Suamiku Bossku

Suamiku Bossku
BAB 45 Suamiku Bossku


__ADS_3

"Mas, kamu ada dimana?" Suara Hana terdengar gemetar dari kejauhan.


"Ada apa Hana..? Aku sedang rapat sekarang, nanti aku akan menelponmu kembali usai rapat." Cakra hendak menutup telponnya.


"Ini tentang Clara mas..." kata Hana sambil menangis.


"Clara kenapa? Mengapa kamu menangis..? Cakra sudah mulai panik dan keluar dari ruang rapat.


"Clara mas.. hiks.. hiks.. hiks." Tangisan Hana semakin keras.


"Hana.., berhenti menangis dan jelaskan dengan jelas..!" Bentak Cakra.


"Clara.., sedang ada ruang operasi. Dia mengalami kecelakaan."


"Apa..? Hana jangan bercanda dengan ucapanmu! Katakan sekarang, kamu sedang berbohongkan..? Katakan Hana."


"Benar mas, Hana nggak bohong. Aku ada dirumah Sakit******* mas, cepatlah datang, aku sangat ketakutan." Cakra langsung menutup telpon.


Cakra memacu mobilnya dengan kencang menuju Rumah Sakit di pusat kota. Beberapa kali mobilnya nyaris menyerempet kendaraan lain. Pikirannya begitu kacau ketika selesai menerima telpon dari Hana yang memberitahu bahwa istrinya telah mengalami kecelakaan tabrak lari dan kini sedang berada di rumah sakit di pusat kota.

__ADS_1


Hana duduk berjongkok dilantai menunggu didepan kamar operasi seakan tidak pusing dengan orang yang sedang melihat penampilan yang yang begitu kacau. Bisa terlihat jelas bekas darah menempel dibaju yang dia kenakan, berulang kali dia mondar-mandir sambil mengirimkan pesan kepada orang tuanya.


"Hana...?" Teriak Cakra dari ujung lorong kamar operasi.


"Mas Cakra.." Hana memeluk kakaknya sambil menangis.


"Bagaimana keadaan Clara, Han..?"


"Aku belum mendapatkan info mas."


Tiba-tiba seorang perawat keluar dari dalam kamar operasi. Cakra langsung berdiri dari tempat duduknya dan mendekati perawat tersebut.


"Saya mau bertemu istri saya.., tolong izinkan saya masuk melihatnya!" Cakra berbicara sangat tergesa-gesa.


Tak lama kemudian, seorang dokter keluar menemui Cakra.


"Bagaimana keadaan istri saya dok...??"


"Dia selamat pak, hanya saja ia belum sadarkan diri karena mengalami pendarahan di kepala dan kondisi janinnya... maaf kami tidak bisa berbuat banyak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menolongnya tapi nyawa calon bayi anda tidak bisa diselamatkan."

__ADS_1


Cakra menangis Hanapun ikut kembali menangis.


"Bisakah aku bertemu dengannya sekarang pak??" Cakra bertanya.


"Belum bisa pak, kami akan memberi tahu bapak jika semua telah selesai dilakukan."


"Hana, Cakra..?" Panggilan dari maminya membuat mereka berdua berlari ke arah maminya dan memeluk erat tubuh maminya.


"Sabar nak, mengapa ini bisa terjadi Hana. Mamikan sudah bilang kamu harus berada disisi Clara dan jangan pernah meninggalkannya." ucap maminya.


"Ini semua salahku mi. Seharusnya aku menjaganya dengan baik." kata Hana.


"Ini semua bukan salahmu Hana, tapi ini salahku, seharusnya aku menjaganya. Sebagai suami aku sering meninggalkannya, aku hanya sibuk bekerja, aku tidak punya waktu untuk mengantar dia memeriksakan kandungannya bahkan aku tega membiarkannya pergi sendiri kekampus dengan keadaan hamil. Mami, aku sangat menyesal mengapa aku begitu bodoh." Cakra berjongkok dan memegang rambutnya karena frustrasi.


"Sudah, sudah, jangan saling menyalahkan. Mari kita berdoa yang terbaik untuk Clara." Papinya berusaha menenangkan anak-anaknya.


"Papi sudah menyuruh polisi untuk melacak mobil yang menabrak Clara. Polisi sudah berjaga untuk memeriksa semua kendaraan yang akan keluar kota jadi pelakunya tidak akan pergi jauh-jauh dari sini."


"Aku juga sudah menyuruh orangku untuk membantu melacak keberadaan pelakunya pi, Aku tidak akan membiarkan dia lolos..!" Ucap Cakra sambil mengepal kedua tangannya.

__ADS_1


TERIMAKASIH TELAH MEMBACA NOVEL INI, MOHON DUKUNGANNYA DENGAN MEMBERIKAN VOTE, LIKE DAN KOMENTAR.


SALAM KENAL YAH READERS 😊


__ADS_2