
"Maafkan aku Tania.." Calvin manatap pungung Tania yang sudah menjauh dari pandangannya.
"Sayang..? kamu kenapa..? aku lihat kamu tidak bahagia aku berada disini..?"
"Aku lelah Jen, boleh aku pulang..? nanti malam aku akan menemuimu.."
"Tidak mau..! pokoknya sekarang kamu menemaniku jalan-jalan seharian.., aku akan ikut bersamamu jika kamu mau pulang.!"Jen masih memeluk Calvin.
Tidak mungkin dia ikut bersamaku.., pasti dia akan bertanya mengapa Tania bisa tinggal bersamaku.
"Baiklah..Jen."
"Jen, Jen dan Jen lagi...! panggilanmu berubah sayang. Dulu tidak pernah kamu memangilku seperti itu, apa kamu lupa dengan sebutan sayangmu kepadaku..? bukannya kita sudah janjian untuk memangil dengan sebutan itu..?" Jen berdiri menatap Calvin yang menurutnya begitu aneh sekarang.
"Oke sa..yang.." Masih terdengar kaku.
"Kak Rey, ayo berangkat. Kita ke mall sekarang."
"Iya nona muda." Pangillan Rey kepada Jenifer.
Dilain tempat Raka dan Tania duduk didepan danau buatan, Tania melempar batu kedalam danau untuk menghilangkan rasa kecewanya.
"Tan, menangislah jika kamu ingin, pundakku siap menjadi tempat sandaranmu." Raka menunjuk pundaknya.
"Tidak Raka, aku baik-baik saja, mataku hanya perih karena anginnya terlalu kencang disini." Air mata Tania jatuh perlahan membasahi kedua pipinya.
"Tidak ada angin disini Tania, suasana begitu tenang.., aku tahu kamu." Raka belum menghabiskan kata-katanya.
"Raka...,hiks..hiks..hiks.." tangisan Tania lansung terdengar keras dia bukan hanya bersandar Tapi dia sudah memeluk Raka dengan erat.
__ADS_1
"Raka aku bodoh iyakan..?" Tanya Tania.
"Tidak Tan." sembari mengelus rambut Tania dalam hatinya dia sangat senang bisa memeluk Tania.
"Bohong, kamu pasti berpikiran begitu. Aku bodoh karena mencintai dia walaupun aku sudah tahu bahwa dia sudah mempunyai kekasih padahal ada orang yang setia mencintaiku tapi aku hanya berpaling kepada orang lain." Tania membenamkan wajahnya didada Raka.
"Aku tidak memaksamu Tan, aku rela walaupun hanya jadi sandaranmu dan pelampiasan kemarahanmu.."
"Maafkan aku Raka, aku sangat egois. Kamu terlalu baik untuk tersakiti."
"Kamu juga begitu Tan, kamu terlalu barharga untuk diduakan."
"Biarkan aku memelukmu seperti ini untuk beberapa saat, maafkan aku Raka."
"Aku ingin selamanya kamu berada dipelukanku Tania." Guman Raka dalam hati.
"Tan, hpmu berdering." Kata Raka melihat hp Tania yang berada disampinya.
"Siapa..?"
"Calvin.."
"Biarkan saja dia, aku lagi tidak ingin bicara dengannya." Tania sudah melepaskan pelukannya dan menatap kosong danau didepannya.
Bip..bip..bip.. pangilan telfon yang kedua tapi kali ini milik Raka.
"Hallo..?" Kata Raka pada Calvin dalam pangillan telfonnya.
"Mana Tania..?"
__ADS_1
"Dia bersamaku."
"Aku mau bicara dengannya..."
"Tan, kak Calvin mau bicara." Raka memberikan hpnya kepada Tania tapi Tania hanya mengelengkan kepalanya.
"Kak, dia lagi tidak ingin bicara denganmu.."
Calvin langsung menutup telfonya setelah mendengar perkataan dari Raka.
Dimall Rey menunggu mereka diparkiran, sedangkan Calvin dan Jenifer sedang makan bersama.
"Jen, mengapa kamu tidak memberintahuku jika ingin datang.." Calvin hanya memutar-mutar sendoknya dimakanannya seperti tidak berselera sama sekali.
"Kalau aku bilang, itu bukan kejutan lagi sayang.., lalu apa salahku sampai kamu terlihat marah seperti itu....? kamu tidak selingkuhkan..?"
"Ahh sudahlah aku malas membahasnya., aku lelah. Selesai makan aku akan mengantarmu pulang."
"Baiklah., jangan lupa untuk mengemas barang- barangmu, minggu depan kita berangkat ke Amerika.."
"Secepat itu Jen..? aku belum siap..!"
"Apa yang salah dengan kamu Calvin..? kamu berubah, dulu kamu ingin sekali ke Amerika bersamaku tapi sekarang kamu.."
"Kalau hanya ingin bertengkar lebih baik aku pulang Jen.." Calvin sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Oke, oke, setidaknya habiskan makananmu sayang." Jenifer menarik tangannya duduk kembali.
"Baik." Jawab Calvin singkat dengan lesu.
__ADS_1