Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 120


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Aisyah" ucap Khadijah


"Walaikumsalam, mbak Khadijah, Ilham" jawab Aisyah membalikan badannya saat akan masuk butik


"Maaf ya kami datang tanpa memberitahu dulu, kami kesini untuk berpamitan. Karena kami sore nanti akan kembali ke Madinah" ucap Khadijah


"Sudah mau pulang?" tanya Aisyah


"Iya Aisyah, sudah cukup lama kami di Indonesia, Ilham juga harus segera menyelesaikan kuliahan" jawab Khadijah


"Aisyah kami kesini ingin mengucapkan terimakasih, khusunya aku. Kamu sudah menyadarkan aku kalau takdir Alloh itu pasti yang terbaik. Aku yang sempat meragukan semua itu padahal aku paham ilmunya, tapi aku sendiri mengingkari. Alhamdulillah berkat kamu aku bisa kembali yakin bahwa takdir Alloh adalah yang terbaik, asalkan manusia itu iklas menjalani. Dan ternyata benar saat aku iklas Alloh menunjukkan maksud dari ketetapan Alloh, Alloh menyatukan aku dan Khadijah, Alhamdulillah ternyata Khadijah memang jodoh terbaikku dari Alloh. Dan aku harap, Danu juga jodoh terbaik buat kamu. Terkadang angan-angan manusia terlalu melampaui batas hingga melupakan Alloh adalah sebaik-baiknya perencana. Kegagalan bukan akhir segalanya tapi justru kegagalan adalah awal kebahagiaan yang sebenarnya" ujar Ilham


"Takdir Alloh tidak pernah Salah, yang salah adalah sudut pandang kita yang terlalu sempit dalam menyikapi ketetapan Alloh tapi Alhamdulillah sekarang kita semua bisa mengambil hikmah dan pembelajaran dari semua ketepan ini, Aisyah do'akan semoga kalian selalu bahagia dan semoga segera diberi momongan"


Aisyah tersendiri dan memeluk Khadijah,


"Terimakasih Aisyah, semoga persahabatan kita dan kerjasama diantara kita bisa terus terjalin" ucap Khadijah dan semua mengaminkan


***


"Fit, bagaimana orderan yang via online semua sudah dikirim?" tanya Aisyah yang sedang melihat orderan dibutik


"Sudah Ais, semua sudah terkirim. Untuk yang baju keluaran terbaru sudah banyak pesanan yang masuk juga. Tapi saat ini sudah kami tutup orderan nya" terang Fitri


"Ya sudah, terimakasih ya Fit. Kamu sudah banyak membantuku"


"Iya sama-sama Aisyah. Kita balik ke kampus dulu yuk. Hari ini kamu ada bimbingan dosen kan?"


"Iya aku ada, tapi kamu kan hari ini tidak ada bimbingan? apa kamu mau ikut ke kampus? tanya Aisyah


"Iya aku mau ikut kamu kekampus saja, dirumah juga mau ngapain? mas Fir juga masih dikampus" jawab Fitri tersenyum


"Emm.. kirain ke kampus emang untuk nemanin aku, ternyata modus mo ketemu pak Fir" goda Aisyah


"Hehehe.. Kan sambil nyelam minum air itu namanya Ais" jawab Fitri tersenyum memperlihatkan gigi putih yang tersusun rapi


"Tenggelam namanya" sahut Aisyah


"Hehehe.. udah ayo berangkat, keburu telat nanti" ucap Fitri mengambil tas diatas mejanya


"Sebentar aku telpon mas Danu dulu ya!" ucap Aisyah mengambil ponsel dan mencari kontak nomer suaminya


Tak lama setelah menyambungkan terdengar suara salam dari sebrang telpon


"Aisyah dari butik tapi ini masih ada bimbingan dosen, jadi Aisyah balik kampus lagi ya mas" ucap Aisyah


