
Pagi ini dikampus Aisyah tampak tidak bisa berkonsentrasi saat menerima pelajaran dari Dosen hingga dirinya tidak mendengar saat Dosen mengajukan pertanyaan
"Ais, Aisyah.. " panggil Fitri lirih mencoba memberitahu kalau Dosen memanggilnya
"Aisyah" kembali Dosen memanggil
"I-iya pak" jawab Aisyah tersadar dari lamunannya
"Kenapa Aisyah, bapak perhatian kamu tidak fokus dengan pelajaran yang bapak berikan." tanya pak Hasan yang merasa heran, karena Pak Hasan tau, Aisyah adalah mahasiswa yang cukup berprestasi dan selalu belajar dengan serius
"Ma-maaf pak" ucap Aisyah menunduk
"Ya sudah, kalau kamu sedang tidak enak badan sebaiknya istirahat saja, jangan dipaksakan" ucap Pak Hasan
"Baik pak, terimakasih" Jawab Aisyah kembali duduk dan mencoba berkonsentrasi pada pelajaran.
Saat ini Aisyah sedang memikirkan kakaknya, entah kenapa tapi hati kecilnya mengatakan kakaknya sedang tidak dalam keadaan baik.
"Aisyah kamu kenapa? apa kamu sakit?" tanya Fitri setelah jam kuliah selesai
"Tidak, aku hanya sedang kepikiran kak Ulya" jawabnya
"Kak Ulya? ada apa dengan kak Ulya?" Fitri melihat Aisyah
"Kak Ulya memutuskan untuk kembali rujuk dengan suaminya. tapi entah kenapa aku merasa tidak tenang. aku hanya takut kak Ulya akan terluka lagi"
"Aisyah, kekhawatiran kamu itu sebenarnya masuk akal. tapi kamu harus ingat, kak Ulya sudah membuat keputusan, sebaiknya hargai keputusan kak Ulya. aku yakin kak Ulya sudah memikirkan resikonya sebelum mengambil keputihan" terang Fitri
"Iya kamu bener, tapi kak Ulya itu hatinya sangat lembut. aku yakin kak Ulya memutuskan kembali rujuk dengan suaminya pasti karena tidak ingin membuat Abah kecewa. meskipun abah sudah mengatakan mendukung semua keputusan kak Ulya. dan mungkin kak Ulya hanya tidak siap menyandang status janda"
"Assalamu'alaikum" sapa Wisnu
"Walaikumsalam, ada apa wis?" tanya Fitri
"Em.. apa aku boleh duduk disini" Wisnu menunjuk bangku kosong di depan Aisyah
"Silakan" jawab Aisyah
"Aisyah, apa aku boleh bicara sama kamu?" Wisnu menatap Aisyah dan Aisyah segera menundukkan pandangan nya
"Mau bicara apa?"
"Be-begini Aisyah, sebenarnya sudah cukup lama aku memperhatikan kamu dan jujur aku merasa kamu adalah wanita yang sholihah. kalau boleh aku ingin mengajukan proposal" ucap Wisnu memberanikan diri, Wisnu tau kalau Aisyah ini anak seorang Da'i yang cukup terkenal dan pasti tidak akan mau untuk berpacaran
"Proposal? maksudnya proposal apa?" Aisyah dan Fitri saling menatap
"Aku ingin berta'aruf denganmu, dan ini aku mengajukan proposalku. aku tau seharusnya aku langsung mengajukan proposal ini pada orang tuamu, tapi aku ingin kamu menerima proposalku ini secara langsung. Wisnu menyodorkan proposal
__ADS_1
"Maaf Wisnu tapi_" ucapan Aisyah terpotong
"Tolong jangan tolak langsung proposalku Aisyah. aku tau kita masih kuliah, tapi aku sudah punya pekerjaan yang InsyaAlloh bisa untuk membiayai kehidupan kita nantinya, tolong pelajarani dulu proposalku" timpal Wisnu dan langsung bergegas pergi
"Ta-tapi Wisnu, Wisnu" panggil Aisyah ingin menjelaskan tapi Wisnu tidak menghiraukan panggilan Aisyah dan langsung pergi
"Wkwkw... " Fitri tertawa terbahak-bahak
"Itu Wisnu kesambet apa kok maksa banget, Aisyah kan mau bilang kalau Aisyah sudah tidak mungkin berta'aruf dengan laki-laki manapun"
"Hahaha.. ya udah sih biarin aja" Fitri ketawa
"Ini proposal terus mau diapain?" Aisyah melihatkan proposalnya
"Ya udah disimpen saja dulu, nanti kalau ada kesempatan bicara. kembalikan saja hahaha.. " kembali Fitri tertawa
"Kamu ini kenapa malah tertawa terus?"
