
"Selamat malam Pak Boby, ini pasti Bela ya? anak pak Boby?" tanya pak Yudha setelah berjabat tangan dengan pak Boby rekan bisanya
"Iya om, saya Bela anak Papi" jawab Bela tersenyum dan menjabat tangan pak Yudha serata bu Santi
"Cantik sekali, lebih cantik aslinya dari pada fotonya" puji bu Santi
"Terimakasih tante" Bela tersipu
"Ini Ray putra pak Yudha?" tanya pak Boby
"Oo iya perkenalkan ini Ray putra Kami, Ray ini pak Boby dan ini Bela. Seperti yang Papi sudah jelaskan kalau kami sudah mengatur pernikahan kalian" jelas pak Yudha
Ray mengulurkan tangan pada pak Boby tapi Ray tidak melihat kearah Bela
"Ray kamu belum kenalan sama Bela" ucap bu Santi
Bela berinisiatif mengulurkan tangan lebih dulu tapi Ray hanya membalas dengan menyatukan tangannya ke depan dada seraya tersenyum
"Saya Ray" ucap Ray singkat
Bela yang merasa malu menarik tangannya kembali karena Ray tidak mau berjabat tangan dengannya
"Ray kamu apa-apaan sih?" tegur pak Yudha
"Maaf tapi kami bukan mahram jadi kami tidak boleh bersentuhan" jawab Ray menohok sontak saja kedua orang tuanya tercengang
"Anak mama sepertinya otaknya benar-benar sudah tercuci, bisa-bisa mengatakan seperti itu" bisik pak Yudha
"Bagaimana kalau kita sebaiknya langsung mulai makan malam saja, kebetulan saya sudah lumayan laper" ucap bu Santi mengalihkan pembicaraan
"Sebaiknya begitu, kita mulai saja makan malamnya. Bela kamu ambilkan buat Ray" ucap pak Boby
Bela mengambilkan makanan dan memberikan pada Boby.
"Terimakasih" ucap Ray tanpa melihat Bela. Karena penampilan Bela dengan gaun hitam selutut dan memperlihatkan lengan serta belahan dadanya membuat Ray risi untuk melihatnya. Didalam hati Ray juga terus beristighfar. Mungkin jika Ray mengenal Bela jauh sebelum dirinya memutuskan berhijrah penampilan seperti itu terlihat biasa bagi Ray. Tapi setelah dirinya memutuskan berhijrah dengan sendirinya Ray merasa risih dan tidak suka dengan perempuan yang suka mengumbar auratnya. Bahkan dengan sengaja mempertontonkan pada lawan jenis yang jelas-jelas bukan mahram.
"Ray, kamu tau tidak Bela ini lulusan Aussie lho, dan sekarang diusinya yang muda sudah mulai menghandle perusahaan Papinya yang disini. Hebat ya Bela" puji bu Santi
"Tante bisa saja, saya masih harus banyak belajar kok tan, oya Ray kegiatannya apa?" tanya Bela
"Saya hanya membantu mengawasi perusahaan Papi yang di Indonesia saja. Tidak ada yang menarik" jawabannya tanpa melihat Bela
"Itu juga hebat, anak muda seperti kamu mau berkontribusi untuk perusahaan keluarga. Karena kebanyakan pemuda jaman sekarang hanya mau enaknya saja, giliran disuruh terlibat dalam perusahaan tidak mau" sahut pak Boby
__ADS_1
"Iya Ray ini sejak kecil anaknya memang penurut banget. Mungkin karena Ray anak kami satu-satunya jadi kami memang dari awal hanya menyuruhnya fokus pada bisnis keluarga yang sudah kami bangun selama ini. Jadi Ray juga tidak mempelajari hal lain selain bisnis. " ucap bu Santi
Ray sejak kecil memang seperti tidak punya cita-cita karena semua orang tuanya yang memutuskan, Ray tidak pernah diberi kesempatan untuk menentukan jalan hidup yang ingin dijalaninya. Bukan Ray tidak punya keinginan sendiri tapi Ray hanya mengubur semua keinginan yang ada dihatinya, karena apapun yang Ray inginkan pasti akan ditentang oleh kedua orang tuanya. Hingga akhirnya Ray memilih untuk tidak memiliki cita-cita apapun itu, Ray hanya menjalani hidupnya sesuai dengan keinginan orang tuanya.
Setelah acara makan selesai Ray ditingal dengan Bela sendiri. Hal itu dilakukan sengaja oleh orang tua mereka agar Ray dan Bela lebih leluasa untuk berbincang dan keduanya bisa segera akrab satu sama lain.
