Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
Suamiku Bosku two, part 46


__ADS_3

Tak selamanya gelap itu menakutkan mungkin itulah yang terjadi dalam menjalani rumah tangga. Tak selamanya permasalahan itu menyakitkan, terkadang kita bisa lebih dewasa dengan masalah itu.


Calvin masih berusaha mengetuk pintu kamar nya berharap Tania mau membukakan dia pintu.


"Tring..tring.. bel apartemennya berbunyi.


Dengan ragu Calvin melangkahkan kakinya membuka pintu.


*Men*gapa harus ada tamu disaat seperti ini? ucapnya kesal sambil berjalan membuka pintu.


"Mami..? ada perlu apa mami datang kesini." Ucap Calvin terkejut melihat kedatangan maminya.


"Ada perlu apa.? memangnya mami nanti ada perlu baru datang mengunjungimu..!" Mami Clara langsung menerobos masuk tanpa menunggu anaknya mempersilahkan dia masuk.


"Mana Tania.?" mami Clara langsung duduk di sofa didepan televisi.


"Dia tidur didalam kamar mi, mungkin dia kelelahan." Ucap Calvin berbohong.


"Kalian bertengkar?" Mami Clara langsung menghakimi Calvin yang duduk disebelahnya.


"Ahhh...mami bisa aja bercandanya. Mana mungkin aku dan Tania bertengkar, kan mami tahu kalau kami saling mencintai." Calvin salah tingkah didepan maminya. Mengapa maminya bisa menebak secepat itu.


"Berbohong itu tidak baik Calvin, itu apa.?" mami Clara menunjuk gelas kaca yang sudah hancur berkeping-keping berserakan dilantai.


"Oh, itu... anu mi, aku.." Calvin langsung terbata-bata bicara didepan maminya.


"Kamu apakan lagi anak orang Calvin..? aduh mami pusing mengatur hidupmu deh. Kamu itu sudah menjadi kepala keluarga, belajarlah untuk dewasa. Mami nggak tahu kalau mami dan papi udah enggak ada bisa hancur hidupmu. Mami juga heran, mengapa juga Tania bisa menerima anak yang kekanak-kanakan kayak kamu sih." Ucap mami Clara dengan setengah emosi kepada Calvin.


"Iya aku yang salah mami, ini masalah ibunya Tania. Aku takut jika dia akan melakukan hal sama kepadaku mi." Calvin hanya menundukkan kepalamu.


"Kalau Tania nanti sampai minta cerai, jangan minta tolong pada mami dan papi untuk menyelesaikan masalahmu." Mami Clara langsung beranjak dari tempat duduknya dan mendekati pintu kamar Tania.


"Tan, ini mami sayang. Bisa mami masuk.?" Ucap mami Clara sambil mengetuk pintu kamar.


"Tania..?" Mami Clara kembali memanggil Tania sedangkan Calvin juga ikut berdiri dibelakang maminya.


Kreek..Tania membuka pintu.

__ADS_1


"Iya mi, maaf." Tania keluar dari dalam kamar dengan matanya masih sembab. Bisa terlihat jelas raut wajahnya yang sedih.


"Mami mau bicara. Boleh.?" Kata Clara lembut sambil memegang pundak Tania.


"Iya mi, boleh." Mami Clara mengikuti Tania berjalan sampai ketempat tidurnya.


"Aku juga masuk yah mi." Ucap Calvin juga mengikuti mereka.


"Tania, mami dan papi sudah mengetahui semuanya. Kamu tidak perlu takut kepada kami karena mami dan papi tidak pernah memandang kamu berasal dari keluarga manapun asalkan kamu baik itu sudah lebih dari cukup untuk kami. Dulu mami juga dari keluarga broken home tapi untung saja mami ketemu papi Cakra dan dia bisa membuat hari-hari mami menjadi indah bahkan mami dulu tidak tahu memasak tapi itu bukan alasan untuk kita bertengkar." Clara sedikit menceritakan kisah hidupnya.


"Benarkah mami, ternyata papi sangat romantis." Tania sudah mulai tersenyum bercakap kepada mertuanya. Calvin juga bisa tersenyum walupun Tania tidak memandang sejak tadi.


"Tapi yang mami sesalkan mengapa kamu harus bertemu laki-laki seperti dia Tania." Mami Clara menyindir Calvin.


"Mami, aku ini anakmu..?" Ucap Calvin cemberut.


Tania masih tidak menoleh kearahnya yang duduk di ujung tempat tidur padahal sudah berapa kali Calvin melayangkan senyumannya tapi Tania sedikitpun tidak menoleh ke arahnya.