"Ya habisnya lucu aja gitu, perasaan sejak kamu nikah kok banyak banget yang berusaha mendekati" ucap Fitri
"Banyak apanya? gak ada kok" Aisyah memanyunkan bibirnya
"Kamu saja yang tidak peka Is, kalau kamu itu primadonanya disini"
"Apaain sih Fit"
"Astaghfirullah ini apa lagi?" Aisyah mengelus dadanya
"Masa sih kamu tidak merasa kalau pak Riza itu memperlakukan kamu dengan beda, kalau buat kamu itu selalu ada pengecualian" ucap Fitri
"Ya itu kan emang karena aku pintar Fitri" ucap Nia senyum memperlihatkan gigi putihnya
Dret.. dret...
"Sebentar aku angkat telpon dulu ya" ucap Aisyah
"Cie.. pasti Direktur ganteng ya yang telpon"
"Apaan sih Fit" Aisyah senyum
"Assalamu'alaikum mas" Aisyah menjawab panggilan dari Danu
"Walaikumsalam Aisyah, kamu sudah selesai kuliahnya?"
"Sudah baru saja, ini Aisyah mau pulang"
"Ya sudah hati-hati ya, mau aku jemput?"
__ADS_1
"Tidak usah mas, Ais pulang sendiri saja ya. Oya, Ais mau sekalian minta ijin, mau mampir ke apartemen kak Ulya dulu"
"Oow kamu mau ke rumah kak Ulya? ya sudah hati-hati ya. jangan malam-malam pulangnya"ucap Danu malu
"Iya mas, InsyaAlloh sebelum jam makan malam Ais sudah dirumah"
"Ya sudah Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" Aisyah menutup telpon
"Cie.. senangnya yang sudah punya suami, ada yang memperhatikan" goda Fitri
"Iya Fit, Alhamdulillah mas Danu orangnya sangat baik. aku juga tidak menyangka kalau perjodohan ini ternyata tidak seburuk yang aku bayangkan"
"Karena itulah Is, kita harus selalu positif thinking dengan rencana Alloh. karena Alloh pasti akan memberi yang terbaik buat kita."
****
Diapartemen Ulya
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam, Aisyah kamu kesini" ucap Ulya membuka pintu
"Iya kak, dari kampus Ais langsung kesini" ucap Aisyah
"Ya sudah ayo masuk, kamu sudah makan belum is?" tanya Ulya
"Sudah kak, sebelum kesini tadi Aisyah makan dulu dikantin. oya kak Zidan dimana kak?" Ais melihat sekeliling mencari keberadaan suami kakaknya
"Mas Zidan sedang mengisi pengajian di luar kota" jawab Ulya
"Apa sama istri mudanya lagi" tanya Aisyah menatap Ulya
"Dek, jangan seperti itu agh, Sela juga istri mas Zidan
"Kak, apa benar kak Zidan bersikap baik sekarang sama kakak? apa benar mas Zidan sudah bisa adil sama istri-istrinya?" cerca Aisyah
"Ais, saat ini Sela sedang hamil. jadi lebih membutuhkan kehadiran mas Zidan" terang Ulya
"Dulu sewaktu kakak hamil, apa mereka juga melakukan hal yang sama dengan kakak?" Aisyah merasa kakaknya sedang menyembunyikan sesuatu
"Sudah ya dek, jangan bahas yang sudah berlalu. InsyaAlloh kakak percaya sekarang mas Zidan akan memperlakukan kakak lebih baik, tidak seperti sebelumnya" Ulya berusaha menyakinkan adiknya yang terus saja menghujani dengan berbagai pertanyaan
"Ini takdir yang harus kakak jalani Aisyah, dan kakak akan menerima semua ini. walaupun hati kakak juga sebenarnya masih susah untuk berbagi. istri mana yang sanggup berbagai hati dengan wanita lain? tapi jika takdir kakak , kakka akan belajar iklas" batin Ulya
"Kak kenapa bengong?" Aisyah memegang bahu Ulya
__ADS_1
"Tidak adikku, kakak tidak apa-apa. kakak bersyukur mempunyai adik sepertimu" ucap Ulya memegangi pipi Aisyah