"Ray kemu kenapa dari tadi hanya diam dan menunduk? apa sebegitu tidak menariknya aku dimata kamu? Ray kamu tau kan perjodohan diantara kita ini sudah ditentukan orang tua kita. Dan kita mau tidak mau, suka tidak suka tetap harus menerima perjodohan kita" ucap Bela
"Kenapa harus seperti itu? apa kita tidak berhak menentukan pasangan hidup kita sendiri?" tanya Ray tanpa melihat Bela
"Ray kamu itu jangan buang-buang waktu dan pikiran kamu untuk mencari cara menolak perjodohan ini, karena percuma saja. Mau kamu tolak seperti apa perjodohan diantara kita pasti akan tetep terjadi. Hidup kita itu hanya untuk kemajuan perusahaan kedua orang tua kita. Kamu tau kan sebagai seorang anak pengusaha kita itu tidak bisa seperti anak-anak yang lain yang bisa menentukan jalan hidup mereka sendiri. Bahkan pernikahan yang seharusnya untuk kedua orang yang saling mencintai pun tidak berlaku untuk anak pengusaha seperti kita, karena pernikahan bagi mereka juga bisnis. Dengan menikah mereka bisa menyatukan kedua perusahaan untuk menjadi lebih kuat dan lebih besar lagi. Bukankah kedua orang tua kita juga menikah seperti itu? menikah hanya untuk bisnis?" tutur Bela yang hidupnya hampir sama dengan Ray, sejak kecil selalu dituntut untuk menjadi yang terkuat dan terpintar agar suatu saat nanti bisa memimpin perusahaan yang sudah orang tuanya bangun untuknya.
Sebenarnya didalam hati Ray paham dengan apa yang dikatakan Bela. Karena ternyata Bela pun mengalami hal yang sama seperti dirinya yang mau tidak mau harus menerima keputusan yang telah orang tuanya buat.
"Kenapa hanya diam? masih mau memberontak untuk menolak pernikahan kita?" tanya Bela
Bela ini memang memiliki kepribadian yang apa adanya ceplas ceplos kalau bicara.
Ray hanya diam dan menggelengkan kepala
"Aku itu ngomong sama kamu lho Ray, okay aku tau mungkin kamu tidak suka denganku karena perjodohan yang telah orang tua kita atur ini, tapi setidaknya hargai aku kalau aku lagi bicara mAku tidak suka ya, diperlakukan seperti ini" Bela mulai kesal karena Ray seolah acuh dengan dirinya bahkan sedikitpun tidak mau melihat
"Kamu salah paham denganku, justru aku tidak mau melihat kamu karena aku menghargai kamu. Dan aku berusaha menjaga marwah kamu sebagai seorang wanita" jelas Ray
"Aku tidak mau melihat kamu untuk menjaga marwah kamu sebagai seorang wanita, karena saat ini kamu menggunakan pakaian yang tidak pantas untuk dlihat. Sebagai seorang wanita sebaiknya kamu tidak mengubar aurat kamu seperti itu" Ray mencoba menasehati agar Bela lebih memperhatikan penampilannya
"Memang apa yang salah dengan penampilanku? aku rasa pakaianku baik-baik saja, aku terlihat cantik dengan pakaian ini. Kamu lihat saja aku cantik kan? jangan bilang kalau aku tidak cantik karena semua orang yang melihatku pasti memuji kecantikanku" ucap Bela
"Iya mungkin kamu cantik , tapi akan jauh lebih cantik kalau kamu menutup kecantikan kamu dan tidak mempertontonkan secara gratis begitu saja. Jadilah wanita yang mahal yang bukan murahan. Seperti buah yang dijual contohnya harganya lebih mahal mana? buah yang tidak terbungkus dan dibiarkan semua orang memegangnya atau buah yang terbungkus dan orang hanya bisa melihat dari luar saja? pasti harganya akan lebih mahal buah yang terbungkus kan?" ucap Ray membuat Bela naik pitam
"Maksud kamu aku wanita murahan? Keterlaluan kamu, aku akan bilang sama Papi kalau kamu menghina aku murahan. Asal kamu tau ya, selama ini semua orang memujaku dan tidak ada yang pernah bilang aku murahan seperti kamu. Kamu belum tau rupanya siapa aku" geram Bela merasa terhina dengan perkataan Ray
"Bukan seperti itu maksudku, kamu hanya salah paham dengan maksud yang ingin aku sampaikan" jelas Ray
"Salah paham kamu bilang? bukan aku yang salah paham tapi kamu yang keterlaluan." ucap Bela menyambar tas dan berlalu
***
"Ray berhenti, Papi mau bicara" ucap pak Yudha dengan meningikan suara
Ray sudah bisa membaca kemarahan apa yang kali ini akan dilupakan Papi nya. Bela pasti sudah mengadukan tentang apa yang barusan dikatakan Ray
"Ada apa Pi?" tanya Ray menghentikan langkanya
__ADS_1
"Sejak kapan kamu menjadi orang yang kurang ajar? Lama-lama otak kamu ini benar-benar tercuci orang-orang gak jelas. Bagaimana bisa kamu mengatakan Bela murahan? apa itu pantas kamu ucapkan didepan seorang wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri kamu?" cerca pak Yudha
Pak Yudha begitu marah ketika menerima telpon dari pak Boby kalau Ray merendahkan Bela dan mengatakan Bela wanita murahan.
