
Sore ini pak Burhan mengajak Wati untuk berkunjung ke rumah kakaknya, Pak Herman dan Bukan Retno sempat bingung kenapa Burhan harus ke rumahnya dengan Wati, meskipun mereka tau ada cerita antara Wati dan adiknya Burhan. Tapi saat ini Burhan juga statusnya masih menjadi suami Devi.
"Burhan, apa maksud semua ini?"
Bu Retno mengalihkan pandangan kearah Wati
"Kak, Burhan kesini karena ingin minta restu dari kak Retno dan kak Herman" jawab Burhan
"Restu? Restu bagaimana maksud semua ini?"
Bu Retno mengerutkan alisnya
"Tolong restui Burhan menikah dengan Wati" jawabnya
"Merestui kamu dan Wati? Apa maksudnya? kamu itu belum bercerai dari Devi han" ujar Bu Retno
"Tapi kak, Burhan ini laki-laki. Burhan berhak menentukan kebahagiaan Burhan dengan menikah lagi kan kak?" ucapnya
"Maksud kamu? kamu mau poligami? benar seperti itu?" sahut Pak Harman
"Iya kak, tolong restui kami. Kami akan menikah, Burhan akan poligami" jawab Burhan
"Astaghfirullah Burhan, kenapa kamu punya pikiran seperti itu, poligami itu buku perkara mudah. Islam memang membolehkan laki-laki menikah lebih dari satu, tapi bagi yang mampu bersikap adil. Jika kamu tidak berbuat adil maka bukan pahala yang kamu dapat melainkan dosa yang akan kamu dapat." jelas bu Retno
"Benar apa yang akan dikatakan kakak kamu Burhan, poligami itu tidak semudah yang diucapkan, ada syariat nya. dan kita manusia biasa tidak akan mungkin bisa berlaku adil." sahut pak Herman
"Lalu apa yang harus Burhan lakukan? sejak pembahasan kita dulu dengan Devi sampai saat ini Devi juga tidak pernah berubah, Devi tidak pernah melakukan tugasnya sebagai seorang istri. kalau seperti itu, apa itu belum menjadi alasan yang kuat untuk Burhan poligami? laki-laki mana yang bisa bertahan menjalani rumah tangga seperti itu kak? Burhan juga ingin bahagia, Burhan ingin memiliki anak seperti yang lainnya. Tapi Devi, selalu menolak memiliki anak karena takut akan menggangu karirnya." ujar Burhan
Pak Herman menghela nafas, sesungguhnya sebagai seorang laki-laki pak Herman bisa mengerti kenapa Burhan akhirnya memutuskan untuk poligami.
"Burhan tidak ingin masuk kedalam lebah dosa lagi kak, karena itu Burhan ingin menikah dengan Wati, mungkin Wati tidak sederajat dengan kita, tapi Burhan yakin Wati bisa menjadi istri yang baik untuk Burhan. Burhan ingin memperbaiki semuanya kak, Burhan ingin taubat dan membangun rumah tangga yang semestinya dengan Wati" imbuhnya
"Lalu bagaimana dengan Devi? apa Devi bisa menerima keputusan kamu ini?" tanya Bu Retno
"Devi tau, aku sudah pernah mengutarakan semua ini pada Devi, tapi tentu saja Devi tidak mau, karena takut harga dirinya hancur. Yang ada dipikiran Devi hanya harga diri."
