Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 119


__ADS_3

Pagi ini Ray bangun tidur dengan perasaan tenang. Dan sudah siap menghadapi Bela dengan pikiran jernihnya.


Setelah sarapan, Ray pamit pada Abah dan Umi tak lupa juga Ray meminta do'a pada Abah dan Umi agar bisa menyelesaikan masalahnya dengan Bela.


Sesampainya dirumah, jauh dari pikirannya ternyata rumah sudah sepi. Hanya ada bik Siti yang ada dirumah. Ray kekamar dan benar saja feeling nya, Bela sudah pergi.


Ray coba buka lemari semua pakaian Bela sudah tak tersisa sama sekali.


Tak ada pesan, tak ada telpon. Benar-benar tidak menghargai dirinya sebagai seorang suami."


Ray turun kebawah dan menanyakan keberadaan istri serta orang tuanya pada bik Siti, namun jawaban bik Siti membuatnya semakin kecewa dengan apa yang telah orang tua dan istrinya lakukan.


"Jadi maksud bibik. Mami, Papi dan Bela sudah berangkat ke Singapura kemarin sore? dan tidak meninggalkan pesan apa-apa?"


"Iya Den Ray, Nyonya cuma bilang kalau mereka harus segera kembali ke Singapura untuk bekerja" jawab Bik Siti mengerti perasaan tuan mudanya.


Terkadang bik Siti pun ikut merasa sedih dengan nasib malang yang dialami tuan mudanya. Tidak ada yang memperlakukan tuan mudanya layaknya seseorang yang memiliki hati dan perasaan. Tidak ada yang menyadari kalau Tuan mudanya menderita karena selalu diabaikan orang tuanya. Bahkan sekarang setelah tuan mudanya menikah bukannya bahagia tapi justru semakin menderita.


"Den, yang sabar ya. Bibik tau perasaan aden saat ini seperti apa. Tapi apapun yang Den Ray alami saat ini, bibik berharap Den Ray jangan sampai kembali seperti dulu ya. Tetap seperti sekarang , Jangan pernah tinggalkan sholat" ucap bik Siti karena takut tuanya akan kembali jauh dari Alloh. perubahan tuanya yang sekarang membuat bibik Siti yang dari kecil merawat Ray senang.


Ray tersenyum dan mencium tangan wanita paruh baya yang sudah di anggapnya sebagai ibu. Karena bik Siti lah yang selama ini merawatnya bukan bu Santi.


"Alhamdulillah Ray masih punya bik Siti disini. mungkin bik Siti tidak melahirkan Ray. Tapi bik Siti yang telah merawat Ray. bahkan saat Ray hampir kehilangan nyawa saat kecelakaan. Bik Siti lah yang merawat Ray dengan telaten. Terimakasih bik. InsyaAlloh Ray akan selalu istiqomah. Bantu Ray dengan doa ya bik, semoga Ray selalu istiqomah dijalan Alloh"ucap Ray yang kini sudah tidak lagi mampu menahan air mata yang sedari tadi berusaha ditahan.


Wajah yang biasanya dingin dan terlihat angkuh untuk menyembunyikan kesedihan dan rasa kesepiannya itu kini meneteskan air mata di depan wanita tua yang selama ini merawat bak anak sendiri.


"Bibik akan selalu mendoakan Den Ray, Iklas dan sabar ya Den, InsyaAlloh bibik yakin. Suatu saat nanti Den Ray pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Buah hasil kesabaran Den Ray." ujar bik Siti yang juga meneteskan air mata


Dan sejak saat itu Ray memutuskan untuk tidak akan menghubungi istrinya, sampai istrinya sendiri yang akan datang kepadanya.


***


"Huek.. huek... " Ulya memuntahkan isi perutnya setelah makan malam


"Sayang kamu kenapa?" tanya Niko


"Mual banget mas, kepala Ulya pusing" ucap Ulya gemetar


Niko yang panik segera membopong tubuh kecil istrinya dan merebahkan nya diranjang.


"Sayang aku panggil Dokter ya" Niko dengan wajah yang panik


"Tidak usah mas, mungkin Ulya hanya masuk angin saja. Biarkan istirahat sebentar nanti setelah istirahat InsyaAlloh juga baikkan mas." ucap Ulya memejamkan matanya


"Ya sudah, tapi kalau besok belum sembuh juga, kita ke Dokter ya!" ucap Niko dan Ulya hanya menganggukkan kepalanya


Malam ini Niko terjaga karena takut sewaktu-waktu istrinya membutuhkan sesuatu. Niko sangat mencemaskan keadaan Ulya.


