
"Jujur aku merasa malu sama kamu Ais, aku malu sebagai seorang Imam aku tidak memiliki bekal agama sebanyak kamu" ucap Danu
"Mas, kita belajar bersama ya! Ais pun masih harus banyak belajar" ucap Aisyah tersenyum
"Kamu mau mengajari aku" ucap Danu
"Kita akan belajar bersama mas"
"Sudah malam sebaiknya kamu segera tidur" ucap Danu melihat Aisyah yang masing juga belajar
"Iya mas" Ais menutup bukunya dan mengambil selimut dari lemari bersiap untuk tidur disofa.
Tanpa banyak kata Aisyah langsung merebahkan tubuhnya disofa.
Danu menatap Aisyah yang tertidur disofa masih dengan jilbabnya
"Aisyah.. " panggil Danu lirih
"Iya mas" Aisyah kembali membuka matanya
"Kamu biasanya kalau tidur memang memakai jilbab seperti itu? apa kamu tidak merasa panas tidur dengan baju seperti itu?"
"Tidak, biasanya Ais tidak menggunakan jilbab kalau tidur" jawab Aisyah
"Lalu kenapa selama kita menikah setiap hari bahkan tidur kamu pakek jilbab?" Danu penasaran
"Em.. itu karena... itu karena Ais malu mas" jawab Aisyah
"Malu? malu kenapa?" Danu yang dari kecil tinggal diluar negeri tentu saja merasa aneh mendengar Aisyah memberi alasan malu kalau tidak menggunakan jilbab.
Mamanya juga menggunakan jilbab tp hanya kalau ada acara atau sedang berada diluar rumah. sedangkan Aisyah tidur pun menggunakan jilbab syar'i nya.
"Apa ada sesuatu yang ditutupi dibalik jilbabnya ya" Batin Danu
"Aisyah malu, karena dari kecil Ais tidak pernah membuka jilbab Ais didepan laki-laki selain Abah" ucap Ais
"What? serius? cuma Abah Satu-satunya laki-laki yang pernah melihat rambut kamu?" Danu menggelengkan kepala tidak percaya
"Iya serius bang, karena satu langkah anak perempuan keluar rumah tanpa menutup aurat, maka satu langkah juga ayahnya mendekat
kedalam derasnya api neraka" ucap Ais
Danu semakin merasa kagum dengan Aisyah. tapi ada perasaan semakin penasaran juga dengan Aisyah.
"Perempuan itu saat lahir menjadi benteng api neraka untuk ayahnya, saat menikah menyempurnakan separuh agama suaminya dan saat menjadi ibu, surga ada dibawah telapak kakinya. karana itu Aisyah sangat berhati-hati dalam setiap tindakan termasuk menutup aurat mas" ucap Aisyah lagi
"MasyaAlloh Aisyah, pemahaman kamu tentang agama membuat aku kagum" batin Danu
__ADS_1
"Tapi aku kan suami kamu" ucap Danu
"Iya mas, seharusnya tidak masalah jika mas Danu menginginkannya hanya saja... hanya saja.. " Aisyah terdiam tidak melanjutkan kata-katanya
"Hahaha.. kenapa? kamu takut aku macem-macem" Danu tertawa
"Bu.. Bukan.. bukan seperti itu mas, jika pun mas Danu macem-macem sebenarnya itu hak mas Danu. tapi... tapi... " lagi-lagi Aisyah tidak mampu melanjutkan kata-katanya
"Aisyah.. aku tau, kamu belum siap. aku tau kita ini seperti dua orang asing yang mau tidak mau harus hidup bersama. aku tidak akan memaksa kamu. kita akan melakukannya saat kita berdua sama-sama sudah siap dan saat kita berdua sudah bisa saling mencintai. seperti apa yang pernah kamu bilang, jika Alloh saja mampu menjodohkannya kita maka tidak akan sulit bagi Alloh untuk menumbuhkan rasa cinta diantara kita berdua."ucap Danu lembut
"Mas Danu, terimakasih" Aisyah tersenyum lembut
***
Keesokan harinya
Setelah subuh seperti biasa Aisyah akan sibuk memasak didapur, dan meninggalkan ponselnya dikamar
Dret.. dret...
Mendengar ponsel Aisyah yang terus saja getar, Danu merasa penasaran dengan siapa yang menghubungi istrinya diwaktu sepagi ini.
