Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 111


__ADS_3

"Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh, Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh" Ray salam setelah tahiyatul akhir mengangkat kedua tangannya dan berdoa meminta agar hati kedua orang tuanya di lembutkan.


Tok.. tok..


"Masuk bik" ucap Ray setelah selesai berdoa


"Den Ray, ada tamu mencari Den Ray"


"Siapa yang datang malam-malam begitu bik?" Ray mengerutkan keningnya


"Katanya sih calon istri Den Ray?"


"Calon istri Ray? bibik jangan bercanda"


"Beneran Den, tadi mbaknya bilang gitu"


"Ya sudah bibik kesana dulu, suruh dia menunggu"


"Baik Den"


Sesampainya diruang tamu, asisten rumah tangga Ray menyuruh Bela untuk menunggu


Tak lama kemudian Ray datang melihat tamu yang datang, betapa terkejutnya ketika ternyata tamu yang mengaku calon istrinya adalah Bela


"Bela? kenapa malam-malam bisa ada disini?" tanya Ray bingung dengan kehadiran Bela tanpa memberi kabar


"Karena kita akan segera menikah, jadi aku ke Indonesia dulu untuk menyiapkan segala sesuatunya, karena aku mau pernikahan kita semuanya sempurna. Aku tidak mau ada kekurangan dipesta pernikahan kita." jelas Bela


"Menikah? memang siapa yang mau menikah?" Ray mengerutkan keningnya


"Tentu saja kita, kamu kira siapa yang akan menikah"


"Aku belum pernah menyetujui pernikahan kita, Mami dan Papi juga tidak bilang apa-apa, bagaimana bisa kamu bilang kita akan menikah?"


"Orang tua kita sudah mengatur segalanya, dan pernikahan kita sudah ditentukan dua minggu lagi, gedung pernikahan juga sudah dipesan. Kalau kamu tidak percaya kamu telpon saja om dan tente" ucap Bela santai

__ADS_1


"What? ini masalah pernikahan bukan main-main kenapa aku tidak dilibatkan? ini hidupku, aku yang memutuskan menikah atau tidak" tegas Ray


"Percuma Ray, coba saja bilang seperti itu sama om dan tante, tapi aku rasa percuma. Mau kamu bilang seperti itu pun pernikahan akan tetep terjadi" ucap Bela


"Lalu apa kamu setuju menikah dengan cara seperti ini?" tanya Ray menatap Bela


"Setuju tidak setuju sama saja, keadaan tidak akan berubah" Bela mengangkat kedua tangannya pasrah


"Untuk apa kita harus capek-cepek berdebat dengan orang tuanya kita, karena dimata mereka semua hanya tentang bisnis. Termasuk pernikahan kita ini, pernikahan bisnis untuk menyatukan dua perusahaan. Kamu tau itu kan, jadi ya sudahlah kita teriama saja" ucap Bela


"Astaghfirullah, mana bisa seperti itu Bela. Pernikahan itu sakral bukan main-main yang bisa seenaknya saja dilakukan. Ada tanggungjawab besar didalam suatu pernikahan. karena pernikahan ini nantinya akan dipertanggungjawabkan sampai akhirat" jelas Ray


"Aduh, kamu bicara apa sih Ray, aku mana paham soal begituan. Yang aku tau, aku datang kesini untuk mempersiapkan acara pernikahan kita. Minggu ini orang tua kita juga akan datang ke Indonesia"


"Astaghfirullah" Ray mengusap wajahnya kasar


Ray terlihat sangat frustasi


"Dimana kamar aku?" tanya Bela


"Iya dimana kamarku? aku capek, mau tidur" jawab Bela


"Kenapa juga kamu harus tidur dirumahku?"


