
Pagi hari Clara terbangun kaget sambil memegang dadanya yang kembali berdetak cepat. Dia melihat tangan Cakra sedang memeluk tubuhnya dengan satu lingkaran. Clara meraba wajah Cakra dan turun hingga menyentuh bibirnya tanpa sengaja, seakan ada dorongan dari dalam untuk menyentuh laki-laki didepannya itu.
Tanpa sadar Clara mengecup bibir Cakra dengan lembut dan jantungnya tambah berdetak kencang kemudian dia kembali mengulangnya hingga kecupan ketiga. Clara membalikkan badannya sambil memegang dadanya.
"Ini begitu aneh, mengapa ini terasa begitu akrab bagiku.., apa dia itu..? Aku akan mencari tahu sendiri. Tapi William... mengapa dia belum menghubungiku sampai sekarang dan jangan-jangan hubunganku dengan Willi sudah berakhir." Clara akhirnya bangun dan pergi mengambil air minum didapur.
"Eh, non sudah bangun..?" Sapa seorang wanita yang kelihatan sudah berumur.
"Bibi siapa yah..? Apa aku mengenal bibi sebelumnya." Tanya Clara masih dengan pakaian tidurnya.
"Belum non, baru semalam aku datang kesini. Sebelumnya aku bekerja dirumah orang tua pak Cakra dan sekarang aku dipindahakan kesini. Non mau sarapan..? aku sudah menyiapkan dimeja."
"Aku, aku akan menunggu mas Cakra bangun dan sarapan bersama. Perkenalkan aku Clara bi, nama bibi siapa..?"
"Nama bibi, Iyam non."
__ADS_1
"Bi, jangan panggil aku non, aku juga sedang bekerja dengan mas Cakra. Jadi posisi kita sama, jadi panggil saja aku Clara."
"Maaf non Clara, bibi tidak bisa. Nanti pak Cakra marah."
"Kenapa dia harus marah, apa aku begitu spesial baginya bi..? jangan-jangan aku simpanannya yah..?"
"Hehehe tidaklah non, mana mungkin wanita secantik non Clara rela mau jadi simpanan."
"Oke selamat bekerja bi.." Clara melayangkan senyuman manisnya kepada bi Iyam. "Hehehe iya juga bi, mana mungkin itu terjadi." Clara akhirnya pergi kedapur mengambil air minum dan dia duduk dimeja makan. Dia kembali melamun berusaha mencoba mengingat sesuatu tetapi ternyata sama sekali tidak bisa terlintas diingatannya.
"Mas Cakra, maaf aku tidak memperhatikan kedatanganmu."
"Clara, kamu mau dibantu bibi Iyam untuk mandi dan membersihkan semua badanmu..?"
"Hehehe untuk apa dia membantuku mas, lagian aku bisa kok mandi sendiri. Memangnya aku anak kecil..?" Clara mengerutkan dahinya melihat Cakra yang berlebihan kepadanya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kita sarapan dan akan berangkat kekantor, tapi kalau kamu masih lelah kamu bisa istirahat dirumah nanti bi Iyam akan menemanimu."
"Maaf mas, aku akan bekerja hari ini, jadi aku akan mengikutimu kemana kamu pergi bukannya itu tugasku kan..?"
"Ayo makanlah.., lakukanlah sesuka hatimu yang penting kamu tetap berada disisiku." Cakra melahap makanannya sedangkan Clara menatapnya setelah mendengar ucapannya.
"Kamu mencintaiku mas..?" Clara kembali menanyakan perasaan Cakra kepadanya baginya itu begitu janggal.
"Clara.., aku tidak mengharapkan apa-apa lagi. Aku hanya ingin kamu tetap berada didekatku dan jangan pernah untuk pergi tanpa izin dariku.., kamu mengerti..?"
"Iya mas aku mengerti.." Clara kembali bingung.
Di kamar mandi Clara memegang perutnya ada bekas jahitan yang tidak terlalu besar dibagian perutnya. Ingin dia keluar dari kamar mandi menanyakan kepada Cakra tapi itu tidak mungkin karena Cakra tidak akan menjawabnya dengan jujur, begitu pikir Clara.
Setelah selesai mandi, Cakra sudah bersiap dengan pakaiannya menunggu Clara yang baru keluar dari kamar mandi. Clara mengenakan handuk pendek dan bisa terlihat jelas pundaknya yang putih dan kakinya yang begitu mulus. Cakra melihatnya dari atas hingga kebawah, terlihat dia menelan ludahnya dengan segera dia keluar dari kamar karena tidak mampu menahan nafsunya memandang tubuh indah Clara.
__ADS_1