Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
NAFKAH


__ADS_3

"Sekarang Abah menyerahkan semua keputusan pada Ulya. apapun keputusan yang Ulya ambil Abah dan Umi akan mendukung " ucap Abah yang tidak ingin lagi melihat putrinya menderita


"Jadi bagaimana keputusan kamu nduk? katakanlah nduk jangan ragu! ucap Abah lagi


"Sebelumnya tolong maafkan Ulya Abah, jika Ulya sudah mengecewakan Abah. Ulya sudah mantap untuk berpisah dari mas Zidan bah"ucap Ulya


Setelah mengambil nafas dalam, kini Abah memutuskan untuk menyetujui keinginan Ulya


"Jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, Abah setuju nduk" ucap Abah


"Tidak Ulya. mas tidak akan menceraikanmu! apa kata orang jika mas bercerai? nama baik mas akan rusak. Orang-orang akan menganggap mas tidak bisa menjaga rumah tangga mas. dan itu akan berdampak pada pekerjaan mas sebagai seorang pendakwah" tegas Zidan


"Astaghfirullah, sampai hati kamu bicara seperti itu mas? mas Zidan tidak mau bercerai bukan karena ingin mempertahankan rumah tangga kalian dan mencari ridho Alloh tapi karena mas Zidan takut orang-orang akan menggunjing dan tidak akan ada lagi yang mau mengundang mas Zidan ceramah? betul seperti itu mas? tanya Aisyah dengan mata berkaca- kaca ikut merasakan penderitaan kakaknya.


Abah memegangi dadanya, mendengar menantu pilihannya berkata seperti itu


"Pokoknya aku tidak akan menceraikanmu Ulya" ucap Zidan dengan nada tinggi dan pergi tanpa berpamitan.


Umi menangis memeluk Ulya


"Malang sekali nasibmu anakku" tangis Umi Zaroh


"Maafkan Ulya ya mi"


"Jangan minta maaf nak,kamu tidak salah apa yang kamu lakukan sudah benar." ucap Umi Zaroh


Abah terus beristighfar dan menghembuskan nafasnya.


"Abah, jangan terlalu dipikirkan ya bah, ingat kesehatan Abah" ucap Aisyah


"Maafkan Abah Ulya" ucao Abah menatap Ulya dan Ulya menggelengkan kepalanya


"Abah tidak salah, ini memang ujian yang harus Ulya jalani. bukan salah Abah. Ulya tau apa yang Abah lakukan demi kebahagiaan Ulya."


"Masalah perceraian kak Ulya, Abah dan kak Ulya tidak perlu khawatir. biar pengacara saya yang akan mengurusnya" ucap Danu yang sedari tadi diam kini membuka suara


"Terimakasih ya mas" ucap Aisyah senyum menatap suaminya


"Nak Danu, Abah harap kalian bisa saling menyayangi dan saling menjaga. walaupun kalian menikah karena perjodohan tapi Abah berdoa semoga pernikahan kalian langgeng dan semoga pernikahan kalian membawa kebaikan" ucap Abah


"Amin" semua mengaminkan


Setelah urusan Ulya selesai Danu dan Aisyah pulang kerumah.


Sepanjang perjalanan Aisyah terdiam


"Kenapa Abah tidak memberiku uang kuliah, apa karena sekarang aku sudah menjadi tanggung jawab suamiku?" batin Aisyah

__ADS_1


"Aisyah.. Aisyah" panggil Danu tapi Aisyah tidak menjawab


"Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Danu memecah lamunan Aisyah


"Tidak kok mas, hanya saja... " Aisyah tidak melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa? hanya saja apa?" tanya Danu


Dengan ragu, Aisyah memberanikan diri mengatakan yang sebenarnya.


"Sebenarnya minggu depan Aisyah ujian" ucap Aisyah ragu


"Hahaha.. ujian? lalu dimana masalahnya? kamu takut menghadapi ujian? ternyata kamu tidak sepintar yang aku kira" Danu tertawa


"Huft... " Aisyah menghembuskan nafas dan menatap jendela


"Kenapa begitu sulit mengatakan yang sebenarnya. aku kan istrinya" batin Aisyah


"Malah bengong sih? ujian kan tinggal dikerjakan saja. kalau kamu malas ujian ya udah tidak usah ujian. udah nikah juga" ucap Danu


Spontam Aisyah menatapnya


"Benar kan yang aku bilang? kenapa malah melihatku seperti ini?"


