
Tok.. tok.. tok..
Polisi mengetuk pintu kamar hotel tempat Vallen bersembunyi
Tok.. tok.. tok..
Berkali-kali diketuk namun tetep tidak ada jawaban. Sehingga Polisi meminta petugas hotel untuk bekerjasama dan membuka pintu hotel dengan kunci cadangan
Didalam hotel, Vallen yang mendengar pintunya diketuk sangat panik dan ketakutan.
Klek..
Pintu berhasil dibuka oleh pihak hotel dan kepolisian.
Polisi menemukan Vallen sedang duduk ketakutan dengan rambut acak-acakan disudut kamar dengan keadaan lampu yang gelap karena lampu dimatikan dan gorden ditutup dengan rapat.
"Pak maafkan saya pak, tolong maafkan saya. saya tidak sengaja melakukannya. tolong pak jangan bawa saya" rengek Vallen
"Silahkan saudari ikut kami ke kantor Polisi dan jelaskan semuanya dikantor Polisi" Jawab Polisi
"Tolong pak, saya mohon! jangan bawa saya. saya tidak bersalah. saya tidak bermaksud membunuhnya. saya tidak bersalah, saya mohon jangan bawa saya" kembali Vallen merengek karena ketakutan
Polisi akhirnya membawa Vallen dengan sedikit pemaksaan lantaran Vallen yang tidak bisa bekerjasama dengan pihak kepolisian.
__ADS_1
Dikantor Polisi, Vallen yang masih syok belum bisa dimintai keterangan lebih lanjut. bahkan Vallen hanya diam saat Pak Bagaskara dan BU Yesi mengunjungi dirinya.
"Kamu memang anak tak tau diuntung, menyesal Papi mengadopsi kamu dari panti asuhan, jika seperti ini balasan kamu. apa kamu tau? akibat dari perbuatan kamu, sekarang saham perusahaan papi anjlok, para pemegang saham memutus kontrak kerja dengan perusahaan. puas sekarang kamu menghancurkan keluarga yang sudah membesarkan kamu? ini balasan yang kamu berikan untuk keluarga yang sudah mengangkat derajat kamu?" cerca pak Bagaskara
"Pi tenang pi, jangan terbawa emosi! ingat Vallen itu anak kita" bujuk bu Yesi yang sebenarnya memang menyayangi Vallen. hanya saja sikap keras kepala Vallen dan kesombongan Vallen yang terkadang membuat Bu yesi juga kerap marah dengan Vallen
"Anak mami bilang? seorang anak tidak akan menghancurkan keluarganya seperti ini. kita besarkan dia layaknya ratu, tapi apa balasan yang dia berikan untuk kita? hancur semua usaha yang sudah papi rintis dari nol. Bukankah Papi sudah katakan, lupakan Danu menikahlah dengan David, laki-laki terpandang yang bisa mengangkat derajat kamu. papi menjodohkan kamu dengan David juga demi kebahagiaan kamu sendiri, agar kamu bisa selamanya hidup enak, apa kamu lupa bagaimana kehidupan kamu saat berada dipanti asuhan?" Pak Bagaskara begitu kesal dengan tindakan yang dilakukan Vallen
"Mami juga sebenarnya kasihan melihat kamu seperti ini Vallen, tapi apa yang kamu lakukan ini sama seperti seorang penjahat. kami mendidik kamu untuk menjadi wanita yang baik dan terhormat bukan malah jadi kriminal seperti ini!" Bu Yesi yang juga tidak dapat menyembunyikan kekesalannya pada Vallen. karena akibat dari ulah Vallen, kini kelurahan diambang kehancuran. bisnis yang sudah suaminya rintis selama bertahun-tahun terancam tidak terselamatkan
Tidak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut Vallen, Vallen hanya diam dengan wajah datar.
***
"Mas Danu, islam tidak mengajarkan kita untuk menyimpan dendam. Ais kecewa, Ais marah. Tapi ini sudah kehendak Alloh. Mbak Vallen harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. biar pihak kepolisian yang menangani kasus ini. Jangan kita kotori hati kita untuk menyimpan dendam pada seseorang." Aisyah kini sudah mulai iklas dengan takdir yang dijalaninya, meskipun berat tapi Aisyah percaya ketetapan Alloh adalah yang terbaik.
