Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 49


__ADS_3

Dirumah Ulya


Ulya duduk yang sedang duduk dibalkon melihat pemandangan sekitar, dan menatap langit gelap yang dihiasi bintang-bintang.


Sekuat hati mencoba tersenyum dan mengatakan "aku baik-baik saja" tapi kenyataannya hatinya terasa pilu, awal mula rujuk Zidan memang terlihat berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik, bisa adil antara dirinya dan Sela. bahkan terlihat sering membelanya ketika Sela mulai berbuat ulah. namun belakangan, Zidan kembali seperti dulu. kembali condong kepada Sela apalagi saat ini Sela sedang hamil. itu yang selalu dijadikan alasan untuk tidak datang mengunjungi Ulya.


Udara terasa dingin menusuk kedalam tulang, namun semua itu tak dihiraukan Ulya. dirinya larut dalam kesedihan.


Ulya mengambil ponsel dan menggeser tombol hijau memanggil Zidan


"Assalamu'alaikum mas"


"Walaikumsalam"


"Mas, apa hari ini kamu tidak pulang lagi?"


"Maafkan Mas Zidan Ulya. Mas harap Ulya bisa mengerti, Sela saat ini lebih membutuhkan mas Zidan berada disini"


"Jadi kesimpulannya mas Zidan hari ini tidak pulang lagi?" tanya Ulya.


"Tolong Ulya mengerti lah keadaan mas disini. Mas tidak mungkin meninggalkan Sela" terang Zidan


"Mas, apa selama ini Ulya kurang mengerti kamu mas? Ulya selalu mencoba mengerti situasi yang sudah mas Zidan ciptakan. dari awal mas meminta ijin untuk berpoligami Ulya sudah memberitahu kepada mas Zidan. kalau poligami itu bukan hal yang mudah. bahkan sampai saat mas Zidan meminta rujuk Ulya juga sudah mengingatkan. apa benar mas zidan sanggup berlaku adil pada Ulya dan Sela? tapi kenyataan seperti ini kan? lagi dan lagi Ulya yang harus merasakan sakit ini sendiri" ucap Ulya.


"Ulya kamu kenapa seperti ini? dulu kamu sangat patuh dan penurut kenapa sekarang kamu selalu saja protes?" ucap Zidan


"Aku protes? bagaimana bisa kamu bilang seperti itu mas? aku sudah berusaha sabar mas, aku berusaha sabar menghadapi kamu. aku berpikir kali ini kamu benar-benar akan berubah. tapi apa? kamu sama saja, sama sekali tidak ada perubahan. selalu saja Sela yang kamu pikirkan. aku juga membutuhkan kamu mas. aku juga punya perasaan yang bisa merasakan sakit"ucap Ulya


"Ulya sudah ya sayang, jangan ribut lagi. mas capek mendengar ocehan kamu terus Assalamu'alaikum"


"Mas, mas Zidan" ucap Ulya tapi Zidan sudah memutus sambung telpon nya.


"Hua.. Hua... " Ulya menangis sejadi-jadinya dibalkon dan tiba-tiba saja merasakan kepalanya begitu pusing. Ulya berusaha menghubungi kembali Zidan tapi tidak diangkat. Ulya juga menghubungi Sela namun panggilannya di abaikan.


Dengan gontai Ulya berjalan sempoyongan hingga lantai bawah


Bruk..


Ulya jatuh tersungkur ke lantai

__ADS_1


"Mbak.. mbak.. bangun mbak.. aduh gimana ini? kenapa pingsan disini? mana gak ada orang lagi. gimana ini?" ucap Niko panik


Dan dengan perasaan ragu serta takut Niko membopong tubuh Ulya menuju parkiran dan mendudukkan tubuh Ulya dikursi belakang.


Niko segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Sesekali Niko melirik kaca diatasnya melihat Ulya yang belum sadarkan diri.


"Bagaimana ini kalau ada apa-apa dengan wanita itu, bisa-bisa aku dituduh macam-macam. aduh.. kenapa juga tadi aku tolongin? harusnya tadi aku biarkan saja. aku kan tidak kenal siapa dia. akh.. sudahlah pikir nanti saja. yang penting aku sampai rumah sakit dulu" gumam Niko panik


Sesampainya rumah sakit, Niko kembali membopong tubuh Ulya dan membawanya masuk kedalam UGD


"Sus tolong Sus, tolongin wanita ini" ucap Niko menidurkan tubuh Ulya dibrankar.