"Iya, tapi diantar sopir ya! masih disitu kan pak Damar?" tanya Danu


"Iya mas. Assalamu'alaikum" jawab Aisyah menutup telpon


"Walaikumsalam" jawab Danu


***


"Istri kamu hamil masih kamu ijinkan kerja dan kuliah Dan?" tanya Ray yang saat ini sedang berada di kantor Danu


"Iya masih, yang penting tidak kecepatan dan kemana-mana sama sopir. Kalau masalah pekerjaan, itu hanya sebagian hobby saja. Jadi Aisyah gak ambil banyak orderan." jawab Danu


"Dan kemana-mana dia ijin dulu gitu sama kamu? kok tadi sepertinya mau kekampus juga telpon kamu dulu?"


"Iya, mau kemana pun dia pasti ijin dulu. Dan dia gak akan pergi sebelum dapat ijin dariku"

__ADS_1


"Bedanya menikah dengan orang yang tau ilmu agama gitu ya. Beda dengan_" Ray menghela nafas dan tidak melanjutkannya


Sabda Rasulullah Shallahu alaihi wasalam: "Siapa saja perempuan yang keluar rumahnya tanpa ijin suaminya dia akan dilaknat oleh Allah sampai dia kembali kepada suaminya atau suaminya redha terhadapnya." ( HR. Al Khatib ). Seorang istri harus izin kepada suaminya untuk keluar rumah termasuk untuk ke rumah orang tuanya.


"Seandainya Bela juga mengerti semua itu" gumam Ray


"Ray, berdoalah mohon petunjuk dan pertolongan dari Alloh. Yakinlah pertolongan Alloh itu sungguh nyata. Aku yakin akan ada hikmah dibalik semua ujian ini, hanya saja kamu harus sabar. Alloh tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan umatNya. Kita do'akan semoga Papi dan Mami mu serta istrimu segera mendapatkan hidayah dari Alloh"


"Kamu beruntung punya istri seperti Aisyah, Niko juga sama beruntung punya istri seperti Ulya. Kenapa istriku sendiri yang seperti itu" keluh Ray


"Ray jangan bicara seperti itu, itu namanya kamu tidak percaya dengan Alloh. Alloh mempertemukan kamu dan Bela juga bukan tanpa maksud. Kamu hanya perlu bersabar" ucap Danu


"Astaghfirullah" Ray berkali-kali istighfar


Jika seorang wanita menunaikan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad).


Ray menghela nafas dan terus beristiqhfar, berharap suatu saat istri yang baru sehari dinikahi dan bahkan belum pernah disentuh sama sekali itu benar-benar sadar dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


***


Di Singapura


"Bel, semalam apa kamu tidak pulang lagi ya? tanya Bu Santi


"Iya Mi, Sorry tapi Bela banyak banget pekerjaan yang terbengkalai karena persiapan pernikahan Bela Mi, jadi sekarang Bela harus lembur. Mi bagimana kalau sebaiknya Bela tinggal sama Papi Bobby saja. Kasihan Papi sendirian" pintar Bela


"Tapi bagaimana kalau Ray menanyakan kamu? Mami harus jawab apa?" tanya bu Santi


"Bela rasa, Ray tidak akan menanyakan apa-apa Mi, karena sampai saat ini saja Ray juga tidak pernah menghubungi Bela?"


"Bela, kamu itu sebagai seorang istri. Seharusnya kamu. Menghubungi Ray dan kamu minta maaf sama Ray. karena kamu mengabaikan tugas kamu sebagai seorang istri. Suami mana yang tidak marah jika istri pergi begitu saja sehari setelah pernikahan" sahut Yudha ikut geram dengan sikap Bela yang sekarang selalu pulang menjelang pagi


"Pi, kok ngomong gitu sih" ucap bu Santi menggelengkan kepala dan membulatkan matanya pada pak Yudha


"Bagaimana dengan janji kamu? kamu sudah janji kan, setelah kami mengumumkan penyatuan perusahaan kita dan Papi transfer saham untuk kamu, kamu akan kembali ke Indonesia?"