"Aku ini kan calon istri kamu, wajarkan kalau aku tidur disini? dikamar kamu juga gak apa-apa, cepat katakan. Aku sudah ngantuk banget"


"Masih calon kan? belum istri kan? jadi sebaiknya kamu segera pulang kerumah kamu atau kalau tidak kamu tidur dihotel atau kemana terserah kamu, yang jelas tidak disini" tegas Ray


"Ribet ya kamu Ray, cuma mau tidur aja kok ribet banget. Aku ngantuk Ray, please lah jangan ribet gitu! cepat katakan dimana kamar aku?" Bela menerobos masuk menoleh kanan dan kiri mencari kamar kosong


"Kamu ini gak bisa dibilangin ya, kita ini bukan mahram tidak baik kalau tinggal satu atap. Sebaiknya malam ini kamu tidur dihotel." tegas Ray


"Gak mau, aku mau tidur disini. Udahlah kalau tidak mau kasih tau di mana kamarnya, aku tidur disofa aja" ucap Bela merebahkan tubuhnya disofa, karena hari ini Bela benar-benar capek dan sudah tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Ray


"Bela bangun, bangun tidak?" teriak Ray tapi tak ada sautan dari Bela

__ADS_1


"Bik tolong ambilkan Bela selimut, dan bawa kopernya kekamar tamu" ucap Ray yang akhirnya tidak tega dan membiarkan Bela tidur disana.


Ray kembali ke kamar dan mencari ponselnya untuk menghubungi Maminya.


"Assalamu'alaikum Mi"


"Ada apa Ray?" jawab bu Santi


"Ray yang harusnya tanya sama Mami, kenapa Bela ada disini? dan apa maksudnya Bela bilang kesini untuk mempersiapkan pernikahan kami?"


"Sorry Ray Mami sibuk banget sampai lupa memberitahu kamu kalau kami sudah memutuskan pernikahan kalian akan dilakukan dua minggu lagi. Semua sudah diurus anak buah Mami, kamu tinggal ditinggal fitting baju pengantin saja sama Bela. Untuk masalah gedung dan undangan semua sudah beres. Tapi kalau kamu mau nambahin undangan buat teman-teman kamu lagi, kamu tinggal tambahin aja" jelas bu Santi


"Mi, ini itu pernikahan! bukan sedang main-main, terlebih ini pernikahan Ray mi! kenapa Mami tidak bicarakan dulu sama Ray? kenapa Mami mengambil keputusan tanpa bertanya pada Ray"


"Aduh Ray, sudahlah tidak perlu mempermasalahkan itu, tidak mungkin kan kamu akan mengecewakan Mami dan Papi? jadi sama saja kan Mami atau kamu yang putuskan?" ucap Bu Santi


"Astaghfirullah Mi, ini masalah pernikahan. Bukan masalah biasa. Pernikahan itu pertanggungjawaban sampai akhirat Mi, bukan main-main" jelas Ray lagi


"Sudahlah Ray, Mami tidak mengerti dengan semua yang kamu maksud. Yang pasti pernikahan harus segera kita lakukan, jangan menundanya lagi, karena perusahaan kita sangat membutuhkan kerja sama dengan perusahaan orang tua Bela" jelas Bu Santi


"Mi, Ray tidak mencintai Bela. Dan Bela bukan wanita seperti yang Ray impikan" ucap Ray


"Cinta? apa itu cinta Ray? kita tidak butuh cinta, yang kita butuhkan kerja sama dengan perusahaan Pak Boby. Mami yakin perusahaan kita akan semakin maju pesat setelah kamu menikah dengan Bela. Ingat Ray, seorang pengusaha itu tidak membutuhkan cinta, yang perlu kita pikiran hanya bagaimana caranya memajukan perusahaan kita" ucap Bu Santi


"Mi, apa semua kekayaan yang kita tumpuk ini nantinya akan kita bawa saat kita meninggal?" tanya Ray


"Sudah-sudah, jangan mulai ceramah lagi. Sebaiknya kamu besok segera ajak Bela untuk fitting baju. Ingat Ray, jangan pernah kecewakan Mami!" tegas Bu Santi menutup telpon


Ray hanya diam memandangi ponselnya. batinnya sedih namun sebagai anak dirinya juga tidak mau mengecewakan orang tuanya.


"Hufft... " Ray menjatuhkan tubuhnya diranjang empuknya, menatap langit-langit kamarnya


Merenungi kenapa orang tuanya tidak pernah mau mengerti apa yang dirasakan Ray. Mungkin orang yang melihat Ray dikira hidupnya bahagia karena semuanya dirinya miliki tapi tidak seperti yang dilihat, jika boleh Ray memilih Dirinya ingin seperti orang biasa tapi penuh kehangatan keluarga.


^Happy Reading^

__ADS_1


Jangan lupa like, coment Vote dan kasih Poin ya readers, dukungan kalian sangat berarti bagi Thor terimakasih🙏


__ADS_2