
Hari ini dikantor Danu tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. kata-kata Aisyah selalu ada dalam benaknya
"Sepertinya aku salah menilai tentang dia. pemahaman nya saol agama begitu baik. selain dia pintar, ibadah nya juga sangat bagus apalagi pemahamannya tentang agama sungguh mengagumkan. selain itu dia juga cantik. pasti banyak laki-laki yang menyukainya. kasihan dia harus terikat pernikahan denganku karena janji orang tua kami" gumam Danu
Tok.. tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya
"Masuk"
"Saya sudah menyelidiki soal istri anda" ucap Roni
"Katakan" Danu menunggu
"Sepertinya apa yang anda pikiran tentang istri anda tidak benar. Bu Aisyah sepertinya menikah dengan anda bukan karena harta atau posisi anda.
Sebenarnya bu Ais sempat menolak tapi karena baktinya pada orang tua bu Aisyah tidak mampu menolak. bahkan.. bahkan" ucap Roni ragu
"Bahkan apa?"
"Sepertinya sudah ada laki-laki lain dihati bu Ais" jawab Roni
"Benarkah?" Danu merasa ada yang aneh di hatinya mendengar Aisyah ternyata sudah mencintai laki-laki lain
"Saya juga tidak yakin pak" Roni menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal
"Tidak yakin bagaimana maksud kamu?"
"Menurut informasi yang saya dapat mereka tidak pacaran. saya juga tidak faham. tapi mereka sudah membuat janji akan, apa itu namanya pak? em.. em.. tak.. tak.. ta'aruf pak. iya itu yang mereka katakan. mereka akan ta'aruf saat laki-laki ini nanti kembali ke Indonesia" ucap Roni
"Kembali ke Indonesia? memangnya dimana dia sekarang?" Danu penasaran
"Dia sedang belajar agama di Madinah" jawab Roni
"Belajar ilmu agama ya" tiba-tiba saja Danu meresa minder
Iya itu karena dia tau Aisyah memang pantas mendapatkan laki-laki yang pemahaman agamanya baik tidak seperti dirinya.
"Oya pak mengenai kuliahnya istri bapak mengambil jurusan HUKUM KELUARGA ISLAM di salah satu Universitas muslim Indonesia.
"Pantas saja dia sangat memahami tentang rumah tangga" Ada kebanggaan dirinya bisa mempunyai istri yang faham dengan agama tapi juga ada rasa minder dihatinya.
__ADS_1
Hari ini tak seperti biasanya Danu pulang lebih cepat.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" Jawab Bu Retno dan pak Herman yang sedang menikmati kue di taman yang ada di halaman rumahnya.
"Tumben jam segini udah pulang" tanya Bu Retno
"Iya ma, hari ini pekerjaan selesai lebih awal" jawab Danu mengambil kue dan memakannya
"Kuenya enak, beli dimana?" tanya Danu
Pak Herman dan bu Retno saling senyum berpandangan
"Ini tidak beli, tapi istri kamu yang bikin" ucap bu Retno
"Serius ma? Ternyata dia bisa bikin kue juga kenapa gak jualan kue saja" ucap Danu
"Kamu ini. Mama ingatkan lagi ya, kamu harus baik-baik sama istri kamu, jangan sampai menyesal nantinya" ucap bu Retno
"Danu masuk dulu ma, pa" ucap Danu sengaja menghindari mama dan papa nya
"Kamu itu Dan.. Dan.. " bu Retno menggelengkan-gelengkan kepalanya
Tanpa sadar Danu melangkahkan kaki nya kedapur
Dan melihat Aisyah yang tampak cekatan memasak. terlihat kalau dirinya memang pandai memasak.
"Mas Danu, sudah pulang" tanya Aisyah
"Iya" jawab Danu segera berlalu kekamar nya.
Waktu malam malam pun tiba, tidak seperti malam biasanya kali ini Danu ikut makan malam bersama. seperti orang yang sudah kecanduan dengan masakan Aisyah. Sekarang Danu merasa seperti ada yang kurang saat dirinya tidak makan masakan aisyah.
