
Dikamar Bu Yesi memikirkan perkataan Niko putra semata wayangnya yang kelak akan mewarisi semua perusahaan yang dimilikinya. memang apa yang Niko sampaikan tidaklah salah, hanya saja dilingkungan tempatnya bergaul tentu saja ini akan dijadikan sebagai bahan cibiran mereka, ya ibu-ibu sosialita tempatnya bergaul dikala senggang adalah ibu-ibu yang selalu memperhatikan hal-hal semacam ini, mengetahui anak semata wayangnya akan menikah dengan seorang janda pasti akan menjadi berita yang hot bagi mereka dan tidak akan habis-habis dibuat cibiran.
"Kamu kenapa ma? papa perhatian ada yang sedang dipikirkan?" tanya pak Bima
"Iya pah, memang saat ini mama sedang memikirkan sesuatu" jawabannya
"Memang apa yang saat ini sedang mengganggu pikiran mama?" pak Bima melihat kearah istrinya yang saat ini sedang bersandar disamping pak Bima
"Ini soal Niko pah" bu Yesi ragu ingin menceritakan apa yang dipikirkannya saat ini, tapi bu Yesi juga resah jika putranya benar-benar mencintai Ulya. Bukan karena Bu Yesi tidak suka dengan Ulya, seandainya Ulya bukan janda. mungkin bu Yesi sendiri yang akan meminta Ulya untuk menjadi menantunya, tapi mengingat status Ulya yang seorang janda. Bu Yesi menjadi ragu dan tidak siap jadi bahan cibiran teman-teman sosialitanya.
"Niko kenapa mah?" Pak Bima masih menunggu istrinya bercerita
"Sepertinya anak kita sedang jatuh cinta" jawab bu Yesi
"Alhamdulillah, berita bagus dong kalau Niko jatuh cinta. Itu artinya kita tidak perlu khawatir kalau Niko tidak mau menikah. Dan itu berarti kita juga bisa segera punya cucu" pak Bima tersenyum bahagia dan tampak bersemangat
"Masalahnya, Masalahnya Niko jatuh cintanya dengan Ulya" ucap Bu Yesi ragu
"Ulya?" Pekik pak Bima
"Iya pah, sepertinya Niko jatuh cinta dengan Ulya. padahal papa tau kan, status Ulya itu seorang janda. karena itu mama sedikit bingung harus bagaimana" Bu Yesi tampak berpikir
__ADS_1
"Iya juga sih ma, papa juga jadi bingung. papa tau Ulya adalah wanita yang baik. dan sepertinya bisa menjadi istri serta menantu yang baik. hanya saja status Ulya yang seorang janda itu yang membuat papa juga merasa kurang pantas untuk Niko. ya walapun Ulya sebenarnya jauh lebih baik dibandingkan dengan anak kita."
"Apa maksud papa berkata seperti itu? maksud papa anak kita tidak baik?" pekik bisa Nisa tidak terima dengan perkataan suaminya. Meskipun memang Niko dulunya cukup nakal. tapi biar bagaimana Niko adalah anak kesayangan bu Nisa . tentu saja bu Nisa akan marah kalau ada yang mengatakan Niko tidak baik, sekalipun orang yang mengatakan adalah papanya sendiri.
"Bukan, bukan seperti itu maksudn papa. mama jangan salah faham dulu. Tentu saja anak kita yang terbaik" pak Bima berusaha membujuk istrinya agar tidak marah, karena bu Nisa ini orang yang gampang sekali marah kalau ada yang menyinggung masalah anaknya.
"Bukan begitu bagaimana maksud papa? jelas-jelas papa mengatakan kalau anak kita tidak lebih baik dari Ulya. itu sama halnya papa mengatakan kalau anak kita tidak baik" cerca bu Nisa marah dan menarik selimutnya memposisikan tubuh membelakangi suaminya.
"Ma, jangan marah dong sama papa, bukan seperti itu maksud papa. Ma.. hadap sini dong ma!" bujuk pak Bima menggoyangkan tubuh istrinya yang tertutup selimut. Tapi bu Nisa yang marah tidak menjawab dan tetep memejamkan matanya.
