Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CUEK


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang, Aisyah perlahan membuka matanya. melihat ternyata disamping nya kosong tidak ada Danu disana.


Aisyah bangun dari tempat tidur nya. berniat kekamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Aisyah terkejut saat melihat ternyata Danu tidur diSofa.


ada sedikit perasaan lega, setidaknya Danu juga belum siap untuk menjalankan kewajiban nya sebagai seorang suami. karena keduanya juga belum saling mengenal. semua terasa mendadak.


Aisyah yang berusaha tidak menghiraukan keberadaan Danu dan segera mengmbil air wudhu.


Sebenarnya Ais ingin membiarkan Danu tetap tidur. tapi sebagai sesama muslim Ais tidak bisa membiarkan nya melewatkan waktu subuh nya.


Perlahan Aisyah membangun kan suami


"Mas, mas Danu bangun sholat subuh" ucap Ais


Tapi Danu yang terlalu ngantuk karena semalam tidurnya terlalu malam bahkan hampir pagi tidak merespon.


Tiga kali Ais berusaha membangunkan tapi Danu hanya mengeliat


Aisyah pun akirnya memutuskan untuk sholat subuh sendiri.


Selesai sholat subuh Ais menuju dapur untuk memasak sarapan.


"Bik.. " ucap Ais menyapa bik siti


"Non Ais, kenapa sudah bangun?" tanya Bik Siti


"Tadi habis sholat subuh bik, sekarang mau bikin sarapan"Jawab nya


"Sebaiknya Non kembali kekamar saja, biar bik siti yang masak" ucap bik siti


"Tidak bik, mulai sekarang biar Ais yang masak. karena ini tugas dan tanggung Ais sebagai seorang istri" ucap Ais tersenyum


"MasyaAlloh betapa beruntung nya Den Danu mempunyai istri seperti non Ais, cantik, sholihah" bik siti kagum


"Masih jauh dari kata sempurna bik, masih harus banyak belajar untuk menjadi seorang istri." ucapnya


Setelah menyiapkan makanan di meja makan, Ais segera kembali kemar untuk mandi dan bersiap ke kampus. rupanya Danu sudah tidak ada disofa dan sepertinya sedang mandi.


Ais menunggu Danu yang sedang dikamar mandi dengan membaca buku-buku kuliah nya.


Klek


suara pintu kamar mandi dibuka dan Danu keluar sudah dengan setelan jasnya terlihat begitu rapi.

__ADS_1


Aisyah hanya diam dan menundukkan pandangan nya. menutup bukunya kembali. Ais segera kekamar mandi untuk bersiap ke kampus


Sementara Danu segera keluar menuju meja makan. keduanya masih saling diam tidak saling bicara.


"Tumben mama menyiapkan sarapan sebanyak ini, biasanya cm sarapan roti" ucap Danu dimeja makan


"Ini mama sama papa juga baru keluar dari kamar. kok tumben sarapan sudah tersedia sebanyak ini"


"Bik siti yang masak mungkin" Sahut pak Herman


"Non Ais yang masak nyonya, tuan. Den Danu ini beruntung sekali mempunyai istri yang cantik,pinter masak dan sholihah" ucap bik Siti


"Aisyah yang masak semua ini" bu Retno tercengang


"Iya Nyonya, bahkan mau saya bantuin tidak mau. katanya mulai sekarang Non Ais yang akan melakukannya karena sudah tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri" ucap bik siti lagi


"MasyaAlloh, tidak salah kita cari menantu pa" ucap bu Ratno melihat suaminya


"Masih jauh dari kata sempurna ma, Ais masih harus banyak belajar dari mama untuk bisa menjadi istri sholihah" Sahut Ais yang sudah rapi dengan gamis dan jilbab besarnya.


"Ais, kok bawa buku. mau kemana?" tanya bu Retno


"Ais ijin ma, pa, mas Danu. pagi ini Ais mulai kuliah seperti biasa" ucap Ais


"Jika mas Danu mengijinkan, Ais ingin melanjutkan kuliah sampai selesai. entah nantinya mas Danu memberi ijin Ais untuk bekerja atau tidak, setidaknya sebagai seorang istri. Ais juga mengeyam pendidikan yang baik. karena sebagian seorang muslimah juga diwajibkan untuk menuntut ilmu.