Sayup-sayup terdengar suara adzan ditelinga Ulya, seketika Ulya membuka matanya dan melihat Niko yang tidur dengan keadaan terduduk


"Mas, mas Niko" Ulya membangunkan suaminya


"Em.. sayang, kamu sudah bangun? apa yang kamu rasakan? apakah masih pusing?" cerca Niko


Ulya tersenyum dan menggelengkan kepala


"Mas Niko dari semalam tidur dengan duduk seperti ini?" tanya Ulya


"Iya, aku khawatir kalau kamu butuh apa-apa. Aku ingin menjaga kamu tapi malah ketiduran" ucap Niko memijit tengkuknya yang terasa kaku


"Ya Alloh mas, sampai segitunya" Ulya tiba-tiba meneteskan air mata


"Kenapa malah nangis sayang? apa ada yang sakit? katakan yang sakit dimana? tanya Niko melihat Ulya panik

__ADS_1


Ulya tidak menjawab tapi malah memeluk erat suaminya


"Hai.. kenapa sayang?" tanya Niko bingung tapi segera membalas pelukan Ulya dengan erat


"Terimakasih ya mas" ucap Ulya membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.


Ulya merasa terharu dengan perhatian dari Niko, pasalnya hal ini tidak pernah didapatkan dari suaminya yang terdahulu. Niko benar-benar memperlakukannya bak ratu.


"Terimakasih untuk semuanya mas, aku bahagia menjadi istrimu. Perhatikan yang kamu berikan membuatku merasa menjadi wanita yang paling beruntung didunia ini mas. terimakasih sudah menerimaku dengan segala kekurangan yang ada pada diriku" ujarnya


Niko mencium pucuk kepala Ulya "Aku yang merasa beruntung menikah dengan kamu sayang, memiliki istri sepertimu adalah anugerah terindah dalam hidupku"


"Sudah adzan kita sholat subuh berjamaah dulu ya mas" ajak Ulya


"Iya sayang, aku ambil air wudhu dulu ya!"


"Iya mas" jawab Ulya


Setelah melakukan sholat wajib dua rokaat, Ulya kedapur untuk membuat sarapan, tapi kali ini Ulya kembali mual dan muntah saat mencium bau makanan.


Niko yang mendengar Ulya muntah segera belari menghampiri istrinya


"Sayang kamu muntah lagi? sudah aku bilang kan, jangan masak dulu. Sebaiknya kamu istirahat saja. Biar mbak inah aja yang masak" cerca Niko


"Huek.. huek.. " lagi-lagi Ulya memuntahkan isi perutnya


Dan pagi ini Niko membatalkan jadwal meetingnya untuk menemani Ulya ke Dokter, karena Niko cemas dengan keadaan istrinya.


"Mas, kamu kalau mau ke kantor gak apa-apa, Ulya bisa kedokter sendiri" ucapnya


"Mana mungkin aku membiarkan kamu ke dokter sendiri? kamu itu prioritasku sayang." ujar Niko


Pagi-pagi sekali Niko dan Ulya sudah sampai dirumah sakit, setelah melakukan pemeriksaan Dokter memberikan ucapan selamat yang membuat Ulya dan Niko saling pandang tak mengerti


"Ini selamat untuk apa ya Dok? istri saya sakit kenapa dokter malah mengucapkan selamat?" Tanya Niko tak mengerti, berbeda dengan Ulya yang sepertinya paham arah pembicaraan Dokter dengan mengucapkan selamat


"Iya buk, ibu hamil"ucap Dokter tersenyum


Ulya menutup mulut dengan tangannya karena merasa tak percaya


"Ja-jadi istri saya hamil Dok? saya akan menjadi ayah maksud Dokter?" Niko masih belum percaya dengan apa yang barusan di dengarnya


"Benar pak, istri bapak hamil, sekali lagi selamat ya pak, buk?" ucap Dokter


"Alhamdulillah" ucap Niko menutup mulutnya dan tersenyum


"Sayang kamu hamil" ucap Niko reflek memeluk Ulya di depan dokter karena bahagia


"Mas" ucap Ulya menginginkan ada diruang Dokter dan Niko segera melepaskan pelukannya


"Maaf ya Dok, saya terlalu bahagia" ucap Niko girang dan kembali mengelus perut istrinya yang masih datar


"Iya tidak apa-apa pak" jawab Dokter


Niko benar-benar tidak menyangka kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


"Karena dulu Bu Ulya pernah punya riwayat abortus, jadi kehamilan kali ini harus lebih dihati-hati ya bu. Jangan capek-capek dan jangan melakukan pekerjaan berat" ucap Dokter


