
Di cafe, Julie duduk sambil berlinang air mata. Dia terus menangis tanpa mampu berbicara sejak kedatangannya. Beberapa orang menatap mereka dan ada juga yang melihat tidak suka ke arah Raka karena membiarkan seorang wanita menangis pikir mereka. Raka hanya bisa memandangnya dalam waktu yang lama dan membiarkan dia berhenti menangis tanpa bertanya alasannya menangis.
Setelah cukup lama dia menangis barulah Raka berbicara.
"Sudah.?" Ucap Raka.
Julie menggelengkan kepalanya.
"Menagislah. Aku masih setia menunggumu berbicara." Ucap Raka kembali.
"Kapan kamu melamarku.? Kamu tidak serius dengan hubungan ini.?"
"Ayolah Jul, ini tidak lucu, aku masih menyelesaikan pendidikanku. Bukannya kita sudah sepakat untuk menikah jika kita sama sama berada diposisi yang aman.?"
"Iya aku tahu, tapi orang tuaku akan menjodohkan aku dengan anak teman mereka." Ucap Julie masih menangis.
"Serius kamu.? Papaku belum mengizinkan aku menikah muda Julie."
"Kamu bohong, Tania kamu ajak menikah waktu itu. Kamu tidak mencintaiku Raka. Kamu hanya kasihan padaku kan? Jawab!"
"Julie, aku.... Bisa kita membahas yang lain." Jawab Raka.
"Sekarang aku sadar, dihatimu hanya ada Tania kan.? Aku bukan siapa-siapa untukmu dan tidak lebih dari seorang sahabat." Julie langsung pergi meninggalkan Raka.
Setelah kepergian Julie, Raka mengambil sebatang rokok dan menghisapnya.
///////
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Julie masuk kedalam kamarnya dan menangis sepuasnya. Perasaannya kembali terasa sakit.
Tok..tok..tok.. suara ketukan pintu.
"Julie..? Kamu baik-baik saja didalam..?" Suara mamanya terdengar dari balik pintu.
"Iya ma, i'm oke." Jawab Julie menahan tangisnya agar mamanya tidak mendengarkan dia menangis.
"Mama masuk yah.?"
"Nggak perlu ma, aku lagi ingin sendiri."
Krekkk.. pintu terbuka.
"Kamu kenapa sayang.?" Tanya mamanya.
"Ma, aku setuju dijodohkan dengan Dimas." Jawab Julie sambil memeluk mamanya.
"Aku mau kok ma, tapi tolong dipercepat pernikahan ini."
"Benar kamu mau? Mama akan memberi tahu papa kabar bahagia ini."
"Iya ma, aku sayang kalian." Julie masih mengeluarkan air mata.
"Tapi mengapa kamu masih menangis Julie?"
"Aku bahagia ma, aku terharu karena akan menikah. Ini mata bahagia ma." Jawab Julie berbohong.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, mama tinggal yah, mama mau ketemu papa."
Mamanya langsung pergi meninggalkan Julie yang masih bersedih dan tampak ragu dengan keputusan yang dia ambil.
"Biarkan ini sakit, aku tidak akan mengharapkan apa-apa lagi darimu Raka." Gumam Julie sambil memukul bantal yang ada disampingnya.
"Julie, papa memanggilmu." Seru mamanya dari depan pintu.
"Iya ma."
Julie berjalan menemui papanya diruang keluarga. Papanya memiliki kumis tebal dan bisa dilihat dari penampilannya papanya sangat tegas dan menakutkan bagi orang yang pertama kali melihatnya.
"Mengapa menangis..?" Tanya papanya tegas.
"Aku bahagia pa, mau nikah." Jawab Julie tanpa menatap papanya yang sedang memegang kumisnya.
"Baguslah, jangan berani menangiskan laki-laki, awas kamu...!"
"Iy..Iya pa." Jawab Julie ketakutan karena memang saat ini dia sedang menangisi Raka.
"Kamu sudah yakin mau menikah dengan Dimas..?"
"Iya pa aku yakin."
"Kalau yakin mengapa jawabnya tidak bersemangat begitu.?"
"Iya pa Julie yakin." Jawab Julie tegas dan menegapkan badannya.
__ADS_1
Sekedar info yah papa Julie adalah seorang Jendral Militer jadi agak rada-rada tegas begitu. Bisa dibayangkan jika Raka berhadapan dengan papanya Julie pasti dia akan kencing dicelana karena melihat kumisnya yang tebal belum lagi dengan gertakannya.
Terimah kasih telah mampir dan meluangkan waktu berharga kalian untuk membaca guys, salam kenal dari author 'Vani'.