
Zidan terlihat frustasi saat melihat berita tentang dirinya tersebar di berbagai media online. berita perceraian lantaran tidak bisa adil terhadap kedua istrinya menjadi perbincangan hangat didunia maya. karena itu juga, banyak job dakwah yang seharusnya dirinya isi. Tiba-tiba mengcancel begitu saja. bahkan jadwal job yang awalnya sudah penuh untuk dua bulan kedepan, kini menjadi kosong dan tak satupun ada job untuk dirinya. berita perceraian lantaran isu poligami sangat berpengaruh dengan karirnya.
"Kenapa mas? kamu sakit?" tanya Sela melihat Zidan duduk termenung dan memijit pelipisnya
"Semua job Dakwahku dibatalkan. karir yang aku rintis dari nol hancur. aku benar-benar hancur sekarang" jawab Zidan
"Kenapa seperti itu ya mas?"
"Kenapa kamu bilang? tentu saja mereka mengira, kalau aku tidak pantas mereka jadikan panutan" jawab Zidan dengan nada tinggi
"Ini semua gara-gara mbak Ulya" ucap Sela
"Kenapa menyalahkan Ulya? kenapa tidak melihat diri kalian sendiri" sahut Abi Zidan.
"Abi, kenapa kesini tidak mengabari?" ucap Zidan kaget dengan kedatangan abinya yang tiba-tiba.
"Dan kamu Zidan, Abi benar-benar kecewa sama kamu. kalau kamu tidak mampu bersikap adil kenapa kamu harus poligami? kamu sudah sangat berdosa pada Ulya. Abi sudah tau semuanya. selama ini Abi hanya mendengar cerita dari kamu, tapi begitu Abi tau kebenarannya. Abi sangat kecewa dengan kamu Zidan. Abi kira, Abi sudah mengajar kamu dengan baik. ternyata Abi keliru. kamu benar-benar tidak pantas jadi panutan. kamu biarkan istri pertama kamu menderita sendiri, bahkan sampai harus kehilangan calon anak kalian. apa kamu lupa, Ulya itu yang menemani kamu dari nol. saat kamu belum setenar sekarang, siapa yang menemani kamu? seorang istri yang baik tidak akan membiarkan suaminya terjerumus dalam dosa. termasuk mengabaikan istri pertamanya. jika istri yang baik pasti akan mengingtkan tentang hal istri pertama. bukan malah melarang kamu untuk melakukan tugas kamu berbuat adil dengan istri yang lain" ucap Abi Zidan
"Maaf, ini maksudnya Abi apa ya? kenapa seolah saya yang disudutkan?" Sela melihat Abi
"Sela diam" tegur Zidan
"Ini Abi nyalahin aku lho mas, Abi nuduh aku. harusnya aku berhak marah dong mas" ucap Sela
"Aku bilang diam" bentak Zidan
"Seperti ini yang kamu pertahankan? hah.. Abi kecewa dengan kamu Zidan. istri sholihah seperti Ulya kamu ganti dengan model seperti ini?" ucap Abi berlalu
"Mas, lihat! Abi sudah merendahkan aku mas. kenapa kamu malah diam dan membentak aku?" Sela cemberut
"Sela, tolong dong kalau sama Abi jangan melawan! Abi itu orang tuaku. orang tuaku berarti orang tua kamu juga" tegas Zidan
"Bagaimana bisa aku menghargai Abi, kalau Abi saja tidak menghargai Sela mas?" protes Sela.
"Astaghfirullah hal adzim, Sela. kenapa kamu seperti ini? tolong jangan tambah beban pikiran mas.tolong Sela! tolong mengerti. apa yang membuat Abi marah. ini semua juga karena kesalahan kita."
"Kesalahan kita? bagaimana bisa ini karena kesalahan kita? ini semua itu kesalahan mbak Ulya."
"Kenapa kamu bawa-bawa Ulya? Ulya salahnya dimana? apa kamu lupa. andai saja saat itu kamu memberitahu aku kalau Aisyah menelpon dan mengabarkan kalau Ulya dirumah sakit ini semua tidak akan terjadi. Ulya tidak akan menggugat cerai dan semua akan baik-baik saja"
"Jadi sekarang kamu juga menyalahkan aku mas? jadi maksud kamu aku yang salah?" ucap Sela dengan nada meninggi
"Bukan, bukan begitu. kamu jangan salah faham" Zidan mencoba membujuk Sela. namun Sela yang umurnya masih muda ini sangat sensitif dan gampang tersinggung.
