Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
Suamiku Bosku two, part 53


__ADS_3

Saat matahari sudah mulai terbenam, Tania berjalan menyisiri pantai dengan memakai baju yang Calvin berikan dengan muka cemberut bahkan beberapa kali dia menghentakkan kakinya di pasir itu karena kesal kepada Calvin. Calvin yang berada dibelakangnya mengikuti kakinya melangkah tersenyum puas melihatnya memakai baju yang kebesaran ditubuhnya.


Tania langsung berhenti berjalan dengan menyilangkan tangannya didadanya. Bibirnya bergoyang kesana kemari memaki kecil kepada Calvin tapi bisa terdengar jelas apa yang dia katakan.


"Tau begini kita nggak usah liburan."


"Dimana kebebasanku?"


"Pokoknya aku nggak mau lagi keluar kamar."


"Bagus dong, jadi kita bisa terus-terusan main diatas ranjang." Calvin sudah berada dibelakangnya dengan melingkarkan penuh tangannya diperut datar Tania.


"Awas, aku nggak mau dipeluk sama kamu..!" Tania langsung melepaskan tangan Calvin dan hendak berjalan lagi meninggalkan Calvin tapi tangganya ditarik oleh Calvin hingga tubuhnya berada dalam dekapan Calvin.


"Kamu tambah manis jika marah seperti ini." Calvin langsung mencium bibir tipisnya. Tangannya sudah masuk kedalam baju Tania mencari sesuatu yang bisa membuat hormon **** Tania muncul dan bisa melupakan amarahnya kepada Calvin.


Cukup lama mereka berciuman dengan pemandangan yang begitu indah karena sunset bisa terlihat jelas dari tempat mereka berdiri.


"Masih marah..?" Tanya Calvin.


"Aku lagi ingin." Jawab Tania.


"Tumben." Jawab Calvin


"Entahlah, kalau habis marahan aku pengennya main."


"Berarti tiap hari kita marahan supaya kamu pengen main terus sama aku." Ucap Calvin sambil menatap Tania yang melingkarkan tangannya dileher Calvin.


"Pulang kehotel yuk." Tania melepaskan tangannya lalu melangkah pergi.

__ADS_1


"Aku lagi ingin disini." Ucap Calvin masih berdiri ditempatnya .


"Calvin aku lagi ingin banget nih..!" Teriak Tania. Calvin hanya tertawa dia begitu lucu melihat Tania yang memaksanya minta main dengannya.


"Aku ingin mainnya disni."


"CALVIN...!" Tania berteriak.


"Iya.., iya.., aku ingin tiap hari kamu seperti ini." Ucap Calvin lalu mengendong tubuh Tania berjalan menuju hotel.


//////


Selepas liburan mereka kemudian balik lagi dengan rutinitas mereka yang sangat padat. Tania hari ini akan maju ujian akhir dan Calvin begitu tegang menunggunya diluar ruangan tempatnya ujian.


Tania keluar dengan mata berkaca-kaca, dia langsung memeluk Calvin dan Julie juga berada disitu tak luput dari pelukannya.


"Sangat memuaskan." Jawab Tania.


"Akhirnya sayang, selamat yah." Kelvin langsung mengecup pucuk kepala Tania dengan lembut.


"Selamat Tan." Julie juga memeluk Tania.


"Kamu juga, harus berjuang besok." Sahut Tania.


"Pastinya Tan." Jawab Julie.


/////


Di atas ranjang menjadi tempat favorit bagi mereka berdua. Tempat ini bisa membuat amarah mereka meredam, tempat ini tempat merupakan mengeluarkan uneg-uneg mereka, tempat ini menjadi menjadi saksi bahwa cinta mereka abadi dan hanya ajal yang dapat memisahkan.

__ADS_1


"Sayang, sudah waktunya kamu bertemu dengannya."


"Siapa.?" sahut Tania menatap Calvin.


"Ibumu. Nyonya Felysha."


"Aku belum siap."


"Sampai kapan kamu akan menemuinya."


"Aku juga tidak tahu."


"Aku dengar dengar dari Rey dia sedang sakit keras."


Suara Tania langsung meredup, dia tidak bisa membayangkan orang membuangnya itu bisa membuat hatinya sedikit bergetar menahan rindu. Dengan sedikit egois Tania berusaha menahan amarahnya untuk tidak mengatakan rindu pada wanita yang telah melahirkannya itu.


"Demi melahirkan kamu dia rela dibuang oleh keluarganya. Dia mempertahankan kamu Tania setidaknya dia tidak ingin mengugurkan kamu yang berada dalam rahimnya saat itu."


"Tapi dia membuangku Calvin. Kamu tidak tahu rasanya jika jadi diriku, bukannya itu sama saja dia tidak menginginkan kelahiranku di dunia ini."


"Aku tidak memaksamu sayang, aku tidak ingin kamu menyesalinya karena tidak bisa merawatnya dihari tuanya yang sudah sakit-sakitan. Andai kamu bisa mengerti perasaannya menahan semua malu dan rindu kepadamu pasti kamu akan langsung memeluknya dan memberikan sedikit kebahagiaan itu." Kata-kata Calvin mampu membuat air mata Tania mengalir deras disampingnya.


"Aku tahu kamu rindu. Hanya saja kamu terlalu malu mengatakan itu padanya." Seru Calvin kembali.


"Aku...aku kira kamu tidak menyukainya sayang." Ucap Tania dalam isak tangisnya.


"Aku tidak sejahat yang kamu pikirkan, aku hanya ingin kamu bahagia Tania." Calvin mendekap erat Tania seakan dia ikut merasakan kesedihan mendalam yang ada dalam lubuk hatinya.


"Iya, aku ingin menemuinya." Ucap Tania sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2