Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 78


__ADS_3

Lalu bagaimana sekarang pah? apa diusia kita yang sekarang ini, masih pantas untuk belajar tentang ilmu agama? apa Alloh masih mau mengampuni dosa-dosa kita selama ini? bukankah demi kesuksesan usaha kita, tak jarang kita melakukan semua hal tanpa memikirkan halal dan haramnya?" tanya Bu Nisa


Setelah mereka berdiskusi, akhirnya pak Bima dan Bu Nisa kembali ke pesantren untuk bertemu dengan Abah.


"MasyaAlloh, Alhamdulillah Alloh telah memberikan hidayahNya untuk pak Bima dan Bu Nisa."


"Apa tidak terlambat jika kita baru belajar sekarang? mengingat usia kami_" ucap Bu Nisa terputus


"Tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi lebih baik Bu Nisa, pak Bima" jawab Abah


Niko sangat terkejut mengetahui bahwa kedua orang tuanya saat ini juga belajar ilmu agama. namun karena mereka banyak pekerjaan yang juga tidak mungkin ditinggalkan. mereka memilih untuk meminta pada Abah untuk mengirim ustadz atau ustadzah yang bisa datang kerumah mereka, untuk membimbing mereka belajar dirumah. sesuai kesepakatan guru itu akan datang seminggu dua kali.


"MasyaAlloh Nik, apa orang tuaku juga bisa mendapatkan hidayah seperti orang tua kamu?" ucap Ray karena orang tua Ray ini lebih gila soal Keduniaan.


"Berdoalah Ray, aku yakin sekeras apapun hati orang tua kamu, jika setiap hari kamu mendoakannya. InsyaAlloh hatinya pun akan luluh. sama hal nya sebuah batu sekeras apapun batu bila tertimpa hujan akan retak juga. Sekeras apa pun pendirian seseorang jika terus-menerus dipengaruhi dapat berubah pendirian juga. ini tugas kamu juga sebagai seorang anak untuk mengajak orang tua kamu kembali kejalan yang benar" ucap Niko


****


Ray berusaha menghubungi orang tuanya dan mengatakan tentang dirinya yang saat ini berada di pesantren. namun orang tuanya yang terlalu sibuk bahkan tidak menghiraukan saat ini anaknya ada dimana.


"Bagaimana Ray? apa papa dan mama kamu sudah kamu kabari kalau saat ini kamu tinggal di pesantren?" tanya Niko


"Percuma.mereka tidak akan perduli" jawab ray


"Kamu yang sabar Ray, Doakan semoga orang tua kamu mendapatkan hidayah sama seperti papa dan mamaku" ucap Niko mencoba menghibur Ray


Ray mengamini berharap hari itu akan benar-benar datang. hari dimana orang tuanya juga bisa mengenal Alloh dan lebih perduli terhadap dirinya.


***


Satu bulan berlalu hari ini Ray dan Niko memutuskan untuk kembali pulang kerumah masing-masing karena mereka harus mengurus perusahaan mereka.

__ADS_1


"Abah terimakasih, karena sudah mengijinkan kami untuk belajar disini. dari sini kami mendapatkan banyak ilmu yang sebelumnya kami tidak tau. dari sini juga Niko bisa merasakan lebih dekat dengan Alloh. ada ketenangan dihati Niko saat merasa dekat dengan Alloh. hati Niko sekarang menjadi tenang dan rasanya hidup Niko berubah menjadi lebih bermakna dan lebih bahagia. apalagi sekarang orang tua Niko Alhamdulillah juga mulai mengenal Alloh. dan itu semua lantaran Abah. sekali lagi Niko ingin mengucapkan banyak terimakasih sama Abah dan juga semua pengurus yang ada dipesantren ini" ucap Niko saat pamitan


"Hal sama, yang ingin Ray ucapkan pada Abah dan semua pengurus. beberapa bulan disini Ray merasa sangat nyaman. tapi sayangnya sekarang kita sudah harus pulang karena perusahaan yang tidak bisa kami tinggal terlalu lama bah" ucap Ray


"Masyalloh Abah senang dengan perubahan kalian. Abah do'akan semoga kalian selalu istiqomah"


"Aamiin" jawab Niko dan Ray


Kini keduanya pulang kerumah masing-masing setelah berpamitan dengan Abah dan para pengurus.


