanya Calvin.
"Iya, tapi apa yang akan kita lakukan kak.?""
"Sudah jangan banyak bertanya pokoknya kamu hanya menjawab iya, jika mereka bertanya."
"Perasaanku jadi tidak enak kak Calvin.".
"Jangan jadi laki-laki lemah Raka, pantas saja Tania tidak terpikat kepadamu."
"Huu." Raka menjadi kesal melihat Calvin.
Mereka berdiri didepan gerbang rumah Julie, Raka berdiri agak jauh dan hanya Calvin yang berbicara kepada satpam tersebut. Tak lama kemudian seorang satpam membukakan mereka pintu gerbang.
"Apa yang kak Calvin katakan?" Tanya Raka.
"Diamlah, cukup siapkan dirimu." jawab Calvin.
"Raka, itu papanya Julie.?"
"Aku tidak tahu, aku belum pernah ketemu sama papanya."
"Gila, mukanya seram banget. Kenapa kamu nggak bilang kalau kalau papanya seperti itu. Aku tidak yakin kita keluar hidup-hidup dari sini."
"Kita pamit pulang aja kak." Ucap Raka setengah berbisik.
"Aku juga berpikir begitu Raka."
"Ehemm." Suara papanya Julie.
"Eh om, maaf kami salah alamat." Jawab Calvin terbata-bata.
"Kenapa bisik-bisik.? Duduk...! Tidak ada yang boleh pergi." Ucap papanya Julie kepada mereka.
Sial kak, kita teperangkap.
Mau bagaimana lagi... kita harus lanjutkan misi ini. Bisik Calvin kepada Raka.
__ADS_1
"Anu om, Julie ada.?" Tanya Calvin.
"Mau apa kalian mencari anakku.? Dia akan menikah. Jadi tidak ada yang boleh menemuinya selain calon suaminya." Jawab papanya Julie sambil memegang kumisnya.
"Aku kehabisan kata-kata Raka, sumpah baru kali aku ketakutan seperti ini menghadapi seseorang." Bisik Calvin ke telinga Raka.
"Apalagi aku kak, perasaanku sejak tadi sudah tidak enak."
"Ohh..kalau begitu kami pamit pulang om." Raka sudah berdiri dan hendak menjabat tangan papanya Julie tapi papanya Julie menyuruh mereka duduk kembali.
"Kita belum selesai, apa permasalahan kalian sampai berani datang kerumah ini.?" Ucap papanya Julie.
Raka terlihat menarik napasnya dengan panjang lalu memgumpulkan keberaniannya untuk berbicara.
"Saya pacarnya Julie om, maksud kedatangan saya ingin melamar Julie om. Saya sangat mencintai anak om, dan saya tidak ingin dia menikah dengan orang lain selain aku." Ucap Raka tegas, terlihat dahinya berkeringat saat berbicara.
"Berani sekali kamu datang melamar calon istri orang..! Pokoknya Julie akan menikah dengan Dimas." Jawab papanya Julie tegas.
Raka terlihat putus asa mendengar perkataan papanya Julie, dia tidak tahu lagi mau berkata apa.
"Pergi dari sini..!" perintah papanya Julie.
"Kak ayo kita pergi." Bisik Raka kepada Calvin.
"Ahh.. kamu jadi laki-laki jangan terlalu lemah, pokoknya pantang pulang sebelum bonyok. Itu prinsip laki-laki sejati Raka." Bisik Calvin.
"Maksud kak Calvin..? kakak jangan gila dan berbuat aneh.!" Ucap Raka sambil berbisik.
Papanya Julie sudah terlihat sangat marah melihat dua anak yang bisa dibilang masih sangat muda saling berbisik didepannya.
"Maaf om sebenarnya Julie sedang hamil..! Ucap Calvin tegas tanpa ragu.
"Apa..? Teriak Raka bersama papanya Julie secara bersamaan menatap Calvin.
Prakk... pukulan keras mengenai wajah Calvin dari papanya Julie dan mengangkat kerak bajunya.
"Kamu berani sekali kamu menghamili anakku yah..?" Ucap papanya Julie terlihat sangat marah.
"Bukan aku yang menghamili om, tapi adiku." Jawab Calvin sambil menunjuk Raka disampingnya.
"Apa.? bohong om, kakak-" Belum selesai Raka berbicara diapun kena tonjokan keras diwajahnya dari papanya Julie.
Merekapun duduk di sofa dengan wajah lebam dan seperti kehabisan nafas.
"Kak, apa kamu mau kita mati bersama."
__ADS_1
"Setidaknya ini berhasil bodoh.!" Jawab Calvin sambil memegang wajahnya yang masih terasa sakit.