
Dirumah Ilham
"Umi, terimakasih sudah memberikan restu untuk Khadijah" ucap Khadijah yang sudah bisa berbicara bahasa Indonesia bercakap dengan Umi saat membantu Umi masak
"Iya Nak Khadijah, Umi dan Abi juga senang Ilham menemukan wanita seperti nak Khadijah yang bisa menerima Ilham. Dengan keadaan kami yang seperti ini apa ada penyesalan dihati Khadijah?" tanya Umi
Ilham hanya anak dari seorang guru agama dengan pendapatan yang pas-pasan. Hidupnya sederhana dan rumahnya pun sangat biasanya, berbanding terbalik dengan Khadijah yang merupakan anak dari seorang Rektor dan dirinya sendiri sudah berhasil membangun bisnisnya sejak masih kuliah.
Hidup serba kecukupan dengan fasilitas serba mewah sejak kecil tidak membuat Khadijah melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan seorang menantu. Tidak ada kecanggungan saat dirinya tinggal dirumah Ilham yang cukup sederhana.
"Sama sekali tidak Umi, Khadijah bersyukur mas Ilham mau menerima Khadijah sebagai istri. Khadijah merasa nyaman disini kalau boleh Khadijah memilih Khadijah ingin tinggal di Indonesia bersama Umi dan Abi disini. Hanya saja Khadijah tidak mungkin meninggalkan perusahaan begitu saja Umi. Banyak karyawan yang harus memenuhi kebutuhannya dengan bekerja disana. Kasihan mereka jika perusahaan harus tutup" jelas Khadijah
"Iya Umi mengerti, Ilham juga sudah menceritakan kalau mungkin Ilham akan menetap disana. Umi tidak mempermasalahkan semua itu, dimanapun anak Umi tinggal, selama ada keimanan dihatinya dan selama untuk kebaikan. Umi ridho." ucap Umi dengan mata berkaca-kaca
"Terimakasih Umi, InsyaAlloh kami akan sering pulang ke Indonesia. Sebenarnya kami sangat berharap Umi dan Abi bisa ikut kami ke Madinah" ucap Khadijah penuh harap
"Abi disini mengajar, tidak mungkin juga kalau kami pindah kesana. Walaupun kita terpisah jarak tapi hati kita selalu dekat karena kita terhubung dengan doa. Saling mendoakan, itu yang terpenting. Apalah arti sebuah jarak, karena jarak yang sesungguhnya itu jika tidak saling mendoakan. Dekat akan terasa jauh jika tidak ada doa mengiringi tapi jauh bisa menjadi dekat jika kita selalu terhubung dengan doa"
"Lagi pada ngomongin apa sih? pasti ngomongin Ilham ya?" sahut Ilham yang baru datang
"Iya mas, mau ngomongin siapa lagi memangnya hehehe" ucap Khadijah tertawa
"Jadi penasaran apa yang diomongin, yang jelek-jelek apa yang baik-baik ya?" Goda Ilham
"Mamanya ada yang jeleknya, Umi ceritanya yang bagus-bagus hehehe.. "
"Anak umi ini dari kecil selalu jadi anak berbakti dan selalu jadi anak yang membanggakan" ucap Umi tersenyum mengingat masa kecil Ilham yang tidak pernah membangkang. Sebagai anak Ilham memang selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati orang tuanya.
"Iya gimana? Khadijah betah gak disini?" tanya Ilham
"Alhamdulillah betah, Khadijah senang ada disini. kehangatan keluarga yang sangat terasa. Inilah rumah yang sesungguhnya" ucap Khadijah dengan mata berkaca-kaca
"Khadijah kenapa?" tanya Umi karena tiba-tiba Khadijah terlihat sedih
"Khadijah hanya bahagia Umi, disini Khadijah merasakan kehangatan seorang ibu. Karena saat Khadijah kecil, Khadijah sudah tidak merasakan kehangatan seorang ibu. Umi meninggal karena sakit. Dan sejak saat itu, Khadijah hanya merasakan kasih sayang dari Abi"
Khadijah tak mampu menahan air matanya saat mengenang sang ibu. Karena saat itu dirinya masih sangat kecil. Samar-smar di ingatannya saat melihat Abinya menangis mengiringi kepergian uminya. Bahkan saat itu Khadijah tidak menangis karena belum mengerti kalau uminya akan pergi dan tidak akan pernah kembali.
"Jangan sedih Khadijah, Selalu do'akan Umi karena doa bisa menjadi penolong untuk orang yang sudah meninggal. Apalagi doa anak sholihah InsyaAlloh didengar Alloh" ucap Umi menghibur Khadijah dan memeluk Khadijah layaknya seorang anak.
***
Dikampus
"Ehem" Aisyah berdeham
"Cie.. gimana rasanya nikah sama dosen?" goda Aisyah saat pak Firdaus selesai mengisi kelas mereka
"Igh.. kamu apaan sih" Jawab Fitri malu-malu
"Tapi aku masih gak nyangka lho kamu menikah dengan pak Firdaus" ucap Aisyah
__ADS_1
"Kamu pikir kamu aja, aku juga sama sampai saat ini serasa masih gak percaya kalau pak Firdaus itu suamiku. Kadang rasanya kayak canggung gitu" ucap Fitri tersipu
"Tapi seneng kan punya suami seperti Pak Firdaus?" goda Aisyah tersenyum
"Sudah ahg jangan bahas aku terus, eh.. kemarin Sinta bilang mbak Khadijah datang ke butik ya? sayang sekali padahal aku ingin ketemu tapi kemarin aku masih menginap di rumah mas Fir" ucap Fitri
"Iya mbak Khadijah kemarin kebutik dan kami juga sempat pergi makan siang bersama. Mungkin saat ini mbak Khadijah juga masih di Indonesia"
"Kenapa masih disini? apa mau liburan disini?