"Bela hanya salah paham saja dengan maksud Ray, Ray tidak mengatakan Bela wanita murahan, Ray hanya menasehati Bela agar lain kali menggunakan pakaian yang pantas dan pakaian yang bisa menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita, bukan pakaian yang mempertontonkan auratnya dan membiarkan semua laki-laki bebas memandangnya dengan gratis. Itu saja" jelas Ray
"Lihat Mi anak kamu, sepertinya otak Ray sudah benar-benar tercuci Mi" ucap pak Yudha mengusap wajahnya kasar
"Menang kenapa dengan pakaian Bela, itu pakaian dari disainer terkenal dan mahal. Ayolah yRay jangan jadi norak seperti ini" sahut bu Santi
"Norak bagimana maksud Mami? Ray hanya mengatakan yang seharusnya Ray katakan. Mi seorang muslimah itu haram hukumnya mempertontonkan aurat seperti itu.
Sehelai rambut wanita yang dilihat lelaki bukan mahram dengan sengaja, balasannya 70 ribu tahun dalam neraka. Sehari akhirat 1.000 tahun di dunia. Seorang wanita masuk neraka akan menarik ayahnya, adiknya, suaminya, dan anak lelakinya”. Ingat, itu baru satu helai rambut Mi.
Islam sudah mengatur cara seorang muslimah berpakaian, karena Alloh sangat memuliakan wanita. Ada dalil yang mengatakan,
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". (QS Al-Ahzab : 59)
Ray Harap Mami juga mulai membenahi cara berpakaian Mami, karena Raya sayang sama Mami dan ingin nanti diakhirat kita kembali bersama." jelas Ray.
"Sudah-sudah, kamu tidur saja. Kepala Mami pusing malah dengar kamu ceramah." ucap bu Santi memijit kepalanya
"Ray itu benar-benar keterlaluan deh Pi, lihat saja bisa-bisanya malah ceramah kayak gitu" gerutu bu Santi setelah Ray masuk kamar
"Sebaiknya kita harus segera menikahkan Ray dengan Bela sebelum semakin menjadi itu Ray" jawab pak yudha
Dini hari Pak yudha dan bu Santi sudah siap dengan pakaian kerjanya karena pagi ini ada meeting dengan klien. Dan sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat Al-Quran dari kamar Ray, Pak Yudha dan bu Santi melihat Ray yang ternyata sedang membaca Al-Quran karena pintu kamar Ray tidak tertutup dengan rapat.
Melihat putranya sedang khusuk membaca Al-Quran, Pak Yudha dan bu Santi memutuskan berangkat ke kantor dan tidak berpamitan dengan Ray, hanya saja didalam mobil bu Santi mengirimkan pesan kalau dirinya sudah berangkat karena ada meeting pagi.
Hal seperti itu sudah biasa bagi Ray yang sejak kecil selalu ditinggal kerja dari pagi sampai malam. Dan jarang bagi mereka untuk bisa menghabiskan waktu bersama.
"PI sebenarnya apa yang dikatakan Ray itu membuat Mami kepikiran lho Pi" ucap bu Santi dalam mobil
"Sudahlah Mi, tidak usah ikut-ikutan seperti Ray" jawab pak Yudha dan kembali fokus pada laptop di depannya.
"Pi, apa Papi tidak takut kalau kita meninggal kita akan dineraka?" tanya Bu Santi lagi
"Sudah mi, jangan berpikir yang terlalu jauh. Kita ini orang baik, tidak pernah menyakiti orang. Kita berdua tidak sholat karena kita sibuk. Alloh pasti memaklumi itu kok, lagipula kita ini kan rajin sedekah. Jadi sudahlah Mami tidak usah memikirkan omongan Ray" Pak Yudha kembali sibuk mempelajari bahan untuk meeting pagi ini. Seperti itulah kehidupan yang dijaili orang tua Ray jauh dari Agama. Dan hanya disibukkan dengan Dunia, Bagi mereka dunia adalah segalanya. Mereka lupa dunia hanya tempat singgah yang akan kita tinggalkan, sedangkan Akhirat itu tujuan yang pasti kita akan datangi dan itu kekal. Janganlah jadi budak dunia, hingga kita melupakan tujuan akhir kita yaitu Surga"
*Flashback Off*
^ Happy Reading ^
__ADS_1
Masih ditunggu Like, Coment Vote dan hadiahnya ya, karena akan ada hadiah pulsa dan parfum untuk lima pemberi dukungan terbanyak terimakasih 🙏