"Masyaalloh enak sekali masakan menantu mama. iya kan Dan? " puji bu Retno melirik Danu putranya
"Biasa saja" jawab Danu tak perduli
Selesai makan Seperti biasa Aisyah membersihkan semua piring baru kembali kekamar nya untuk belajar. Biasanya dengan tenang Ais akan belajar karena Danu jarang ada dikamarnya. tapi kali ini ada Danu dikamarnya sehingga membuat Ais merasa ada yang tidak biasa. Kali ini pikiran nya tidak bisa fokus.
Dret.. dret.. suara HP aisyah terus bergetar namun melihat nomor yang tertera Ais hanya diam membiarkan nya terus bergetar
__ADS_1
"Kenapa tidak diangkat? itu sangat mengganggu" ucap Danu
"Maaf mas" ucap Ais singkat berusaha menahan perasaannya untuk tidak mengangkat panggilan tersebut
Diam-diam Danu memperhatikan Ais yang tampak menyembunyikan kegelisahan
"Dari pacar kamu" celetuk Danu
"Bu, bukan mas" Jawab Ais gugup
"Kalau bukan kenapa tidak diangkat? angkat saja tidak masalah kok" ucap Danu
"Maaf mas sebelumnya, tapi saya tidak punya pacar dan akan berdosa bagi saya jika saya masih berhubungan dengan laki-laki lain" ucap Ais
"Kamu yakin tidak punya pacar? lalu siapa yang di Madinah?" Danu senyum menyeringai
"Ais katakan sekali lagi mas, Ais tidak punya pacar. karena di dalam ajaran agama Islam, tidak diperbolehkan untuk pacaran. dan kalau mas Danu mau tau siapa yang di Madinah. walaupun Ais tidak tau dari mana mas Danu mengetahui semua itu, tapi Ais wajib menjelaskan sendiri.
namanya Ilham. Sampai saat dimana sebelum kita ijab qobul Ais memang masih mencintainya. tapi kami tidak pacaran. hanya saja kami memiliki perasaan satu sama lain, dan ilham meminta Ais untuk berjanji akan menunggunya sampai dia pulang dari Madinah. karena ilham ingin kami melakukan ta'aruf saat dia sudah merasa pantas." Mata Ais berkaca-kaca
"Lalu kenapa kamu tidak menepati janji itu? bukankah itu juga sama saja berdosa?"
"Iya mas, tapi sebagai seorang anak. bakti Ais pada orang tua juga penting, dan Ais tidak mungkin bisa mengecewakan umi dan Abah. bagi Ais kebahagiaan mereka yang utama, walaupun pada akhirnya Ais harus menyakiti hati Ilham" Ais kembali sedih
"Apa kamu masih mencintainya?"
Ais menggelengkan Kepalanya
"Akan berdoa bagi seorang istri jika masih mencintai laki-laki lain padahal dia sudah mempunyai suami"
"Apa begitu mudahnya kamu melupakan orang yang kamu cinta?" selidik Danu
"Karena sesungguhnya kita tidak boleh terlalu mencintai suatu makhluk, sesungguhnya semua hanya karena Alloh. termasuk mencintai seseorang pun karena Alloh. apa yang kita miliki didunia ini semua milik Alloh dan karena Alloh" tidak ada yang sulit jika kita meniatkan semua karena Alloh. termasuk pernikahan kita."ucap Ais
"Apa kamu mencintaiku?"
Ais tersenyum
"Kenapa tersenyum, apa kamu memang mencintai ku?" tanya Danu lagi
"Mas Danu suami Ais, dan Ais selalu berdoa semoga Alloh menumbuhkan cinta diantara kita. karena sesungguhnya Pernikahan itu ibadah. dan salah satu cara seorang istri masuk surga itu dengan taat pada suaminya. bagaimana Ais bisa menjalankan ibadah ini kalau Ais tidak berusaha mencintai suami Ais?"
__ADS_1
"Tapi kita kan tidak saling mencintai Ais?"
"Kita memang tidak saling mencintai, tapi kenyataan Alloh mentakdirkan kita berjodoh. dan tidak akan sulit bagi Alloh untuk menumbuhkan rasa cinta diantara kita berdua. karena sesungguhnya Alloh maha pemolak malik hati." Ais tersenyum