
"Non Clara aku akan menelfon sopir dirumah Nyonya untuk datang menjemput kita." Bi Iyam sudah memegang hpnya.
"Nggak usah Bi, kita naik angkot saja, sekalian Clara ingin jalan-jalan, Sepertinya aku ingin mengulang masa-masa SMAku.., setiap pulang sekolah aku dan William pulang naik angkot bersama."
"Non, jangan menyebut nama itu nanti tuan Cakra bisa marah."
"Mas Cakrakan sedang tidak berada disini, jadi kalau dia sampai tahu berarti Bibi yang memberi tahu. Oke bi berangkat kita..!"
"Non Clara, non Clara, mengapa tuan Cakra bis menikahi anak-anak seperti dia. Tapi tak apalah dari pada non Fely yang aku layani pasti aku tidak akan sedekat ini dengan majikanku." Bi Iyam sudah berjalan mengikuti langkah kaki Clara dari belakang.
Mereka sudah Berada didalam angkot.
"Bi Iyam tahu rumah orang tua Cakra..?"
"Tenang saja non, non Clara nggak bakalan hilang karena Bibi lahir dan dibesarkan disini."
"Oh...iya baguslah. Bibi sejak kapan kerja dirumah orang tua mas Cakra..?"
"Sudah lama sekali non sampai bibi lupa kapan bibi mulai kerja pertama kali. Suami Bibi bekerja sebagai sopir pribadinya tuan Cakra dan non Hana, sedangkan Bibi sebagai pembantu non."
__ADS_1
"Hana..? Kok bisa dia dan mas Cakra..?"
"Hana itu adiknya tuan Cakra, dan kita akan pergi kerumah mertuanya non Clara sekalian bertemu dengan Hana."
"Benarkah Bi..? aku sangat senang mendengarnya, bisanya aku melupakan hal sekecil itu. Jangan-jangan aku pernah bertemu dengan orang tuanya mas Cakra..?
"Iya non, sebelum kecelakaan non Clara tinggal dirumah orang tua tuan Cakra. Saat itu non Clara sedang hamil muda karena tidak ada yang menemani non Clara diapartement jadi non tinggal dalam waktu yang lama dirumah mertuanya non Clara."
"Hamil bi..? Aku hamil.? dan anakku dimana..?"
"Non Clara keguguran, astaga mengapa Bibi bisa bilang semua kepada non Clara padahal tuan Cakra melarang Bibi untuk memberi tahu segalanya kepada non Clara. Aku akan di pecat non, tolong jangan bilang ini kepada tuan Cakra."
"Sudahlah tidak apa-apa lagian aku tidak bisa mengingat semuanya, aku malahan senang bibi ada disini menemaniku setiap hari dan menceritakan semuanya kepadaku jadi aku tidak berfikir negatif lagi kepada mas Cakra. Terimakasih bi." Sebenarnya Clara terlihat sedih setelah mendengar dia pernah keguguran.
"Non Clara sudah sehat yah, syukurlah bapak juga ikut senang melihatnya." Pak satpam menundukkan kepalanya dan tersenyum kepada Clara.
"Iya terimakasih pak." Ucap Clara sepertinya berusaha berfikir mengenal orang yang menegurnya.
"Dia mengenalku Bi."
__ADS_1
"Hehehe iya non, siapa sih yang nggak kenal Non Clara dirumah ini.."
"Hehehe iya juga yah.." Clara mengaruk kepala dan masih bingung dengan semuanya.
"Clara sayang..?" Mami Anita menyambutnya dengan pelukan. Sedangkan Clara hanya tersenyum berusaha akrab.
"Iya tente," Kata Clara polos.
"Kok tante..? Mami donk sayang."
"Hehehe iya mami.." Clara masih tersenyum bingung sambil memandang semua isi ruangan ini."
"Aku ingat tempat ini Mami, seperti tidak asing bagiku..? Hana ada..?"
"Mami senang kamu datang sayang, Cakra itu sekarang terlalu overprotektif terhadap kamu, mau ketemu sama anak mantu saja susah banget, katanya kamu nggak bisa diganggu dulu, nggak bisa capeklah, nggak bisa ditanya-tanya tapi setidaknya Mami senang kamu bisa ingat suami kamu sayang." Ucap Mami Anita masih dengan senyuman bahagianya.
"Iya mi maafkan Clara, karena Clara semua orang jadi repot."
"Jangan bicara begitu sayang, malahan mami senang karena kamu Ckara akhirnya punya semangat hidup lagi, eh mami lupa menyuruh kamu untuk duduk. Tunggu mami panggilkan Hana dulu dikamar."
__ADS_1
"Iya mi.." Clara terlihat berfikir keras, dia melihat ada foto pernikahan dirinya dengan Cakra yang berukuran besar terpajang didinding rumah orang tua Cakra.
"Aku ingat, aku akhirnya ingat.. terimakasih tuhan. Aku mengingat hari pernikahan kami. Aku ingat saat malam pertama itu hahaha, saat itu aku masih malu-malu. Yah ampun mengapa semalam aku yang begitu agresif kepadanya pantas saja dia kaget dengan tingkahku." Clara seperti mendapatkan sebuah emas yang turun dari langit sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya menahan malu pada dirinya sendiri.