Sela masuk kamar dan membanting pintu kamarnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah" Zidan mengelus dadanya
*Flashback on*
"Ji, maaf tadi aku sempat emosi dengan Ulya saat keluar dari persidangan" ucap Abi Zidan pada Abah Ulya
"Aku faham apa yang menjadi dasar kemarahan kamu, tapi seharusnya kamu mencari tau dulu sebab musababnya kenapa sampai Ulya menggugat perceraian dengan Zidan. apa kamu tau, bagaimana menderitanya anakku untuk bisa mempertahankan pernikahannya dengan anakmu?"
"Memang apa yang sebenarnya terjadi? apakah karena poligami Zidan? bukankah dari awal Zidan poligami sudah atas ijin dari Ulya."
"Apa yang kamu bilang benar adanya, Zidan Poligami memang atas ijin dari Ulya. dan Poligami memang tidak dilarang. namun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi didalam suatu poligami. aku yakin kamu faham soal itu, begitu juga dengan Zidan. seharusnya dia juga faham dengan hal itu. tapi yang membuat aku kecewa, Zidan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami, sekarang jika seorang istri sudah tidak dianggap dan tidak diperlukan lagi didalam rumah itu, apa yang bisa dilakukan seorang istri kecuali menangis? bahkan saat istri sakit berhari-hari dirumah sakit, dimana Zidan? apa dia ada? tidak! dia tidak pernah ada. yang lebih menyakitkan hatiku sebagai seorang ayah dan orang yang sudah menjodohkan Ulya dengan Zidan. disaat Ulya berjuang mempertahankan kehamilannya, anak Zidan. cucu kita! dimana Zidan? dia juga tidak ada. hingga Ulya harus kehilangan calon anak yang belum sempat lahir didunia ini. bayangkan jika Ulya adalah anak kamu? Kira-kira apakah kamu masih akan membiarkan Ulya tetep bertahan dengan laki-laki seperti itu?"
"Astaghfirullah, maaf Ji! aku benar-benar tidak tau soal itu"
"Itulah yang aku bilang tadi, Sah-sah saja jika mau berpoligami tapi harus bisa bersikap adil. bukan karena ada yang baru, yang lama dibuang begitu saja. istri itu bukan barang yang bisa dibuang begitu saja saat sudah mendapatkan barang yang baru. dan ingat kita ini sebagai suami bukan hanya dituntut untuk memberikan nafkah belanja saja pada istri. tapi nanti di akhirat, kita akan dimintai pertanggung jawaban atas dosa-dosa yang telah dilakukan istri kita. bagaimana cara kita mendidik istri. itu semua akan dimintai pertanggung jawaban. karena itu, jangan pernah mencoba poligami jika memang tidak mampu berbuat adil. Ulya menggugat cerai juga demi kebaikan bersama. dari pada bertahan tapi malah menimbulkan dosa untuk mereka." terang Abah
Seperti tertampar sangat keras, mengetahui anak laki-lakinya yang seharusnya sudah faham tentang semua itu, justru melakukan hal yang sebaliknya.