"Mami mohon, kamu harus sabar menghadapinya Tania. Dia tidak sedewasa kamu, jangan menjadikan perceraian adalah untuk menyelesaikan masalah. Mami ingin kalian hidup rukun seperti mami dan papi. Memang berat untukmu menghadapi sifat Calvin yang egois. Tapi mami yakin kamu bisa melewati ini semua." Mami clara memeluk Tania.


"Sayang aku minta maaf." Calvin mendekati Tania.


"Selesaikan urusan kalian dengan baik-baik. Mami mau pulang, ini sudah malam, nanti papimu akan mencari mami."


"Iya mi, aku akan mengantar mami." Tania berdiri mengikuti mami Clara berjalan kepintu keluar.


"Terimakasih sayang, kamu hanya perlu bersabar. Dia anak yang baik hanya saja sifatnya terkadang seperti itu." Ucap mami Clara dan langsung pergi meninggalkan Tania yang masih melihatnya berdiri didepan pintu.


Tania kembali masuk kedalam kamar, Calvin sudah berbaring disana. Dia tahu Calvin sedang menunggunya. Saat didepan pintu kamar Tania membalikkan badannya dan keluar dari area kamar.


"Sayang aku minta maaf." Ucap Calvin sudah memeluknya dari belakang.


"Lepaskan Calvin, aku lagi ingin sendiri." Ucap Tania sambil melepaskan tangan Calvin dari tangannya.


"Kamu tidak mencintaiku lagi.?" Ucap Calvin pelan.


"Tidak!" Jawab Tania singkat.

__ADS_1


"Sayang, kamu masih sangat marah kepadaku? Kalau begitu aku tidur di sofa saja!" Calvin pura pura melangkah berharap Tania menahannya.


"Baguslah jika kamu sadar diri." Ucap Tania masih ketus. Sepertinya dia masih sangat marah kepada Calvin.


Calvin tidak menyangka Tania akan mengatakan seperti itu. Sedangkan Tania sudah menutup pintu kamarnya.


Belum beberapa menit Tania masuk kedalam kamar. Tiba tiba terdengar suara teriakan Calvin dari luar kamar. Dengan cepat Tania membuka kembali pintu kamarnya dan dia fokus melihat tangan Calvin yang berdarah.


"Sayang tanganmu berdarah? apa yang kamu lalukan sampai tanganmu sampai berdarah begini." Kata Tania panik lalu memegang tangan Calvin.


"Aku memungut serpihan kaca yang ada dilantai." Calvin terlihat santai dan masih ingin memungut serpihan tersebut.


"Kalau tidak bisa kamu kerjakan jangan dilakukan. Lihat tanganmu jadi sakit seperti ini." Kata Tania langsung memegang tangan Calvin yang berdarah.


"Yang sakit disini Tania, hatiku sakit mendengar kamu tidak mencintaiku lagi." Calvin memegang dadanya.


"Jangan bergurau sayang, sini aku bersihkan kaca itu dari tanganmu." Tania sudah menarik Calvin duduk di sofa.


"Aku tidak bergurau, aku sengaja melakukan ini. Aku ingin lihat apakah kata-katamu benar tidak mencintaiku lagi." Calvin masih penasaran dengan jawaban Tania sedangkan Tania sudah mengeluarkan beberapa kaca dari tangan Calvin.


"Ada juga laki-laki sepertimu di dunia ini, mengapa kamu menyakiti dirimu hanya ingin menguji cintaku?" Tania terlihat panik dan kesal melihat Calvin.


"Jawab dulu, kamu benar tidak mencintaiku lagi..?"


"Jangan pernah menyakitiku lagi." Ucap Tania tanpa menoleh ke arahnya karena fokus membersihkan sisa-sisa darah dari tangan Calvin.


"Aku minta maaf soal itu, aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi." Calvin mengangkat kedua jarinya untuk berjanji.


"Terima kasih." Ucap Tania.


"Kamu benar tidak mencintaiku lagi Tania?"


"Aku masih mencintaimu Calvin, mana mungkin aku tidak mencintai laki-laki bodoh sepertimu." Ucap Tania.


Calvin langsung mencium bibir Tania dengan lembut. Tania melepaskan ciumannya.


"Sayang, tanganmu masih sakit." Ucap Tania.

__ADS_1


"Kamu lebih penting dari tanganku." Calvin kembali menjatuhkan tubuh Tania di atas sofa panjang dan mulai menciumi Tania secara perlahan dengan lembut hingga terdengar suara Tania mendesah pelan setelah mereka sudah jauh bermain di atas sofa tersebut.


Hai..Hai..jangan lupa like, komen dan berikan Votenya yah..! Terima kasih sudah mampir novel ini. Happy reading readers.


__ADS_2