Danu yang baru saja selesai mandi melihat ponsel Aisyah yang tergeletak dimeja.
Melihat panggilan masuk dari Ilham, seketika wajah Danu berubah. terlihat jelas ada kecemburuan yang tidak bisa lagi ditutupi.
Klek..
Suara pintu dibuka, segera ditarik kembali tangan Danu takut ketauan Aisyah.
"Mas" ucap Aisyah mendekat
"Ini tadi ponsel kamu getar terus, suaranya mengganguku" ucap Danu ketus
"Maaf ya mas, siapa yang menelpon mas" Aisyah melihat Danu
Danu tidak menjawab, Aisyah melihat ponselnya dan melihat ternyata Ilham yang baru saja memanggilnya. dan itu membuat Aisyah merasa bersalah
"Mas.. maaf. aku ti.. tidak bermaksud untuk menyembunyikan pernikahan kita. hanya saja aku menunggu waktu yang tepat agar Ilham tidak sakit hati. karena ini terlalu mendadak. aku hanya tidak ingin kabar pernikahan kita akan mempengaruhi study nya disana. tapi sumpah Demi Alloh mas, aku sudah tidak memiliki perasaan untuk nya."Ucap Aisyah merasa bersalah
"Tidak apa-apa, aku juga tidak maslah kalaupun kamu masih punya perasaan untuknya" ucap Danu seolah cuek dan segera bersiap berangkat kantor tanpa memperdulikan Aisyah
Danu yang merasa kesal buru-buru kekantor tanpa pamit pada Aisyah.
Aisyah yang sudah rapi siap berangkat kekampus. sampai bawah melihat kotak bekal makan siang Danu yang masih ada di atas meja.
"Bik.. mas Danu dimana?" tanya Aisyah
__ADS_1
"Lho sudah berangkat non, apa tadi tidak pamit?" tanya bik Siti
"Tidak bik, mungkin buru-buru, padahal aku sudah menyiapkan bekal makan siangnya." Aisyah merasa sedih
"Kenapa tidak Non antar saja kekantor nya" bik Siti memberi saran
"Apa tidak apa-apa bik, kalau aku kekantor nya?" tanya Aisyah
"Tidak apa-apa non, memang nya kenapa? non Ais kan istrinya. wajarkan kalau mengantarkan bekal untuk suaminya" jawab bik Siti
"Baiklah bik, biar Aisyah antar kekantor bekalnya. sekalian berangkat kekampus"
Sebenarnya kampus Aisyah dan kantor Danu berlawanan arah. tapi karena pagi ini Aisyah merasa bersalah sudah membiarkan suaminya berpikir Aisyah masih memendam perasaan pada laki-laki lain, Aisyah ingin kembali meminta maaf dan mengantarkan bekal Danu yang tertinggal.
Dikantor
"Pagi pak.. "Sapa salah satu karyawan dan Danu hanya sedikit mengangguk
"Pagi pak Danu" Suara bu Luna menghentikan langkah Danu
"Bu Luna, maaf kemarin saya sakit jadi tidak bisa menemani bu Luna untuk melakukan interview disainer yang baru" Ucap Danu
"Tidak apa-apa pak. aman!" ucap bu Luna senyum
"Baik saya tenang kalau seperti itu. saya yakin kalau bu Luna yang memutuskan pasti tidak akan salah pilih." ucap Danu
"Terimakasih sanjungan nya pak, hari ini disainer yang baru sudah mulai bekerja biar pagi ini saya suruh menghadap keruangan bapak dulu" ucap bu Luna
"Okay, saya tunggu" jawab Danu kembali melangkah keruang kerjanya.
Danu duduk di kursi kerjanya, mulai membuka berkas-berkas yang sudah tertumpuk dimejanya.
Tok.. tok..
"Masuk"
Danu yang sibuk menandatangani dokumen tidak melihat kearah pintu. pandangan nya fokus pada dokumen didepannya.
Tok.. tok...
Suara meja diketuk
"Selamat pagi pak Danu"
Suara yang sangat familiar dan tidak asing di pendengaran Danu.
^Happy Reading^
__ADS_1
Mohon dukungannya dengn Like, coment dan Vote ya. jangan lupa juga kasih rating bintang lima dan subscribe terimakasih 🙏😘🥰