Fitri yang belum tau soal pernikahan Khadijah penasaran.
"Kamu bisa tebak tidak kemarin mbak Khadijah datang sama siapa?"
"Sama siapa memangnya?"
"Ilham" jawab Aisyah singkat
"Ilham? kok bisa? bukannya Ilham masih kuliah?"
"Mereka sekarang sudah menikah" jawab Aisyah
"Ilham menikah dengan Khadijah?" Fitri tercengang mendengar Khadijah menikah dengan Ilham
"Cara Alloh mempertemukan jodoh umatNya memang unik syah, tidak bisa ditebak dan tidak bisa disangka-sangka." ucap Fitri lagi
"Yang jelas apapun itu, takdir Alloh pasti yang terbaik. Jadi jangan pernah berprasangka buruk jika apa yang menjadi keinginan kita tidak dikabulkan Alloh, karena Alloh punya rencana yang jauh lebih baik yang tidak pernah kita sangka-sangka" ucap Aisyah
"Setuju banget aku dengan yang ini, bu ustadzah kita memang yang terbaik" ucap Fitri mengangkat jempolnya
Panggilan masuk diponsel Fitri
"Sstt.. sebentar ya, suami telpon" bisik Fitri
"Cie.. yang punya suami" goda Aisyah
"Assalamu'alaikum mas" Fitri menjawab telpon
"Walaikumsalam, ini lagi istirahat kan? bisa keruangku tidak?"
"Keruangan mas Firdaus? sekarang?" tanya Fitri
"Iya dek sekarang bisa?"
"Baiklah Fitri kesana sekarang Assalamu'alaikum" ucap Fitri menutup telpon
"Aisyah aku keruang dosen dulu ya, biasa suami gak bisa jauh dari istri hahaha.." ucap Fitri tertawa
"Pasangan pengantin baru ya gini, maunya nempel terus. Ya sudah aku tunggu kamu dikelas saja ya" ucap Aisyah
"Okey" Fitri mengedipkan matanya dan Aisyah tersenyum menggelengkan kepala
__ADS_1
***
Tok.. tok..
"Assalamu'alaikum" ucap Fitri
"Walaikumsalam dek, masuk sini" Firdaus berdiri dan mempersilahkan Fitri masuk
"Ada apa mas? kenapa nyuruh Fitri kesini?"
"Temani mas makan siang" Jawab Firdaus memberikan kotak nasi
"Kirain suruh apa mas hehehe" Fitri tersenyum
"Lha memangnya mau disuruh apa? apa mau disuruh yang lain?" goda Firdaus
"Tidak, tidak. Ayo kita makan" ucap Fitri membuka kotak nasi yang Firdaus berikan
"Jadi gak mau kalau disuruh suami yang lain? dosa lho menolak ajakan suami" kembali Firdaus menggoda Fitri
"Bukan gak mau, tapi gak disini juga mas. Ini kan kampus. Kalau ada yang lihat gimana?" jawab Fitri
"Hahaha.. pikiran kamu ini apa sih? memang adik pikir mas mau nyuruh kamu ngapain disini?"
"Suruh.. suruh.. suruh itu" ucap Fitri malu-malu
"Suruh itu apa? pikirannya istri mas ini kamana-mana ya rupanya. Kalau suruh itu ya gak mungkin juga dikampus dek. tapi karena diingatkan boleh juga kalau dicoba. Mau gak?" Firdaus paling suka menggoda istrinya, karena setiap kali digoda wajah Fitri akan memerah seperti udang rebus karena malu
"Agh.. mas Fir sengaja mau menggoda Fitri kan ini?" gerutu Fitri memanyunkan bibirnya
"Beneran juga boleh, disini cuma ada kita berdua kan. Lagi pula kita kan suami istri, Dan seorang istri itu tidak boleh menolak ajakan suami jika tanpa udzur yang jelas"
"Iya, iya Fitri tau kok" jawab Fitri dengan wajah tegangnya
"Hahaha.. bercanda sayang, mas cuma ngajak makan siang aja kok. semenjak menikah rasanya tidak enak kalau harus makan sendiri. enaknya kalau ditemani kayak gini" ucap Firdaus tersenyum
"Tu kan, sukanya gitu godain Fitri terus" gerutu Fitri
"Hehehe.. maaf ya sayang" ucap Firdaus tersenyum dan mengusap kepala Fitri lembut
"Fitri maafin tapi ada syaratnya" ucap Fitri
"Kok pakek syarat segala maafin suami, memang apa syaratnya?"
"Syaratnya nanti pulang dari kampus belikan Fitri es krim ya" ucap Fitri manja memeluk suaminya
"Baiklah istriku, nanti pulang dari kampus kita beli es krim ya" jawab Firdaus mencolek hidung Fitri
Sikap manja Fitri membuat Firdaus semakin menyukai Fitri. Dan Firdaus sangat memahami istrinya yang manja karena memang usia Fitri masih muda.
Indahnya pacaran setelah menikah
__ADS_1
^Happy Reading^
Jangan lupa like, coment,Vote dan kasih poin ya, jangan lupa juga ikuti akun Qurrotaayun karena syarat untuk mendapatkan hadiah dari thor salah satunya sudah harus mengikuti. Terimakasih