"Kalau begitu kamu ceraikan saja Devi" ucap Bu Retno
"Seandainya Devi bersedia cerai, hal itu sudah terjadi dari dulu kak" jawab Burhan
"Apa boleh poligami tanpa ijin dari istri pertama?" tanya bu Retno
"Assalamu'alaikum" ucap Aisyah dan Danu yang baru datang
"Walaikumsalam" jawab semua melihat arah suara
"Kebetulan Aisyah pulang, coba saja kamu tanyakan pada Aisyah" ucap Bu Retno
"Mau tanya apa ma? tanya Aisyah
"Ini Ais, om Burhan mau menikah lagi sama Wati, seperti yang kamu tau. Istri om Burhan ini kan tidak mau melakukan tugasnya sebagai seorang istri, dan Devi juga tidak mau memiliki anak karena takut mempengaruhi karirnya. Dan ol Burhan tidak ingin melakukan dosa lagi, karena itu om Burhan ingin menikah dengan Wati. Tapi masalahnya, Devi tidak mengijinkan Burhan untuk menikah lagi, diajak cerai juga tidak mau. Tapi dia juga tidak mau melakukan tugasnya sebagai seorang istri, kalau masalahnya seperti itu, apa boleh om Burhan menikah dengan Wati meskipun tanpa ijin dari Devi?" jelas Bu Retno
"Dalam Islam, poligami merupakan cara agar lelaki tidak terjerumus ke dalam perbuatan menyimpang, seperti berzina dan juga cara untuk menjaga kehormatan perempuan dan lelaki. Poligami juga dapat menjadi cara untuk memperbanyak keturunan. Apalagi disini tante Devi dengan tegas tidak mau menjalankan kodratnya sebagai seorang istri yang harusnya melayani suami dan juga melahirkan anak.
Karena itu poligami tanpa ijin istri pertama sebenarnya diperbolehkan agama karena ada alasan syar'i. Sebab, menurut hukum fikih, meminta ijin bukan bagian dari rukun atau syarat pernikahan. Menurut pandangan agama islam sah nikah cukup rukun dan syarat." ujar Aisyah
"Berarti om boleh kan menikahi Wati?" tanya Burhan
"Boleh Om Burhan, karena ada alasan syar'i disini. untuk menghindari zina dan untuk meneruskan keturunan" jawab Aisyah
Setelah mendengarkan apa yang dikatakan Aisyah, dan juga mencoba konsultasi dengan Abah Bu Retno dan pak Herman memberikan restunya pada Burhan dan Wati, karena biar bagaimana menikah tetap lah jauh lebih baik untuk menghindari zina.
Setelah melangsungkan pernikahan Burhan memberanikan diri untuk mengajak Wati pulang ke rumah dan memberitahu kebenarannya pada Devi.
***
Dikediaman Pak Burhan
__ADS_1
Klek..
Devi membuka pintu dan Devi yang seharian leleh bekerja dengan gontai masuk kedalam rumah. Devi menghentikan langkahnya saat melihat suami dan asisten rumah tangga mereka duduk disofa ruang keluarga.
"Apa-apa ini? kenapa dia ada disini? bukankah aku sudah memecat kamu?" Devi menunjuk Wati yang saat ini tertunduk karena takut
Burhan yang m duduk disamping Wati menggenggam tangan wanita yang saat ini sudah menjadi istrinya.
"Apa yang kamu lakukan mas? apa yang ingin kamu tunjukkan dengan berpegangan tangan di depanku seperti itu?" tanya Devi
"Aku dan wati sudah menikah. Sekarang Wati juga istriku. Aku ingin kamu bisa menghormati pernikahan kami" ucap Burhan
"Ck..aku tidak sudi berbagai suami dengan pembantu"
"Sekarang dia istriku bukan pembantu" ujar Burhan
"Hah.. meskipun dia kamu nikahi tidak akan merubah kenyataan kalau dia seorang pembantu. Dan aku tidak sudi berbagi suami dengan seorang pembantu!" tegas Devi
"Aku tidak butuh persetujuan dari kamu, mau tidak mau, suka tidak suka Wati adalah istriku!" tegas Burhan dan berdiri menggandeng tangan Wati hendak pergi
"Mau kemana kamu pah?" teriak Devi
"Malam ini aku pulang ke rumah Wati. Aku akan mencoba berlaku adil pada kalian, dan aku tidak akan menempatkan kalian pada satu rumah yang sama. Assalamu'alaikum" ucap Burhan melanjutkan langkahnya namun dengan cepat Devi menarik rambut Wati
"Dasar wanita murahan, tidak tau diri, puas kamu? sudah puas menghancurkan rumah tangga majikan kamu sendiri? orang yang sudah menggaji kamu?" ucap Devi murka menarik rambut Wati
"Aaaww... ampun bu, ampun, maafkan saya" tangis Wati kesakitan
"Maaf kamu bilang? enak saja kamu minta maaf setelah apa yang sudah kamu lakukan" teriak Devi
"Lepaskan Wati, Ma lepaskan Wati! jangan sakiti Wati!" teriak Burhan hingga akhirnya Devi melepaskan Wati
"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Burhan panik dan memegang kepala Wati
"Aku tidak apa-apa mas" ucap Wati menggelengkan kepala seraya merapikan rambutnya kembali
"Astaghfirullah, Mama cukup!" teriak Burhan menatap Devi tajam
"Kenapa kamu terus saja menyalahkan orang lain? rumah tangga kita ini sudah rusak jauh sebelum aku jatuh cinta pada Wati. Aku sudah mencoba memberi kamu kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga kita, tapi apa? apa kamu berubah? apa kamu menjalankan tugas kamu sebagai seorang istri?"