Keesokan harinya, Bu Nisa yang marah sama sekali tidak mau berbicara dengan suaminya. bahkan saat sarapan. Meja makan terasa sunyi hanya sesekali terdengar suara piring dan sendok yang beradu
"Ehem, ini kenapa papa dan mama pada diam kayak orang marahan gini" tanya Niko yang merasa heran dengan tingkah kedua orang tuanya yang tidak seperti biasanya. tapi kedua orang tuanya sama-sama diam dan tidak ada yang menjawab pertanyaan Niko
Hari ini Aisyah yang sudah diijinkan untuk pulang kerumah setelah dua minggu dirawat dirumah sakit, mengatakan pada Danu ingin bertemu dengan Vallen kekantor Polisi.
"Sayang, untuk apa kamu mau bertemu dengan Vallen? dia itu wanita yang berbahaya. Apalagi kamu baru saja pulang dari rumah sakit, kamu harus banyak istirahat. Sebaiknya kita langsung pulang kerumah ya!" bujuk Danu yang tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya
"Mas, Ais mohon! Ais ingin bertemu dengan mbak Vallen!" kembali Aisyah merengek untuk diantarkan kerumah sakit bertemu dengan Vallen
"Okay baiklah! tapi harus aku temani dan tidak boleh berbicara sendiri dengan Vallen, aku khawatir dia akan melukai kamu lagi" Danu terus menggenggam tangan istrinya seolah takut istrinya jauh dari istrinya
__ADS_1
"Iya mas" jawab Aisyah singkat dan tersenyum melihat tingkah Danu yang sangat mengkhawatirkannya.
Dikantor Polisi, Aisyah dan juga Danu bertemu dengan Vallen.
"Aisyah maafkan aku, tolong maafkan akuaku Aisyah. Danu maafkan aku. aku tidak, aku tidak bermaksud melukaimu Aisyah. aku tidak tau kenapa aku melakukannya. aku hanya merasa sakit hati dan tidak tau tiba-tiba terjadi begitu saja" tangisan Vallen pecah menyesali perbuatannya
"Aku sudah memaafkanmu mbak. meskipun aku sebenarnya merasa kecewa dengan apa yang telah kamu lakukan. tapi aku berusaha memahami apa yang mbak Vallen lakukan karena mbak Vallen merasa sedih tidak bisa kembali dengan mas Danu. walapun sebenarnya itu tidak ada hubungannya denganku. mbak Vallen tidak pernah menyadari kesalahan apa yang membuat mbak Vallen dan mas Danu tidak bisa bersama. mas Danu meninggalkan mbak Vallen bukan karena aku tapi karena mbak Vallen sendiri yang tidak pernah menghargai segala sesuatu yang mbak Vallen miliki. belajarlah untuk menghargai apa yang mbak Vallen miliki. memang benar kita baru akan menyadari seseorang itu sangat berarti bagi kita setelah orang itu sudah tidak lagi menjadi milik kita. tapi jangan melampiaskan kesalahan itu pada orang lain. belajarlah untuk mengikhlaskan segala sesuatu yang memang bukan takdir kita." Aisyah mencoba membuka pikiran Vallen agar tidak larut dalam dendam
Sebagai seorang perempuan Aisyah mengerti kesedihan yang dirasakan Vallen tapi apapun itu Vallen tetaplah. bersalah dan hary menebus semua kesalahannya.
"Aisyah kamu memang wanita yang baik" ucap Vallen lirih dan terisak
"Aku tidak sebaik yang mbak Vallen kira, aku hanya berusaha untuk menjadi orang yang bisa memaafkan dan berusaha menerima semua ketetapan Alloh" jawab Aisyah menohok
"Aku memaafkan mbak Vallen tapi proses hukum harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. karena perbuatan mbak Vallen sudah melanggar hukum dan harus mbak Vallen pertanggungjawabkan."
"Kamu benar Aisyah, aku memang harus bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan." ucap Vallen menunduk
Dua minggu berlalu kini kasus Vallen sudah selesai disidangkan dan Vallen harus menerima hukum kurungan penjara selama lima tahun.
Namun beruntung Aisyah yang berhati baik berhasil membujuk suaminya agar tidak menghancurkan bisnis keluarga Bagaskara, hingga perusahaan Bagaskara bisa kembali beroperasional seperti biasa.
__ADS_1
^Happy Reading^