
Sekarang Tania berada didalam mobil Calvin., Calvin mambawanya menjauh meninggalkan rumahnya. Terlihat raut wajahnya sangat takut, yang dia takutkan adalah jika Calvin akan bertindak kejam kepada keluarganya. Walaupun tersiksa Tania tidak pernah sedikitpun ingin lari dari mereka karena dia pikir merekalah satu-satunya keluarga yang dia miliki.
"Kita mau kemana Vin..?" Tanya Tania gugup.
"Pulang kerumahku..!" raut wajahnya sangat merah dia terlihat sangat marah kepada keluarga Tania.
"Aku nggak mau pulang kerumahmu, aku takut kepada orang tuamu. Aku takut mereka mengatakan kalau aku menyukaimu karena harta, aku juga takut mereka tidak bisa menerimaku."
"Tania ayolah, orang tuaku bukan seperti itu. Mereka sangat baik bahkan mereka yang menyuruhku untuk membawa kamu kerumah kami. Kamu jangan takut aku akan meminta kepada mami untuk mempercepat pernikahan kita." Ujar Calvin meyakinkan Tania.
Tania hanya menganggukkan kepalanya. Setelah sekitar 40 menit perjalan merekapun sampai didepan gerbang tinggi, Tania masih ingat jelas saat pertama kali dia menginjakan kaki dirumah ini, perasaan takut itu kembali muncul tapi sekarang dia bisa lebih tenang karena Calvin sedang memegang erat tangannya saat ini, meyakinkan kepadanya bahwa semua baik-baik saja.
Sampai didalam rumah Calvin langsung masuk kedalam ruang keluarga, biasanya jam segini orang tuanya belum tidur mereka masih nonton TV bersama. Dan benar saja saat Calvin masuk mereka masih duduk di sofa, bisa terdengar suara tawa mereka memenuhi ruangan itu.
"Mami, papi aku pulang." Dengan sedikit gugup Calvin berjalan sambil memegang tangan Tania yang sedang menunduk berjalan ke tempat duduk orang tuanya.
"Tania..? astaga ini kamu nak..? kamu ternyata tumbuh jadi gadis yang sangat cantik. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa Tan." Mami Clara langsung berdiri dari tempat duduknya memeluk Tania.
"Iya nyonya ini aku." Jawab Tania gugup.
"Kok nyonya sih sayang? panggil mami mulai dari sekarang.
"Ehh iya nya, maksudku mami." Tania masih terlihat gugup beberapa kali dia salah tingkah didepan orang tua Calvin.
Papinya hanya melayangkan senyuman kepada Tania, membuat Tania lebih tambah gugup.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Kata papi Cakra kepada Tania yang masih berdiri.
"Pi, maaf menganggu kalian dijam segini. Pi maksud kedatanganku bersama Tania adalah ingin meminta restu kalian, bolehkah aku menikah dengan Tania..?" Calvin juga terlihat gugup.
"Menikah..? apa kalian yakin.? kalian masih sangat muda dan bukannya kamu tidak ingin menikah muda Vin..?" Papi Calvin terlihat mengerutkan dahinya melihat anak kecilnya meminta restu pernikahan.
"Aku yakin papi, seratus persen sangat yakin." Kata Calvin tegas.
"Bagaiman deganmu Tania., kamu sudah yakin akan menikah muda dengan Calvin.?"
"Yakin tuan." Tania terlihat sangat takut sekali, sebenarnya dia tidak yakin dengan pernikahan dadakan ini tapi karena calvin sedikit mencubit belakangnya membuatnya harus mengatakan yakin.
"Benakan papi, kami berdua sangat yakin, ayolah pi restui kami.." Calvin kali ini berpindah tempat duduk dan masuk diantara tempat duduk orang tuanya sambil memeluk papi dan maminya secara bergantian agar hubungannya dengan Tania bisa direstui.
"Hamil..? mami ini bicara apa sih.., Tania itu wanita baik-baik mana mungkin dia mau melakukannya jika belum menikah." Jawab Calvin cepat melindungi gadisnya dari serangan pertayaan aneh orang tuanya.
"Kali aja kalian sedang dirasuki setan jadi terbawa arus ke hal-hal negatif." Mami Clara sedikit lega mendengar perkataan Calvin.
"Nggaklah mami, aku masih waras. Aku akan melindungi nama baik kalian. Jadi jawabannya apa..?" Calvin kembali ke topik pertanyaan.
"Kalau aku sih yes.." kata mami Clara bersemangat.
"Kalau papi..?" Tanya Calvin melihat papinya yang masih diam.
"Kalau papi... tidak..!"
__ADS_1
"Papi..?" Mami Clara dan Calvin sama-sama melotot ke arah papinya. Sedangkan Tania masih diam seribu bahasa sejak tadi. Dia sudah bisa mempredikisi jawaban dari orang tua Calvin yang tidak menyetujuinya menikah dengan anaknya.
"Tenang, tenang.., papi belum selesai bicara. Maksud papi, papi tidak bisa jika tidak menikahkan kamu secepatnya karena papi tahu anak papi sudah sangat mencintai Tania hehehe.
"Oooh papi, membuat mami menjadi tegang saja." Mami Clara langsung megelus dadanya sedangakan papi Cakra hanya terkekeh melihat mereka begitu tegang mendengar jawabannya.
Calvin langsung berpindah tempat duduk, dia memeluk Tania dan ingin mencium bibir Tania tapi mami Clara langsung menarik bajunya hingga tubuhnya tertarik kebelakang.
"Calvin, kamu itu kebiasaan."
"Hehehe mami, maaf." kata Calvin mengaruk kepalanya sedangkan Tania hanya bisa tersipu malu.
"Mami kamu kaya nggak pernah muda aja, padahal dulu mami itu paling suka kalau papi cium ditempat umum, benarkan mami..?"
"Idihh papi tuh yang mesum, anak sama bapak sama saja.." Mami Clara langsung mengeser tempat duduknya menjauhi papi Cakra dan mukanya terlihat cemberut.
"Hehehe jangan marah sayang, papi hanya bercanda." Papi Cakra sudah memeluk mami Clara didepan mereka.
"Tania, mengapa jadi mereka yang kasmaran yah..? seharusnya kita." Calvin membesarkan suaranya agar terdengar oleh orang tuanya. Tania hanya bisa tersenyum melihat orang tuanya begitu romantis.
"Ayo sayang kita akan buat adik untuk Calvin." papi Cakra langsung berdiri dan mengangkat tubuh mami Clara menuju kamarnya.
"Papi, aku nggak mau punya adik lagi..!" teriak Calvin dari tempat duduknya. Orang tuanya hanya tertawa mendengar jawaban dari anaknya itu.
Jangan lupa tinggalkan like dan memberikan vote yah, terima kasih sudah mampir ke novel ini.
__ADS_1