Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 100


__ADS_3

"Kak Ulya" teriak Aisyah melambaikan tangan saat melihat kakaknya datang


Ulya tersenyum dan berjalan mendekat


"Assalamu'alaikum" ucap Ulya


"Walaikumsalam kak, akhirnya datang juga" ucap Aisyah kerena kakaknya datang terlambat


"Maaf ya dek, kakak terlambat datang. Tadi jalanan macet banget" ucap Ulya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Ulya


"Iya, iya bercanda kok kak, Aisyah tau jam-jam istirahat seperti ini pasti jalanan macet. tadi Aisyah aja yang memang datang kesini lebih awal, kuliah selesai lebih cepat hari ini"


"Kok belum ada makanan? kamu belum pesan?" tanya Ulya melihat meja masih kosong hanya ada satu gelas jus buah naga kesukaan Aisyah


"Sudah, tapi belum diantarkan. Mungkin sebentar lagi" jawab Aisyah yang sudah memesan banyak makanan untuk mereka berdua


Tak lama setelahnya makanan yang mereka pesan datang, Ulya keheranan melihat Aisyah memesan begitu banyak makanan


"Kenapa sebanyak ini Ais? kita kan cuma berdua. Kalau tidak habis jadinya mubazir kan dek? kamu tau kan menyia-nyiakan makanan itu dosa dan dibenci Alloh, ingat dek diluar sana banyak yang kesusahan mencari makan, jangan membuang-buang makanan hanya karena kita mampu membelinya. ingat ada dalil larangan membuang-buang makanan? Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al Isra: 27)" Ulya menasehati adiknya panjang lebar, karena takut adiknya akan menyia-nyiakan makanan.


"Iya kak, Aisyah juga tau kok." jawab Aisyah tersenyum melihat kakaknya yang begitu khawatir adiknya berbuat dosa


"Kalau tau kenapa memesan makanan sebanyak ini?" kembali Ulya bertanya dan kali ini Ulya berfeeling mungkin makan siang ini bukan hanya adik dan kakak saja seperti yang Aisyah katakan semalam


"Apa ada jangan-jangan ada orang lain lagi yang kamu undang?" tanya Ulya lagi


"Hehehe.. iya kak, sebenarnya Aisyah juga mengundang mas Danu dan juga mas Niko" Jawab Aisyah tersenyum memperlihatkan gigi putihnya


"Mas Niko? kenapa harus ngundang mas Niko?" Ulya merasa heran dengan sikap adiknya yang tiba-tiba menjadi aneh tak seperti biasanya

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" ucap Niko dah Danu secara bersamaan


"Walaikumsalam" jawab Aisyah dan Ulya melihat kearah sumber suara dan Aisyah segera mencium punggung tangan Danu


"Duduk mas" ucap Aisyah dan Danu menggeser kursi disamping Aisyah


"Hai Ulya, apa kabar?" tanya Niko malu-malu


"Ck.. tumben malu-malu biasanya malu-maluin" sahut Danu dan Niko melotot kearah Danu disambut dengan gelak tawa Danu dan Aisyah


"Baik" jawab Ulya singkat melihat Aisyah dan Danu bersama, belum mengerti apa yang membuat mereka tertawa seperti itu


"Ini sebenarnya ada apa sih? kenapa aku merasa sikap semua orang akhir-akhir aneh ya?" gumam Ulya menggelengkan kepala.


Kini semuanya mulai menyantap makanan yang sudah tersedia, terkecuali Niko yang tampak tegang hingga tak bisa menikmati makanan yang sebenarnya rasanya sangat enak.


"Mas Niko kenapa? apa makanan disini tidak cocok dengan selera mas Niko? kenapa makanannya cuma dilihat?" tanya Ulya sontak membuat Niko gelagapan


Danu menahan tawa pasalnya ini kali pertama baginya melihat Niko bersikap seperti itu dengan seorang wanita. Niko yang seorang playboy seolah dibuat tak berkutik didepan Ulya.


"Kalau enak dimakan, bukan dipandangi. Makanan itu untuk dimakan bukan dipandangi" goda Danu mengatupkan bibir menahan tawa


Niko menggaruk tengkuknya karena salah tingkah.


"Ini sebenarnya ada apa sih dengan kalian? kenapa aku merasa aneh ya?" kembali Ulya bertanya dan menatap Aisyah sehingga Aisyah faham maksud tatapan kakaknya.


"Begini kak, sebenarnya kemarin mas Niko datang kekantor mas Danu dan mengatakan ingin ta'aruf dengan kak Ulya" jelas Aisyah sontak membuat Ulya tercengang


"Uhuk.. uhuk... " Ulya tersedak setelah mendengar apa yang dikatakan adiknya Aisyah, seorang Niko ingin ta'aruf dengan Ulya? rasanya hal itu terasa aneh bagi Ulya. Ulya tau masa lalu Niko seperti apa, Niko yang dikelilingi wanita-wanita cantik. begitulah kira-kira yang Ulya tau dari adiknya, tapi Ulya juga tidak memungkiri kalau sekarang Niko sedang dalam proses hijrah.

__ADS_1


"Kakak baik-baik saja? ini diminum dulu kak" Aisyah khawatir dan memberikan segelas air untuk Ulya yang masih batuk karena tersedak sesaat setelah mendengar tujuan Niko


"Kakak baik-baik saja Is, hanya saja sepertinya tadi kakak salah mendengar" Ulya ragu dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ulya tidak percaya kalau Niko ingin ber ta'aruf dengannya.