"Aku itu kerja pah, kamu tau itu. Kenapa masih saja kamu mempermasalahkan hal yang sama" ujarnya
"Kerja? untuk siapa kamu bekerja? aku bisa menghidupi kamu tanpa kamu harus bekerja. Aku hanya ingin kamu menjalankan tugas kamu sebagai seorang istri, kita ini tidak kekurangan uang. Kamu tidak perlu menjadikan kerja sebagai alasan untuk tidak melakukan tugas kamu sebagai seorang istri" ucap Burhan
"Mana bisa seperti itu? aku ini wanita karir, mana bisa aku diam dirumah" ujarnya
"Kalau seperti itu, kenapa kamu harus marah aku menikah lagi? sekarang kamu bebes bekerja dua puluh empat jam, terserah kamu.Biarkan Wati yang mengurus ku" ucap Burhan
"Tapi aku juga tidak mau kamu menikah lagi pah!" ucap Devi
"Egois" ucap Burhan
"Iya aku memang egois, aku tidak mau kamu menikah lagi, apa lagi menikah dengan pembantu. Karena itu hanya akan menghancurkan harga diriku" jelas Devi
"Terserah kamu, aku capek berdebat dengan orang egois seperti kamu." ucap Burhan berlalu
"Sayang ayo kita pulang" ucap Burhan pada Wati
***
"Aaawww... " Teriak Devi mengacak-acak kamarnya melampiaskan emosi yang membuncah
"Bagaimanapun bisa mereka menikah di belakangku? kurang ajar, mau aku taruk mana harga diriku jika sampai ada yang mengetahui suamiku menikah lagi dengan pembantu kami" gumam Devi frustasi
Sampai saat ini, nyatanya Devi belum menyesal karena tidak menjadi istri yang baik untuk suaminya. Ambisinya untuk menjadi wanita karir mengalahkan segalanya.
***
__ADS_1
Dirumah Ray
Matahari membias kamar pacaran menyilaukan mata Bela
"Hoam.. " Bela mengeliat dan merasa ada beban berat yang menindih badannnya
Bela membuka matanya dan melihat Ray yang masih tidur di sampingnya.
Ya setelah sholat subuh, Ray karena merasa capek setelah serangkaian acara pernikahan kemarin membuatnya kelelahan dan tidur kembali disamping Bela, setelah berusaha membangunkan Bela untuk sholat subuh namun tak ada respon dari Bela.
Bela memperhatikan Ray yang sedang tertidur memeluk dirinya
Tak bisa dipungkiri ketampanan Ray sempat mengusik hatinya dan membuat debaran dihatinya yang cukup meresahkan. Tapi Bela kembali mengingat tujuannya menikah dengan Ray dan berusaha membatasi diri untuk tidak jatuh cinta pada Ray
"Sudah puas memandang" ucap Ray membuka mata
Bela gugup karena Ray yang tiba-tiba membuka matanya.