"Em.. dok, kalau itu, kalau_?" Niko tidak melanjutkan kata-katanya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Kalau apa pak?" tanya dokter tersenyum melihat Niko


"Itu Dok" Niko tersenyum dan sepertinya Dokter tau maksud dari pertanyaan Niko

__ADS_1


"Berhubungan suami istri maksud bapak?" tanya dokter dan Niko mengangguk tersenyum


"Mas Niko" gumam Ulya dengan wajah memerah karena malu pertanyaan suaminya


"Tidak apa-apa bu Ulya, justru bagus suaminya bertanya jadi bisa saling mengingatkan" ucap Dokter


"Jadi sebetulnya tidak ada masalah melakukan hubungan suami istri selama kehamilan. Dengan catatan tidak ada keluhan. Seperti nyeri atau adanya bercak darah misalnya. Asalkan hal tersebut tidak ada dalam fase kehamilan ini, maka hubungan suami istri aman dilakukan" jawab Dokter yang menjelaskan pertanyaan Niko


"Jadi aman ya Dok?" kembali Niko bertanya


"Aman, tapi karena bu Ulya pernah ada riwayat abortus tetap harus hati-hati ya pak. Dan jangan terlalu bersemangat" ucap Dokter tersenyum membuat Ulya semakin memerah karena malu


"Siap Dok, terimakasih untuk penjelasannya" ucap Niko


"Sama-sama Pak Niko"


***


Dari rumah sakit Ulya kerumah Abah untuk memberitahu kabar bahagia kalau dirinya sedang hamil, tanpa disadari Abah meneteskan air matanya.


"Alhamdulillah" ucap Abah memeluk Ulya


Umi pun ikut menagis bahagia, putri mereka yang pernah mengalami ujian bertubi-tubi dalam hidupnya kini memanen buah manis dari kesabaran dan keikhlasan yang selama ini dijalaninya.


Iya Ulya adalah wanita kuat yang tidak pernah menyalahkan takdir, apapun yang terjadi di dalam hidupnya, Ulya selalu bersyukur. Bahkan saat ujian yang dirasa berat datang. Ulya pun tidak pernah mengeluh, selalu iklas menjalani takdir dan hanya menyandarkan hidupnya pada Alloh.


Hingga sekarang Alloh menurunkan bertubi-tubi kebahagiaan dalam hidupnya.


"Dijaga baik-baik ya nduk" ucap Abah memegang perut Ulya


"InsyaAlloh bah" jawab Ulya


Niko juga menghubungi bu Nisa yang saat ini sedang berada di Jerman.


Tentu saja berita kehamilan Ulya membuat bu Nisa dan pak Bima senang. Tapi dengan menyesal mereka belum bisa pulang ke Indonesia karena pekerjaan yang tidak mungkin ditinggalkan.


Begitu juga dengan Aisyah dan Danu yang ikut bahagia dengan kehamilan kakaknya.


***


"Ulya hamil syah?" tanya bu Retno


"Alhamdulillah iya ma" jawab Asyah tersenyum


"Alhamdulillah, wah pak Ahmad dan bu Zaroh pasti bahagia, akan punya dua cucu sekaligus" ucap Bu Retno


"Iya ma, Alhamdulillah" jawab Aisyah


"Ini sayang diminum susunya" ucap Danu


"Terimakasih mas" Aisyah mengambil susu yang diberikan suaminya dan meminumnya sampai habis


"Alhamdulillah, terimakasih ya mas" ucap Aisyah


"Udah gak mual lagi sekarang sayang?" tanya bu Retno


"Alhamdulillah sudah tidak ma, tapi sekarang pengennya makan terus. Berat badan Aisyah sekarang bertambah banyak banget" ucap Aisyah


"Tidak apa-apa sayang, yang penting bayinya sehat. Masalah berat badan kamu, nanti setelah melahirkan kamu bisa ikut program diet" ujar bu Retno


"Tidak diet pun tidak apa-apa, Danu akan tetap sayang dan cinta sama Aisyah" sahut Danu


"Tu kan, kamu dengar sendiri sayang, suami kamu menerima kamu apa adanya. lagi pula kalau kamu gemuk juga itu gara-gara mengandung anak kalian. jadi wajar saja kalau tubuh tidak akan selangsing dulu. Tapi asalkan mencintai karena Alloh, perubahan fisik tidak akan pernah merubah rasa cinta dah sayang pada pasangan" ucap bu Retno

__ADS_1


^Happy Reading^


jangan lupa, like, coment, vote dan kasih poin ya sayang. dukungan kalian sangat berarti bagi author terimakasih🙏


__ADS_2