"Kakak tidak salah dengar, Aisyah tau seharusnya Aisyah langsung menyampaikan ini pada Abah dan kak Ulya tanpa mengajak mas Niko kesini. Tapi saat ini Aisyah ingin kalian berbicara langsung disini dan dengan kita tentunya yang akan menemani kalian agar tidak timbul fitnah." ucap Aisyah memperjelas maksud dan tujuan Niko kalau ingin serius dan dengan niatnya yang baik.


Ulya melihat kearah Niko dan memberanikan diri untuk bertanya "Apa benar yang barusan disampaikan Aisyah?"


"InsyaAlloh apa yang Aisyah sampaikan barusan memang benar adanya. Saya mempunyai niatan ingin mengajak Ulya berumah tangga, mencari ridho Alloh. Menyempurnakan sebagai agama dengan menikah. Saya tau dan saya faham, pasti tidak mudah bagi kamu untuk percaya dengan saya, apalagi kamu sudah tau masa lalu saya seperti apa. Rasanya terlalu lancang memang jika berharap dari wanita sholehah seperti kamu, saya yang banyak dosa ini memang tidak pantas untuk kamu, tapi saya juga tidak ingin menyesal seumur hidup saya jika saya tidak menyampaikan isi hati saya. Apapun jawaban dari kamu saya iklas menerimanya, saya cukup tau diri" ucap Niko dengan jantung berdebar dan tangannya gemetar. Dan ini kali pertamanya Niko tidak percaya diri didepan seorang wanita


Ulya terdiam mendengarkan apa yang menjadi keinginan Niko, Ulya yang masih tampak syok mencoba mengatur nafas pelan.


"Mas Niko maafkan Ulya, Ulya belum bisa memberikan jawaban untuk mas Niko, karena kemarin sudah ada yang datang kerumah dan menyampaikan keinginannya untuk berta'aruf dengan Ulya. Dan saat ini Ulya sedang memantapkan hati, untuk menerima atau menolak ajakannya" jelas Ulya mengatakan yang sebenarnya. Karena memang sampai saat ini, Ulya belum bisa memberikan Jawaban untuk Firdaus.


"Benarkah kak? siapa yang mengajak kakak ta'aruf? kenapa Aisyah tidak tau?" Aisyah cukup terkejut mengetahui ada yang mengajak kakaknya berta'aruf


"Iya dek, rencana baru hari ini kakak akan cerita ke kamu, kalau kemarin paman mas Firdaus menemui Abah dan menyampaikan keinginan mas Firdaus untuk ta'aruf dengan kakak" Ulya menjelaskan pada Aisyah


Bak tersambar petir disiang bolong, itulah yang menggambarkan perasaan Niko saat ini, apa yang diucapkan Ulya terasa sakit dihatinya. mungkin ini pertama kalinya Niko seperti tidak punya harapan dengan mendekati wanita yang dicintainya.


"Ja-jadi kamu sudah ada yang mengajak ta'aruf, berarti saya sudah tidak memiliki harapan? Niko tampak bersedih keinginannya untuk bisa bersama dengan wanita yang dicintainya dan bisa mengajarinya menjadi peribadi yang lebih baik kini kandas


" Ulya tidak mengatakan kalau mas Niko tidak punya harapan, tapi Ulya juga tidak mengatakan kalau mas Niko memiliki harapan. Yang pasti saat ini Ulya ingin sholat Istiqarroh untuk meminta petunjuk dari Alloh, siapa jodoh terbaik untuk Ulya." jelas Ulya


"Baiklah Ulya, apappun jawaban kamu nantinya InsyaAlloh saya akan menerima dengan hati yang lapang. Karena saya yakin, jika kita ditakdirkan berjodoh Alloh pasti akan memberi kita jalan untuk bersama. Tapi jika bukan, saya yakin Alloh sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk saya begitu juga dengan kamu" ucap Niko yang sudah mulai memahami apa itu iklas yang sesungguhnya


"MasyaAlloh, ternyata sekarang kamu benar-benar sudah berubah Niko. ini pertama kalinya selama aku kenal kamu, kamu bisa berpikir seperti itu. aku berharap seandainya pun kak Ulya bukan jodoh kamu, kamu tetep beristiqomah dijalan Alloh" sahut Danu merasa bahagia dengan perubahan yang terjadi dengan Niko jauh lebih baik dari sebelumnya


"InsyaAlloh apapun keputusan Ulya tidak akan mempengaruhi niatan saya untuk berhijrah. karena saya niat berhijrah karena Alloh bukan karena niat lain. Masalah perasaan yang saya rasakan untuk Ulya tidak ada kaitannya dengan keinginan saya untuk berhijrah. Sebenarnya saya juga sadar diri, saya bukan laki-laki yang cocok untuk Ulya, saya hanya seseorang tidak memiliki banyak ilmu sebagai bekal menjadi seorang imam bagi wanita sholehah seperti Ulya."ucap Niko berusaha lapang dada. Niko sadar kesempatan untuk menikah dengan Ulya sangatlah kecil. Mengingat saingannya bukanlah orang sembarangan. seorang Dosen lulusan dari Kairo, pemahaman agamanya tidak perlu diragukan lagi, tidak seperti dirinya.

__ADS_1


^Happy Reading^


Selalu saya ingatkan untuk like, coment, vote dan berikan poin ya. kesempatan menerima hadiah menantimu. terimakasih🙏


__ADS_2