"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Bela gugup
"Sejak kamu memandangi wajahku yang tampan ini" ucap Ray tersenyum
"Si-siapa yang memandangi kamu, kamu aja yang kepedean." kilah Bela seraya melepaskan diri pelukan Ray
Tapi dengan cepat Ray kembali memeluk dirinya
"Kamu kenapa jadi mesum gini sih? ingat kan? kita ini menikah tanpa cinta. Ini hanya pernikahan bisnis" tegas Bela
"Pernikahan bisnis? tidak ada yang namanya pernikahan bisnis. pernikahan itu sakral bukan untuk permainkan seperti yang kamu katakan. Dan dari awal aku sudah mengingatkan kamu, aku tidak akan main-main dengan pernikahan kita, apapun alasan dibalik pernikahan kita, aku tidak akan mengingat itu karena sejak aku mengucap ijab qobul, sejak saat itu aku akan berusaha menjadi seorang suami yang bertanggungjawab." jelasnya
"Ta-tapi.. aku tidak mencintaimu" ucapnya
"Dari awal aku sudah mengatakan tidak ada kata mundur setelah kita menikah, cinta atau tidak cinta kamu tetap istriku, dah kamu harus belajar mencintai aku" ucap Ray tersenyum menyeringai
Ray turun dari kasur dan berjalan keluar menemui orang tuanya.
"Bela mana Ray? tanya bu Santi
"Ada dikamar" jawab Ray duduk dan menuangkan air dalam gelas
"Ray, karena kalian sudah menikah. Mami dan Papi juga harus segera kembali ke Singapura. Kami tidak bisa lama-lama disini karena perusahaan tidak memungkinkan untuk ditinggal terlalu lama" ujar pak Yudha
"Pagi, Pi, Mi" ucap Bela menuruni anak tangga
"Pagi sayang, sarapan dulu. Itu Ray juga lagi sarapan" ucap bu Retno
"Mami tidak sarapan?" tanya Bela
"Kami sudah sarapan tadi pagi, nunggu pengantin baru kelamaan" goda bu Retno yang mengira tadi malam pengantin baru itu menikmati malam pertama mereka, padahal tidak ada yang terjadi diantara mereka. Karena saat Ray memasuki kamar pengantin ternyata sang istri sudah lebih dulu tertidur dengan pulas.
"Mi, Pi. Kapan kira-kira kalian akan mengumumkan tentang penyatuan perusahaan kita dan pengalihan saham untuk Bela?" tanya Bela
"Sayang, kenapa harus buru-buru membahas perusahaan? nikmati saja masa-masa pengantin baru kalian. Tidak perlu terburu-buru menyatukan perusahaan" jawab bu Santi
"Benar Bela, kamu fokus saja dengan masa-masa indahnya pengantin baru, atau kalian mungkin mau honeymoon dulu ke Paris atau ke Swis atau kemana terserah kalian. Nikmati saja hari-hari kalian" sahut pak Yudha
"Tapi Pi, menurut Bela lebih cepat menyatukan perusahaan lebih baik. Dan sepertinya masalah bulan madu, bagaimana kalau kita tunda dulu? Bela harus segera kembali ke Singapur. Sudah terlalu lama Bela meninggalkan perusahaan" ucap Bela
"Bel, kita ini baru menikah. Sehari juga belum genap. Kamu sudah bilang mau kembali bekerja ke Singapura? kamu anggap aku ini apa?" Ray kesal dengan keputusan Bela tanpa diskusi dengan dirinya.
"Tentu saja kamu suamiku sayang, tapi bagaimana lagi, saat ini aku masih menjabat CEO diperusahaan Papi. aku harus menyelesaikan tugasku dulu sebelum aku menjadi istri yang baik buat kamu. Tidak mungkin kan aku meninggalkan perusahaan begitu saja? aku harus bertanggungjawab dengan perusahaan" jelas Bela
Bu Santi dan pak Yudha yang juga seorang pengusaha tentu saja dapat memaklumi perkataan Bela.
"Apa yang Bela katakan memang benar Ray, dia tidak bisa begitu saja meninggalkan perusahaan." sahut bu Santi
^Happy Reading^
__ADS_1