
Semenjak kehilangan calon anak yang dikandungnya, Aisyah menyibukkan diri dengan kuliah dan pekerjaannya. tapi tentunya tetep mengurus suami yang paling utama bagi Aisyah, di sela-sela mengurus suami. barulah Aisyah mengurus yang lain. siang ini pulang kuliah, Aisyah mampir ke kantor suaminya, karena sekarang karyawan dibutik Aisyah sudah lebih banyak jadi Aisyah bisa lebih santai kerjanya. hanya saja untuk maslah disain, Aisyah tetep menghandle semua sendiri.
"Assalamu'alaikum Mas" ucap Aisyah masuk kedalam ruang kerja suaminya
"Walaikumsalam, Hai sayang. Kok. gak kasih kabar kalau mau kesini?" Danu tersenyum melihat kearah Aisyah
"Kenapa? gak boleh ya kalau kesini tanpa ngabari? kalau gitu Aisyah pulang saja" ucap Aisyah pura-pura ngambek
"Hai.. mau kemana sayangku, tentu saja sangat boleh. siapa yang bisa melarang bu Direktur kesini?" goda Danu berdiri dan mendekat pada Aisyah memeluknya dari belakang dan mencium kepala yang tertutup dengan jilbab
Klek..
"Astaghfirullah" gumam Pak Burhan menutup matanya dengan tangan lantaran terkejut melihat ponakannya berpelukan dengan istrinya dan Aisyah segera menarik diri menjauh dari Danu karena malu
"Kalian ini kebiasaan selalu saja pamer kemesraan" gerutunya
"Bukannya Om Burhan yang kebiasaan masuk ruangan orang tanpa mengetuk pintu, untung cuma pelukan kalau lebih bagaimana?" ucap Danu kesal meskipun tidak mungkin Danu melakukan hal lebh dari itu dikantor
"Kamu itu" ucap pak Burhan duduk disofa, Aisyah dan Danu pun ikut duduk disofa
"Huh.. jujur om dulu memang tidak menyukai Aisyah, tapi sekarang om sadar. wanita seperti Aisyah yang lah dibutuhkan seorang suami" Pak Burhan menghela nafas dan membetulkan kaca matanya
"Om Burhan kenapa? tumben tiba-tiba bicaranya seperti itu?" Danu menatap om nya yang tidak seperti biasanya yang selalu bersikap angkuh
__ADS_1
"Rumah tangga Om dan tante kamu seperti akan berakhir, rumah tangga kami yang penuh dengan sandiwara sepertinya akan segera usai" ucapnya menghela nafas kasar
"Apa apa om? apa om Burhan sedang ada masalah dengan tante Devi?" tanya Danu mencium bau yang tidak beres dengan rumah tangga omnya tersebut.
"Om digugut cerai, rumah tangga kami tinggal menunggu putusan hakim" jelas pak Burhan
"Astaghfirullah, sudah sejauh ini. Tapi Dan, papa dan Mama tidak tau tentang ini om?"
"Iya karena kami sengaja untuk menyembunyikan perpisahan kami agar tidak tercium awak media" pak Burhan dan bu Devi yang sangat menjaga namanya takut kalau perceraian mereka akan mempengaruhi nama mereka didunia bisnis yang mereka geluti.
"Apa yang melandasi perceraian antara om dan tante? kenapa harus sampai bercerai? apa tidak sebaiknya diselesaikan secara baik-baik tanpa ada perceraian om? Cerca Danu yang belum mengetahui akar permasalahan antara om dan tantenya berusaha untuk merubah pemikiran pak Burhan
"Om yang salah, tapi om juga tidak menyesalinya. karena om juga sudah muak dengan sikap tante kamu yang tidak pernah menganggap om sebagai seorang suami" cicit pak Burhan memijit keningnya
"Kamu itu, om tau sekarang kamu sudah pandai dalam hal agama. tapi untuk perceraian om jangan bawa-bawa agama" ucap Pak Burhan
"Bukan begitu om, Danu hanya tidak ingin om menyesalinya. apalagi jika kita mengambil keputusan disaat sedang emosi. pasti hasilnya tidak akan baik" terang Danu
"Rumah tangga kami tidak seperti yang terlihat Danu, tante kamu hampir setiap hari sibuk dengan bisnisnya bahkan tidak pernah lagi memperdulikan om sebagai seorang suami. om ini laki-laki normal yang juga membutuhkan penyaluran hasrat, om juga ingin dilayani disiapkan keperluan om. tapi hal itu tidak pernah dilakukan oleh istri om. karena itu om khilaf dan berselingkuh dengan pembantu rumah tangga kami, dan hal itu diketahui oleh tantemu" cicit pak Burhan
"Astaghfirullah" gumam Aisyah seketika mendengar pak Burhan mengatakan selingkuh dengan asisten rumah tangga mereka
Pak Burhan melihat kearah Aisyah seketika
__ADS_1
"Maaf om, Aisyah memang tidak berhak ikut campur dengan kehidupan om Burhan tapi sesama seorang muslim Aisyah wajib menyampaikan kalau perbuatan om itu salah dan itu sama halnya dengan om berzina. dosa berzina itu berat om.
Pezina perempuan dan pezina laki-laki, dirajam masing-masing dari keduanya seratus kali, dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama (hukum) Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sebagian orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nur: 2)." cicit Aisyah menjelaskan dalil untuk laki-laki dan perempuan yang berzina
"Haduh, istri kamu ini kenapa malah ceramah didepan om sih Dan?" Pak Burhan merasa panas dengan cicitan Aisyah yang terasa menjengkelkan ditelinga pak Burhan
"Tapi apa yang dikatakan Aisyah memang benar om, bukan karena tante Devi sibuk lalu om bisa membenarkannya perzinahan? apa yang om lakukan itu salah dan dosa besar" Danu merasa kali ini om Burhan sudah terlalu jauh dari ajaran agama
"Lalu om harus bagaimana? om ini laki-laki normal? berbulan-bulan istri om mengabaikan om begitu saja dengan alasan sibuk kerja" ucap pak Burhan mencoba memberikan alasan dari perselingkuhannya
"Tante mungkin salah, tapi perselingkuhan om yang menimbulkan perzinahan juga tidak bisa dibenarkan. karena perbuatan zina itu haram dan dosa besar om Burhan. seharusnya om bisa membicarakan sama tante dengan memberikan beberapa pilihan, meminta tante untuk meluangkan waktunya untuk om Burhan atau jika memang tante Devi tidak bisa lagi menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, minta ijin pada tante Devi untuk poligami saja, itu lebih mulia daripada harus berzina" ucap Aisyah
"Poligami? kamu pikir tante kamu akan memberikan ijin? Devi itu keras kepala dan harga dirinya sangat tinggi, mana mungkin mau dipoligami." jelas pak Burhan yang faham dengan watak istrinya
"Kalau seperti itu, kalian boleh bercerai dan om bisa kembali menikah tapi jangan berzina om. itu hanya akan mengundang kemurkaan Alloh. islam itu indah om, dan pasti akan ada solusi. jangan jadikan kesibukan tante Devi sebagai alasan dari perzinahan om Burhan" Aisyah mencoba memberikan pandangan
Islam itu tidak melarang seorang wanita untuk berkarir, tapi tepat harus ingat dengan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang ibu.
Jangan mengabaikan seorang suami, karena sejauh apapun langkahmu tidak akan berkah tanpa ridho dari suami.
^ Happy Reading ^
Jangan lupa like, coment dan Vote ya, jangan lupa di follow juga ya 🙏
__ADS_1