"Pi, kalau Bela kembali ke Indonesia sekarang bagaimana dengan perusahaan?" kolah Bela


"Percayakan saja sama kami, ada Papi kamu juga kan kamu tidak perlu bekerja sekeras ini" jelas pak Yudha


"Pi, sudahlah pi, Papi ini apa-apaan sih. Ini kan lagi makan, gak baik. ribut dimeja makan" Bu Santi mencoba menengahi


"Bela pergi dulu Mi, Dan Bela sebaiknya tinggal kembali bersama Papi Bobby untuk menghindari perdebatan ini." ucap Bela berlalu


"Mi, lihat itu menantu pilihan kamu, tidak ada sopan-sopannya" gerutu pak Yudha


"Kok jadi nyalahin Mami. Itu kan juga pilihan Papi. Papi lupa yang pertama punya ide menjodohkan Ray dengan Bela siapa?" bu Santi tidak mau kalah


"Iya, tapi kan kamu yang nyuruh Ray dicarikan jodoh wanita yang sederajat dengan kita bahkan lebih. Sekarang lihat hasilnya"


"Sudahlah pi, kita tidak perlu ribut dengan semua ini. Mami ada rapat pagi ini. Mami berangkat" ucap bu Santi berlalu


***


"Sayang, kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan kan? perusahaan juga sudah aman. kapan kamu akan meminta cerai dari suami kamu itu?" ucap Brian setelah melakukan hubungan terlarang dengan Bela


"Sabar sayang, aku sebenarnya juga sudah ingin segera menyelesaikan pernikahan ini secepatnya. Tapi untuk itu kan aku harus kembali ke Indonesia dulu, sedangkan pekerjaanku disini belum bisa aku tinggal" ucap Bela yang saat ini tubuhnya hanya tertutup oleh selimut dan menyandarkan kepalanya didada Brian


Saat ini Brian dan Bela sedang berada didalam kamar hotel melakukan hubungan terlarang.


"Tapi benar kan, kamu belum pernah di sentuh sama suami kamu?" tanya Brian melihat Bela

__ADS_1


"Ya ampun sayang, boro-boro nyentuh. lihat aku saja dia gak berani. Dia itu laki-laki yang aneh deh, gak kayak umumnya laki-laki" ucap Bela yang terbiasa dengan pergaulan bebas luar negeri


"Tapi kok aneh ya, bukannya dia itu besar diluar negeri ya? seharusnya dia bukan laki-laki cupu dong?" Brian memicingkan matanya


"Aku juga tidak paham, setauku memang dia kuliah diluar negeri, tapi sumpah sayang dia itu laki-laki yang membosankan. Bayangkan saja waktu aku nikah sama dia, bisa-bisanya dia suruh aku pakek baju kedodoran pakek kudung-kudung gitu, Ya ampun rasanya aku tu malu banget pakek baju kayak gitu. untung saja aku tidak mengundang teman-temanku, bisa jadi bahan olok-olokan mereka kalau sampai tau aku pakek baju kayak gitu" gerutu Bela


"Hahaha... kolot banget berarti suami kamu ya" goda Brian


"Udah-udah tidak usah bahas dia, lebih baik kita bahas hubungan kita saja." ucap Bela


"Hubungan kita? apa yang perlu dibahas dari hubungan kita? bukankah semua baik-baik saja?" Brian memilih matanya melihat Bela


"Iya juga sih" ucap Bela tersenyum manja dan memeluk Brian


***


Dikediaman pak Bobby


"Malam Pi" ucap Bela


"Malam sayang, tumben disini? kirain lupa rumah semenjak tinggal bersama mertua" pak Bobby tersenyum


"Papi bisa aja, ya gak mungkin lah Bela lupa rumah" Bela mendudukkan tubuhnya yang terasa penat disofa


"Pi, perusahaan kita sekarang sudah aman, apa Bela boleh meminta cerai dari Ray?" tanya Bela