*Flashback off*
***
"Assalamu'alaikum" Danu memberi salam pada Niko dan Ray saat bertemu dipesantren
"Kenapa sudah merindukan aku?" tanya Danu
"Iya rindu. rindu gangguin kamu kerja hahaha.. " sahut Niko
"Tumben masih siang kesini. kamu tidak kerja?" tanya Niko
"Tidak, hari ini aku tidak kerja karena menemani Aisyah menghadiri sidang putusan perceraian kak Ulya" jawab Danu
"Jadi sidangnya hari ini? terus gimana hasilnya?" tanya Niko
"Alhamdulillah, semua sudah selesai. gugatan perceraian kak Ulya dikabulkan hakim. dan sekarang kak Ulya sudah bercerai dari suaminya" jelas Danu
"Alhamdulillah" ucap Niko
"Kok kamu malah Alhamdulillah?" tanya Danu menatap Niko
"Ya iya dong Alhamdulillah, bukankah itu bagus, kalau Ulya bercerai dari suaminya. wanita sebaik Ulya untuk apa bertahan dengan laki-laki tidak tau diri seperti itu. lihat mukanya aja udah bikin eneg tu cowok" ucap Niko
"Ya elah brow, kayak kamu cowok baik aja. lihat tu cewek-cewek yang sudah kamu buat menangis karena selalu kamu putus disaat mereka lagi Sayang-sayangnya." sahut Ray
"Ya itu kan dulu, hidup itu berproses Ray. masa lalu biarlah jadi masa lalu. sekarang aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku tidak akan pernah menyakiti hati wanita lagi. bahkan aku sudah tidak mau pacaran lagi. aku ingin saat nanti ada wanita yang bersedia menerima aku dengan masa lalu aku yang seperti itu, aku akan langsung menikahinya" ucap Niko
__ADS_1
"Amin, semoga Alloh mendengar apa yang menjadi niatan baikmu teman. aku senang melihat perubahan yang ada pada diri kalian" ucap Danu
"Assalamu'alaikum mas Niko, Mas Ray. bagaimana apa betah tinggal di pesantren?" tanya Aisyah
"Walaikumsalam. Alhamdulillah betah" jawab Niko dan Ray
"Alhamdulillah" Aisyah tersenyum
"Mas Danu, sudah ditunggu Abah untuk makan bersama. sekalian saja mas Niko dan Ray ikut makan bersama" ucap Aisyah
"Tidak usah Aisyah, kami makan dengan santri yang lain saja" ucap Ray
"Tidak apa-apa, mas Niko dan mas Ray ikut makan bersama dengan kita saja hari ini" ucap Aisyah menyakinkan
"Iya brow, ayo makan siang bareng kita saja" sahut Niko
Niko dan Ray akhirnya pun ikut makan bersama dengan keluarga Abah.
Dimeja makan sekarang semua tampak bahagia dan tidak ada yang menunjukkan kesedihan walaupun entah hati Ulya dan Abah yang sebenarnya seperti apa. setelah sekarang ini Ulya sudah resmi menjadi seorang janda.
"Niko, kamu disini bagaimana dengan perusahaan kamu?" tanya Bu Retno setelah makan dan saat ini mereka semua sedang berada dirumah keluarga Abah
"Sejak kapan Niko serius dengan perusahaannya ma? Niko tidak disini pun setiap hari perusahaan ditinggal dan malah berada di kantor Danu" Sahut Danu
"Kebetulan dikantor ada orang kepercayaan yang sudah bisa diandalkan tante" jawab Niko
"Apa orang tua kamu tau, kalau kamu sekarang ada di pesantren?" tanya Bu Retno
"Belum tau tante, saat ini mereka masih diluar negeri. dan Niko belum mengabari" jawab Niko
"Seharusnya kamu kabari orang tua kamu Niko. sebelum melakukan sesuatu usahakan selalu meminta restu dengan orang tua dulu. biar hidup kita ini barokah" timpal Abah
"InsyaAlloh nanti Niko akan mengabari orang tua Niko bah"
"Kamu juga nak Ray, jangan lupa orang tua dikabari" ucap Abah
"Baik bah, Ray akan mengabari orang tua Ray. meskipun Ray ragu. apakah mereka perduli atau tidak" Jawab Ray
"Kenapa begitu?" tanya Abah
"Huftt.. Orang tua kami ini tidak pernah perduli dengan apa yang kami lakukan. entah kami ini masih hidup atau tidak seolah tidak ada yang perduli. bahkan sekedar tanya kabar saja tidak pernah. mereka lebih sibuk dengan dunia bisnis yang mereka telah bangun. bagi mereka bisnis lebih penting dari pada kami. anak mereka sendiri" ucap Ray dengan mata berkaca-kaca
"Walaupun seperti itu kalian harus tetep menghormati mereka sebagai orang tua kalian. mendoakan mereka, semoga suatu saat mereka akan sadar dan semoga suatu saat Alloh memberikan hidayahNya kepada orang tua kalian. ingatlah Ridho orang tua adalah ridho Alloh!"
"Astaghfirullah, semoga Alloh mengampuni dosa kami. terimakasih Abah sudah mengingatkan kami tentang hal itu." timpal Niko
__ADS_1