
Setelah mendapatkan pukulan beberapa kali yang cukup keras diwajah Calvin dan Raka akhirnya papanya Julie membatalkan rencana pernikahan anaknya. Papanya Julie langsung menelfon kedua orang tua Dimas dan juga menelfon orang tua Calvin dan Raka untuk datang mengambil anaknya dan membicarakan pernikahan Raka dan Julie.
Julie sudah datang menemui mereka dan mengompres wajah Raka. Calvin mengompres wajahnya sendiri karena Julie hanya fokus kepada Raka.
"Ahhh sial, aku korban cinta kalian disini." Ucap Calvin melihat Raka dan Julie.
"Makasih yah kak Calvin, karena kamu, aku dan Raka bersatu kembali." Jawab Julie sambil tersenyum.
"Jangan senang dulu, aku dan Raka akan bonyok untuk kedua kalinya jika orang tahu kami datang." Ucap Calvin.
Papanya Julie datang kembali menemui mereka. Julie langsung berhenti mengompres wajah Raka dan terlihat duduk tenang bersama mereka.
"Sebentar lagi orang tua kalian datang, Julie sudah menjelaskan semuanya dan aku percaya anak om tidak akan melakukan hal seperti itu. Lain kali kalau ingin memperjuangkan cinta jangan bertindak ***** seperti tadi. Maafkan om sudah membuat muka kalian lebam." Ucap papanya Julie kepada mereka.
"Sial, seharusnya tadi aku berbicara baik-baik, ahhh..... mengapa ini sakit sekali, gigiku hampir copot." Gumam Calvin dalam hati masih terlihat meringis.
"Selamat sore pak." Seru seseorang dari depan pintu.
"Papi..? Ucap Calvin
"Papa..?" Ucap Raka.
"Silahkan duduk." Ucap papanya Julie.
"Kalau tidak salah anda Tuan Cakra dan dr. Bryan yah..? Jadi mereka anak kalian." Ucap papanya Julie sambil menjabat kedua tangan orang tua mereka.
__ADS_1
"Maafkan anak-anak kami pak, aku akan memukul mereka karena sudah sangat keterlaluan dan sudah lancang menemui anda." Ucap Bryan kepada papanya Julie.
"Ah tidak apa-apa. Hanya ada kesalahan komunikasi saja."
Setelah lama berbincang-bincang kedua orang tua mereka akhirnya berjabat tangan dan berpamitan untuk pulang. Rakapun bisa tersenyum bahagia karena dia akan menikah dengan Julie, papa Bryan yang langsung melamarkan Julie kapada orang tuanya.
"Sini kamu..! Lain kali papi masukin kekantor polisi kamu. Bisa tidak satu hari saja kamu jangan berulah Calvin? Jadi kamu bangga dengan sebutan pria sejati dengan muka seperti itu..!" Bentak papi Cakra kepada Calvin dan mereka sudah ada dirumah orang tua Calvin.
"Papi, Calvin sedang kesakitan seharusnya papi membawa aku kerumah sakit bukan dimarahi."
"Seharusnya papi menyuruh papanya Julie untuk mukulmu lagi dan mengeluarkan semua gigimu itu. Kamu itu membuat malu papi saja...!"
"Maafkan Calvin pi, tapi ini demi Raka. Coba lihat, kalau bukan pertolongan dari Calvin pasti Raka tidak akan menikah dengan Julie." Ucap Calvin.
"Sana pulang, Tania sedang mengkhawatirkanmu."
"Obati wajahmu lalu masuk kantor kembali."
"Terima kasih pi, Calvin sayang papi." Calvin langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk papinya.
"Jangan ngebut, hati-hati nak." Ucap papi Cakra kepada Calvin.
"Oke pi, salam sama mami." teriak Calvin.
"Kapan kamu akan dewasa Calvin." Ucap papi Cakra didepan pintu melihat kepergian Calvin.
__ADS_1
Setelah sampai dirumah Calvin memakai masker untuk menutupi lebam diwajahnya agar Tania tidak melihatnya.
"Aku pulang sayang." Ucap Calvin penuh bahagia setidaknya dia masih hidup sampai sekarang dan bisa bertemu Tania lagi.
"Mengapa kamu memakai masker sayang?" Ucap Tania.
"Aku lagi Flu sayang, jangan dekat-dekat, nanti kamu dan bayi kita tertular."
"Apa.? perasaan saat pergi tadi kamu masih baik-baik saja."
"Oh itu, aku tiba-tiba flu ditengah jalan saat pulang."
"Bohong! pasti ada sesuatu dengan wajahmu." Tania langsung menarik masker yang menutupi mulut dan hidung Calvin.
"Calvin, wajahmu..? Astaga aku bisa gila kalau begini." Tania langsung duduk disofa. Dia masih terkejut melihat wajah suaminya.
"Maafkan aku sayang." Calvin duduk disampingnya sambil mencium tangannya.
"Kamu mau membuatku menjadi janda muda..?" Ucap Tania dengan nada tinggi.
"Aku janji tidak akan berbuat aneh lagi. Aku tidak ingin kamu menikah dengan orang lain jika aku meninggal."
"Ah.. aku bosan mendengar janjimu." Tania langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintu.
"Tania, maafkan aku." Ucap Calvin dari balik pintu.
__ADS_1
"Tidak akan aku maafkan!" Teriak Tania dari dalam kamar.
"Ahhh.. mengapa ini bertambah sakit." Ucap Calvin memegang wajahnya.