"Tenang sayang, kenapa harus buru- buru? memang apa salahnya menikah dengan Ray? kenapa kalian gak mencoba menjalani pernikahan yang sesungguhnya saja" ucap pak Bobby


"Pi, Papi tidak lupa kan? pernikahan ini hanya untuk menyelamatkan perusahaan kita. Bela punya cowok Pi, dan kami saling mencintai. Bukankah Papi sudah janji akan merestui hubungan Bela sama Brian kalau Bela berhasil mendapatkan saham dari keluarga Ray? dan sekarang Bela sudah mendapatkan Saham seperti yang Papi mau, jadi sekarang giliran Papi menepati janji Papi sama Bela" ucap Bela


"Iya-iya Papi ingat janji Papi. Tapi sebenarnya kalau dipikir-pikir Ray itu jauh lebih baik dari Brian. Ray jelas asal usulnya. Dari keluarga terpandang. Sedangkan Brian? orang tuanya di Indonesia hanya sebagian pegawai biasa. Tidak bisa di bandingkan dengan keluarga Ray."


"Pi, cukup Pi, sebaiknya Papi tepati saja janji Papi. Bela sudah mendapatkan apa yang Papi mau, apa lagi sekarang yang Papi mau?" Bela menaikan bahunya


"Bela-bela, Saham yang di kasihkan mertua kamu itu tidak seberapa dibanding dengan saham yang mereka miliki, jika kamu bisa bertahan lebih lama. Papi yakin mertua kamu akan memberikan saham yang jauh lebih besar" terang pak Bobby


"Kita ini sudah kaya Pi? untuk apa lagi?" Bela kesal dengan papinya dan pergi ke kamarnya


Bela melemparkan tasnya ke sembarang arah dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur


Bela mengambil ponselnya melihat foto pernikahan yang sempat dia abadikan di ponselnya saat menggoda Ray


Tiba-tiba saja Bela tersenyum melihat foto pernikahannya


"Ternyata aku cantik juga ya pakai jilbab" gumam nya.


Bela terus menggeser foto di galerinya. Sampai ternyata menemukan foto Ray yang tidak sengaja ikut nimbrung sesaat setelah ijab qobul.


"Kamu sebenarnya baik Ray, kamu juga sangat tampan. Bohong kalau aku tidak tertarik dengan kamu. Hanya saja aku tidak pantas untuk kamu. Bukan aku tidak mau menjalankan tugas ku sebagai seorang istri. Sebenarnya aku pun ingin bersama kamu dimalam pernikahan kita saat itu, hanya saja.. aku takut kamu akan kecewa mengetahui aku yang sudah tidak lagi perawan. Laki-laki agamis seperti kamu pasti akan mempermasalahkan soal keperawanan." Gumam Bela masih memandangi foto Ray


Malam itu, disaat malam pengantin Ray dan Bela. Sebenarnya Bela masih terjaga saat Ray masuk kedalam kamarnya. Hanya saja saat itu Bela sengaja pura-pura tidur agar Ray tidak meminta haknya sebagai seorang suami. Bukan karena sengaja tidak ingin memberikan hak nya tapi saat itu Bela takut kalau Ray akan kecewa jika mengetahui kenyataan tentang dirinya. Jauh di lubuk hati Bela sebenarnya sudah mulai tumbuh benih ketertarikan terhadap suaminya. Tapi Bela sadar dirinya tidak pantas untuk laki-laki seperti Ray.


Bela menggela nafas dan berusaha memejamkan matanya. Namun tidak bisa dipungkiri perasaan bersalah sering membayangi hidupnya.


^Happy Reading^


Jangan lupa like, coment, vote dan kasih poin ya🙏Dukungan kalian sangat berarti bagi Thor. jangan lupa juga follow ya🙏


Bagi yang belum faham caranya memfollow


__ADS_1


ini caranya ya bagi yang mau memfollow tapi belum bisa, kalian bisa klik profil Qurrotaayun seperti yang Thor lingkari itu, terus klik "IKUTI"


Terimakasih🙏


__ADS_2