"Bagaimana bisa aku tidak membenci Vallen, karena dia anak kita meninggal, bahkan sebelum anak kita terlahir kedunia ini" Ucap Danu dengan mata berkaca-kaca
"Bukanlah anak itu titipan dari Alloh, yang namanya titipan. Kapan saja pemiliknya memintanya kembali maka kita harus mengikhlaskan." ucap Aisyah mencoba tersenyum walaupun hatinya terasa sangat sakit
Aisyah mencoba untuk iklas
"Maafkan aku sayang, seharusnya aku yang menguatkan kamu. aku tau sebenarnya diantara kita semua orang yang paling merasa kehilangan dan sedih itu kamu, tapi kamu masih berusaha tegar untuk bisa menghiburku" Danu menatap Istrinya lekat dan menyadari betapa tangguhnya hati Aisyah. dan Danu benar-benar menyadari usia memang tidak menjadi patokan seseorang untuk menjadi dewasa. diusia Aisyah yang sekarang bisa dengan tegar menghadapi ujian yang begitu berat dengan tetep tenang dan sabar.
__ADS_1
Tok.. tok...tok
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" jawab Aisyah dan Danu melihat kearah sumber suara
"Danu, Bu Aisyah" ucap Pak Bagaskara mengulurkan tangan pada Danu dan Aisyah begitu juga dengan bu Yesi
"Bu Aisyah, perkenalkan saya pak Bagaskara dan ini istri saya bu Yesi. Kami ini orang tua dari Vallen, lebih tepatnya orang tua angkat" ucap pak Bagaskara memperjelas status Vallen
Aisyah masih diam dan hanya melihat kearah pak Bagaskara begitu juga dengan Danu yang tak mengatakan apa-apa
"Begini Danu, Aisyah. saya yakin kalian berdua pasti tau alasan saya kemari. maka saya tidak akan berbasa-basi lagi, saya akan langsung pada tujuan saya. atas nama anak angkat saya Vallen, saya benar-benar minta maaf. Saya tau perbuatan Vallen tidak termaafkan. Kami pun marah dengan tindakan yang Vallen lakukan, kami tidak menyangka kalau Vallen akan berbuat sejauh itu. Bahkan sampai membuat kalian kehilangan calon anak kalian. Kami sebagai orang tua yang mengasuh Vallen dari kecil, merasa bersalah dan berdosa karena tidak bisa mendidiknya dengan baik" sesal pak Bagaskara terlebih setelah kini perusahaannya diambang kehancuran akibat berita yang beredar tentang Vallen yang dengan sengaja berupaya menghilangkan nyawa seseorang dan banyaknya pemegang saham yang lari ke perusahaan Danu Dirgantara
"Iya nak Aisyah, kami sungguh menyesal dengan perbuatan yang sudah Vallen lakukan. kami tidak menyangka Vallen akan nekat melakukan semua ini" tangis bu Yesi pecah
Aisyah yang berhati lembut tidak tega melihat air mata keluar dari mata seorang ibu, terlebih air mata itu disebabkan oleh anak yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri. pastinya hal ini bukan hal yang mudah untuk mereka
Aisyah meraih tangan bu Yesi dan tersenyum.
"Saya mengerti apa yang ibu rasakan, tapi apa yang sudah mbak Vallen lakukan itu salah. saya dan mas Danu memafkan mbak Vallen. Tapi biarkan hukum berjalan dengan semestinya. biarkan mbak Vallen menebus kesalahan yang telah dilakukan"
"Nak Aisyah terimakasih karena sudah mau memafkan Vallen, saya pun sependapat dengan kalian. kali ini biar Vallen menyadari kesalahannya dengan membayar apa yang sudah dilakukan" bu Yesi kini bisa menerima keputusan ini mungkin memang yang terbaik untuk Vallen. karena dari awal Vallen sendiri yang selalu membuat masalah.
__ADS_1
^ Happy Reading ^