"Mas, bukankah Aisyah sudah pernah menjelaskan menuntut ilmu itu wajib hukumnya"


"Sebenarnya masalahnya bukan ujiannya. kalau masalah ujian, InsyaAlloh Aisyah siap"


Terus apa masalahnya?" Danu sesekali melirik Aisyah dan kembali fokus menatap jalan.


"Masalahnya Aisyah belum membayar uang semester" ucap Aisyah menggigit bibir bawahnya


Danu yang syok mendengar perkataan istrinya segera menepikan mobil yang mereka kendari tepi bahu jalan.


Tentu saja pernyataan Aisyah membuat Danu terkejut, bagaimana tidak seorang istri Direktur Utama sebuah perusahaan besar yang cabangnya ada dimana-mana bahkan luar negri belum membayar uang semester. padahal membeli kampusnya saja mampu.


"Bagaimana bisa kamu belum membayar uang semester? suami kamu ini siapa?" tanya Danu mentap mata Aisyah


"Biasanya Abah yang selalu memberi Aisyah uang buat keperluan Ais dan bayar kuliah. tapi sejak kita menikah. Abah tidak pernah memberi Aisyah uang lagi. Aisyah pun tidak mungkin meminta pada Abah, karena sekarang Ais tanggung jawab suami Ais, tapi.. tapi... " Aisyah terdiam


"Tapi apa?"


"Tapi sejak menikah, suami Ais tidak pernah memberi Ais nafkah" ucap Aisyah memberanikan diri tapi juga merasa malu harus mengatakannya


"Wkwkwk.... " Danu tertawa dan Aisyah yang semula hanya menundukkan kepala memberanikan diri menatap suaminya.


"Maaf, maaf bukan maksudnya aku mentertawakan kamu. tapi kamu itu lucu, kamu kan tau siapa suami kamu, kalau hanya masalah uang. kenapa tidak minta langsung saja" ucap Danu yang masih menahan tawa

__ADS_1


"Dan mereka(para istri) mempunyai hak diberi rezeki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian(wahai para suami)." (HR Muslim 2137) .


"Hadist tersebut menerangkan dengan tegas seorang suami wajib hukumnya memberi nafkah kepada seorang istri" ucap Aisyah


"MasyaAlloh, maaf kan aku Ais. aku melupakan hal itu" Danu mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah Black card unlimited.


"Aku terima ya mas" ucap Aisyah seraya mengambil kartu black card ditangan Danu.


Danu tersenyum dan mengusap lembut kepada Aisyah yang tertutup jilbab.


"Maaf ya, sudah membuat kamu susah dengan tidak memberimu nafkah" ucap Danu lembut


Aisyah menggelengkan kepala dan menunduk, wajahnya seketika memerah


Dan hal ini yang paling disenangi Danu, sikap malu-malu Aisyah sangatlah mengemaskan dimata Danu.


Sampai dikediaman pak Herman


"Aku langsung ke kantor ya" ucap Danu setelah mengantarkan Aisyah pulang kerumah


"Tidak masuk dulu mas?"


"Tidak, masih ada banyak pekerjaan yang harus aku tangani dikantor" ucap Danu


"Iya mas, terimakasih sudah mau ikut Aisyah pulang kerumah Abah" Aisyah mencium punggung tangan Danu


Danu terus saja menatap punggung Aisyah sampai tak terlihat lagi dari pandangannya


Entah kenapa, ada perasaan damai setiap kali melihat Aisyah.


Sesampainya Dikantor


"Danu"


Suara Vallen melihat Danu baru sampai kantor


"Ada apa?" jawab Danu dingin dan duduk tanpa menghiraukan Vallen tangannya membuka dokumen di mejanya


"Kita harus bicara Danu" ucap Vallen terlihat kesal


"Soal apa? kalau soal pekerjaan silakan bicara, tapi kalau masalah pribadi maaf, aku tidak membicarakan masalah pribadi dikantor" ucap Danu


"Dan satu lagi, ini kantor jangan panggil aku dengan nama saja!"


"Dan.. kamu.. " Vallen merasa tidak percaya dengan apa yang didengar nya.


"Tolong jangan seperti ini Dan, aku akui aku salah. aku janji akan lebih memperhatikan kamu Dan"

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2