Hati Niko sebenarnya masih ada ganjalan, lantaran beberapa hari ini dirinya tidak pernah melihat Ulya di pesantren. bahkan saat tadi pamitan dengan Abah dan pengurus pesantren disana pun tak ada Ulya.


***


Dirumah Ray


"Assalamu'alaikum"


"Kenapa bik? kok malah bengong gitu?" tanya Ray tersenyum


"Ini benar-benar den Ray kan?" bik Wati terheran-heran


"Lalu bibik pikir ini siapa?" hantu?" goda Ray


"Husst.. den Ray ini kalau bercanda kelewatan" ucap Bik Wati


"Hahaha.. habisnya bibik juga lucu tanyanya. kalau bukan Ray terus siapa? ya pasti Ray lah" ucap Ray


"I-Iya bibik tau, cuma bibik merasa aneh aja Den" Bik Wati menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Aneh apanya bik?" ucap Ray sambil jalan

__ADS_1


"Beberapa bulan den Ray tidak pulang kerumah, pulang-pulang masuk rumah mengucapkan salam" jawab Bik Wati


"Bukankah seharusnya memang seperti itu bik?" ucap Ray membuka kulkas didapur dan mengambil air minum lalu duduk dikursi dan sebelum meminum air tidak lupa Ray membaca "Bismillah"


"Tu kan.. aneh lagi?" bik Wati semakin keterangan saat melihat cara Ray minum.


"Kenapa lagi bik?" Ray tersenyum


"Ini aneh, benaran. ini itu bukan Den Ray, apa jangan-jangan kamu kembarannya den Ray yang disuruh gantiin dia dirumah ini ya?" tanya bik Wati


"Hahaha... bik Wati sepertinya terlalu banyak nonton drakor ini" jawab Ray


"Iya, soalnya ini itu tidak seperti den Ray yang bibik kenal" jawab bik Wati


"Memangnya Ray yang selama ini bibik kenal bagaimana?" tanya Ray


"Den Ray yang bibik kenal itu, kalau masuk rumah langsung masuk tidak pernah mengucapkan salam, kalau minum berdiri langsung teguk aja minuman tidak ada baca doa dl" jawab bik Wati dengan polosnya. tapi memang seperti itulah kenyataannya


"Tapi Ray baik kan bik?" canda Ray tersenyum


"Baik dong, tapi yang ini jauh lebih baik. lebih santun. top banget pkoknya" puji bik Wati


"MasyaAlloh, do'akan Ray bisa selalu istiqomah ya bik"


"InsyaAlloh den, bibik ikut senang melihat perubahan den Ray. tapi bibik masih bingung sebenarnya apa yang membuat den Ray bisa berubah seperti ini?"


"Ray hanya ingin mengenal Alloh lebih dekat bik, Ray takut saat nanti Ray kembali sama Alloh. Ray tidak memiliki bekal untuk menghadap Alloh. dan Ray juga takut kalau Ray tidak bisa mendoakan papa dan mama jika nantinya mereka kembali sama Alloh. karena sesungguhnya bukankan kita semua ini nanti akan menghadap pada Alloh untuk mempertanggung jawabkan atas apa yang sudah kita perbuat selama didunia ini? dan Ray ingin menjadi anak sholih yang bisa mendoakan papa dan mama nantinya"


"MasyaAlloh den Ray. ini seperti mimpi mendengar den Ray berkata seperti itu, jika tuan dan nyonya tau pasti mereka akan bangga dengan den Ray" ucap bik Wati


"Sayangnya hal itu sepertinya cuma angan-angan Ray saja bik. karena papa dan Mama hanya sibuk dengan bisnis mereka. bahkan selama berbulan-bulan Ray tidak dirumah mereka juga pasti tidak menyadarinya kan bik?" tanya Ray

__ADS_1


^Happy Reading^


__ADS_2