Dokter dan perawat segera memeriksa keadaan Ulya dan menyuruh Niko untuk menunggu diluar dan menyelesaikan administrasinya.


Setelah mengurus administrasi Niko kembali ke UGD


"Bagaimana keadaan wanita didalam sus?" tanya Niko pada perawat yang baru saja keluar


"Apa bapak suaminya pasien?" tanya perawat.


"Begini pak, pasien dehidrasi berat dan kekurangan nutrisi. sepertinya pasien sudah beberapa hari tidak makan dan minum dengan baik." ucap perawat


"Oow.. tapi tidak parah kan Sus? apa sudah bisa saya tinggal?" tanya Niko


"Sebaiknya bapak tunggu pasien sampai sadar dan tolong hubungi keluarga pasien" ucap perawat


"Tapi saya juga gak tau keluarga wanita itu siapa dan dimana Sus" ucap Niko


"Kalau begitu bapak bisa tunggu didalam nanti setelah pasien sadar bapak bisa bertanya" ucap perawat


"Baiklah, terimakasih Sus" ucap Niko masuk kedalam ruang perawatan Ulya


Niko menatap wajah Ulya yang masih belum sadarkan diri. ditatap nya lekat wajah dengan paras cantik dan tubuh yang tertutup dengan pakaian syar'i nya.


"Aku seperti pernah melihat wanita dengan paras dan pakaian seperti ini tapi dimana ya?" gumam Niko berusaha mengingat-ingat


"Agh.. sudahlah, mungkin hanya perasaan aku saja" gumamnya lagi

__ADS_1


"Hoam" Niko menguap, matanya terasa sangat mengantuk.


Niko mendudukkan tubuhnya dikursi samping ranjang Ulya.


"Mas.. mas.. " terdengar suara dari mulut Ulya lirih


Niko yang kepalanya sudah berat karena mengantuk seketika mengangkat kepalanya saat mendengar suara Ulya.


"Mbak sudah bangun?" tanya Niko


Perlahan Ulya membuka matanya yang terasa berat. melihat sekeliling yang tampak berwarna putih


"Kamu sudah sadar? apa kamu ingat siapa nama kamu?" tanya Niko mendekat


"Astaghfirullah, jangan mendekat" ucap Ulya tercengang karena ada laki-laki yang tidak dikenal berada dekat dengannya


"Hai.. kamu kenapa ketakutan seperti itu? aku ini yang menolong kamu, dan aku cuma mau tanya. apa kamu ingat siapa nama kamu dan dimana keluarga kamu?" tanya Niko


"Ja-jadi kamu yang membawa aku kesini?" tanya Ulya gugup


"Iya, kamu pingsan di depan apartemen. sebenarnya aku mau membiarkan kamu tetep disana. tapi karena aku ini orang nya tidak tegaan terpaksa aku bawa kamu kerumah sakit. padahal seharusnya aku biarkan saja kamu tergeletak disana" ucap Niko


"Ma-maaf, maaf aku sudah membuat kamu repot" ucap Ulya lirih karena tenaganya belum sepenuhnya pulih


"Sudah itu tidak penting, sekarang katakan siapa yang harus aku hubungi. karena aku tidak mungkin meninggalkan kamu sendiri. sebelum ada keluarga yang menjagamu disini" ucap Niko


Ulya terdiam dan tampak kebingungan harus menghubungi siapa.


"Hei.. kenapa malah bengong? jangan bilang kalau kamu tidak punya keluarga?"


"Pu-punya aku punya keluarga, aku punya suami" ucap Ulya dengan mata berkaca-kaca


"Oo.. kamu sudah menikah, ya sudah berapa nomor suami kamu? biar aku hubungi suami kamu!" ucap Niko


"Percuma , dia tidak akan mungkin mau kesini" jawab Ulya meneteskan air mata


"Kasihan wanita ini. entah apa yang terjadi antara dia dan suaminya. namun sepertinya wanita sedang tidak dalam keadaan baik" batin Niko tidak mau bertanya lebih jauh namun ada perasaan iba dihatinya.


^ Happy Reading ^

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya sayangku, jangan lupa. Like, coment dan Vote karya ini ya. biar author semkin bersemangat dalam berkarya 🥰😘🙏🙏 karena dukungan kalian sangat berarti bagi Author


__ADS_2