Bukankah dulu, ibunda Aisyah istri Nabi yang merupakan Ummul mukminin. juga dianjurkan oleh Nabi untuk terus belajar "ucap Aisyah


" Bagaimana Danu?" tanya bu Retno


"Semisal nantinya aku melarang kamu untuk bekerja apa kamu akan menurutinya?" tanya Danu Asal, mengingat Valen yang ternyata lebih menggilai dunia kerja setelah lulus kuliah.


"Jika memang mas Danu melarang Ais uny bekerja, Ais tidak akan bekerja." jawabnya


"Lalu untuk apa kamu kuliah kalau tidak untuk bekerja nantinya?" tanya Danu yang merasa aneh dengan jawaban Ais


Aisyah tersenyum


"Bagi seorang muslimah belajar bukan hanya untuk dirinya sendiri. tapi ilmu yang didapat seorang muslimah akan berguna untuk anak-anak nya kelak. bukankah seorang ibu itu merupakan madrasah pertama untuk anak-anak nya?" jawab Ais


"MasyaAlloh Ais, mama benar-benar merasa beruntung punya menantu seperti Ais" bu Retno kagum


Mendengar Jawaban Ais Danu yang sebenarnya sedikit tersentuh hatinya pura-pura tidak perduli dan mulai memasukkan makanan kemulut nya.


"Bagaimana mas?" tanya Aisyah menayangkan rasa masakan nya.

__ADS_1


"Biasa aja" jawab Danu datar tapi kembali menyendok makanan nya kembali.


Bu Retno dan pak Herman yang penasaran segera menyantapnya


"Enak kok, enak banget malah" ucap pak Herman


"Iya ini enak banget lho Ais" timpal bu Retno


"Maaf ya mas, kalau masakan Ais belum cocok buat mas Danu. Ais belum tau makanan kesukaan Mas Danu." ucap Ais


"Danu itu sejak kecil sebenarnya susah makannya. mama saja tidak tau sebenarnya makanan kesukaannya apa."


Ais hanya senyum


Setelah selesai makan Ais pamit untuk berangkat kekampus karena jaraknya terlalu jauh dari rumah suaminya sehingga Ais harus berangkat lebih pagi.


"Lho gak bareng Danu saja?" tanya pak Herman


"Tidak bisa pa, arah kami berlawanan. Danu harus segera sampai kantor juga." ucap Danu sengaja menghindari


"Iya pa, Ais naik kendaraan umum saja" ucap Ais senyum


"Kendaraan umum? Ais kamu itu istri seorang Direktur Utama. kenapa harus naik kendaraan umum? kamu biar diantar supir saja kalau begitu" ucap bu Retno


"Tidak usah ma, terimakasih. Ais naik kendaraan umum saja. seperti mahasiswa pada umumnya" jawab Ais senyum


"Ya sudah kalau begitu. tapi ingat ya. kalau ada apa-apa segera hubungi kami" ucap bu Retno


"Iya ma, Ais berangkat dulu" pamit Ais mencium tangan kedua mertuanya dan Danu.


Danu yang masih bersikap dingin seolah cuek.


"Danu istri kamu mau pamitan kenapa malah diam saja" tegur bu Retno


Dan Danu memberikan tangannya untuk bersalaman dengan Ais.


"Ais berangkat mas" ucap Ais mencium tangan Danu


Sebenarnya ada sedikit perasaan yang menyentuh tiap kali Ais mencium tangannya. seperti perasaan dihargai. karena sebelumnya Valen tidak pernah melakukan hal seperti itu


"Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam" jawab semuanya


"Danu, cobalah buka hati kamu. betapa beruntung nya kamu mendapatkan istri seperti Aisyah. di jaman seperti sekarang ini, mana ada perempuan seperti dia. lihat saja diusianya yang masih sangat muda pemahaman soal agama dan apa kewajiban seorang istri dia bisa memahami nya dengan baik" ucap Bu Retno

__ADS_1


__ADS_2