Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
BAB 41 Suamiku Bossku


__ADS_3

Tiba di depan sebuah gerbang yang tinggi Cakra membunyikan klakson mobilnya beberapa kali. Seorang satpam membuka pintu gerbang dan tersenyum kepadanya sedangkan maminya sudah berdiri di teras rumahnya menunggu kedatangan mereka. Clara masih sangat lemas untuk berjalan. Cakra turun dan membukakan Clara pintu mobil. Clara masih terpaku ditempat duduknya dan tatapannya kosong.


"Ayolah sayang jangan membuatku menjadi serba salah seperti ini." Cakra akhirnya kembali mengangkat tubuh Clara menuju kamarnya yang berada dilantai dua rumah maminya. Sedangkan Clara masih saja terdiam.


Maminya hanya menunggu dilantai bawah, dia tidak ingin mencampuri urusan anaknya itu. Cakra membaringkan Clara dikamarnya


saat dia masih tinggal dirumah maminya. Kamar ini sudah lama tidak terpakai tapi masih sangat bersih karena pembantu dirumahnya tiap hari membersihkannya.


"Sayang aku pergi, kalau kamu butuh apa-apa kamu bisa menelpon mengunakan telpon rumah, ini akan terhubung ke bagian asisten rumah tangga yang ada dirumah ini." Cakra mencium kening Clara yang duduk bersandar ditempat tidur.


"Mas, janji tapi kamu langsung pulang yah.., Aku nggak mau kamu menemuinya lagi." Clara memeluk tubuh Cakra dengan erat.


"Iya sayang aku janji, tapi kamu harus makan yah.., nanti aku menyuruh bi Nina mengantar makan kesini." Cakra mengelus lembut kepala Clara.


"Iya janji aku akan makan." Clara akhirnya mengeluarkan senyumannya.


"Clara sayang..?" Ucap Cakra lembut.


"Iya mas ada apa..?"


"Bisa lepaskan pelukannya..? Bagaimana aku mau pergi jika kamu masih terus memelukku."


"Hehehe lupa mas." Clara akhirnya melepaskan pelukannya.


Cakra sudah melangkah pergi mendekati pintu kamar.


"Mas...?" suaranya terdengar manja.

__ADS_1


"Ada apa lagi sayang..? Cakra membalikkan badannya melihat Clara.


"Ini.." Clara menunjuk bibirnya pertanda ingin mendapatkan ciuman dari Cakra.


Cakra terseyum melihat Clara dan kembali mendekati Clara. Cakra mencium bibir Clara dengan lembut.


"Sudah puas.." Ucap Cakra.


"Belum" Clara menggelengkan kepalanya.


"Disini, disini, dan disini." Clara menunjuk keningnya, pipi kanan dan pipi kiri.


Cakra akhirnya melayangkan ciuman ditempat yang ditunjuk oleh Clara.


"Ummma, ummma, ummmma." Bunyi kecupan Cakra.


"Aku juga mencintaimu sayang." Cakra akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Clara.


Tok.. Tok..Tok.. Suara ketukan pintu..


"Iya masuk.."


"Clara..mami membawakan kamu bubur dan sup hangat." Mami Anita sudah duduk disampingnya.


"Mami Clara jadi nggak enak, mami sudah repot-repot membawakan makanan kesini."


"Nggak apa-apa sayang, kamu sudah mami anggap sebagai anak kandung mami jadi jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kepada mami."

__ADS_1


"Makasih mi."


Mami Anita menyuapi Clara secara perlahan.


"Mi aku mau muntah..!" Clara langsung berlari kekamar mandi dia tidak ingin kejadian seperti tadi akan terulang.


"Clara, atau kita kedokter sekarang sayang? mami takut kamu akan bertambah lemas." Mami Anita mengurut dengan pelan leher belakang Clara yang masih terus muntah.


"Iya mi." Jawab Clara lemas.


Mami Anita membopong badan Clara dibantu dengan bi Nina memegang tangan Clara menuruni tangga. Mobil telah siap, Pak joko sopir pribadi Nyonya Anita langsung melajukan mobilnya karena melihat kondisi Clara yang sudah sangat lemas. Sampai di Klinik dokter kandungan Nyonya Anita langsung Masuk Ke dalam ruangan dokter karena tadi sudah menghubungi terlebih dahulu.


"Anita, Siapa dia..?" Seru Dokter laki-laki yang terlihat sangat akrab dengan mertuanya itu.


"Menantuku..?" Jawab mami Anita singkat.


"Oke baiklah silahkan berbaring Nak." Dokter tersebut sangat akrab dengan pasiennya dan tidak lupa untuk menutup tirai. Dokter tersebut di bantu oleh perawat yang sudah mengoleskan jeli diperut Clara. Sedangkan Mami Anita menunggu dikursi tanpa menemani Clara.


"Dok, Apakah aku hamil..?" Tanya Clara dengan penasaran.


"Aku akan memeriksanya terlebih dahulu." Dokter tersebut sudah mengerak-gerakan alat diatas perut Clara.


"Selamat nak, kamu bisa melihat ini." Dokter tersebut menunjuk dilayar monitor.


"Aku hamil dok..? Apakah aku benar-benar hamil?" Clara masih tidak percaya.


"Iya, sekarang sudah memasuki usia 6 minggu. Sekarang harus lebih berhati-hati karena usia kandunganmu masih sangat muda."

__ADS_1


Clara masih terlihat tidak percaya dengan apa yang sedang dialaminya. Perasaannya masih campur aduk, tapi senyumannya bisa terlihat jelas sambil mengelus lembut perutnya.


__ADS_2