
Keesokan harinya
Selesai mengantarkan Aisyah kekampus Danu segera melajukan mobilnya ke kantor
Sesampainya diruangan, Danu segera memeriksa berkas-berkas yang sempat dia abaikan saat dirinya harus menjemput istrinya ke Madinah.
"Danu, dimana tanggung jawab kamu sebagai seorang direktur perusahaan? bagaimana bisa kamu mengabaikan tanggung jawab begitu saja? ini pasti karena istri manja kamu itu kan? berbuat ulah apa dia sampai kamu harus meninggalkan kantor begitu saja?" cerca pak Burhan
"Paman, tolong lain kali kalau mau masuk ruangan Danu ketuk pintu dulu! dan jangan bawa-bawa nama istri Danu dalam hal ini. okay Danu akui Danu salah meninggalkan klien begitu saja, tapi ini tidak ada hubungannya dengan Aisyah, ini semua murni keinginan Danu sendiri untuk menjemput istri Danu ke Madinah. jadi paman jangan bawa-bawa istri Danu untuk kesalahan yang tidak Aisyah lakukan. dan Danu minta maaf karena pergi begitu saja kemarin"ucap Danu
"Danu, Danu. paman heran sebenarnya apa yang membuat kamu, mau menikah dengan wanita seperti istri kamu itu, lihat saja penampilannya sangat tidak modis dan tidak pantas untuk mendampingi seorang Direktur Utama Dirgantara Grup yang bergerak dibidang fashion. kampungan sekali dan sok alim. padahal paman yakin paling dia mau menikah dengan kamu juga hanya karena harta kamu saja"
"Cukup paman, jangan memandang rendah istri Danu. Aisyah itu wanita yang sangat terhormat. dan pakaian yang digunakan itu adalah pakaian yang sesuai dengan syariat wanita muslimah yang memang seharusnya seperti itu."
"Sepertinya otak kamu sekarang keracunan wanita itu, kenapa sekarang kamu jadi kolot seperti ini? jujur paman ini heran, bisa-bisanya bang Herman menjodohkan kamu dengan wanita yang tidak sederajat dengan kita. dan kak Retno juga, kenapa bisa dia setuju dengan ide konyol bang Herman. padahal mereka tau, kamu itu sudah punya pacar yang lebih pantas mendampingi kamu" ucap pak Burhan
"Paman, sudah ya. ini hidup Danu. dan Danu merasa sangat bersyukur dijodohkan dengan wanita seperti Aisyah." ucap Danu memijit keningnya. tidak ingin melawan pamannya tapi juga tidak terima istrinya direndahkan
"Danu, paman tau. kalau sebenarnya kamu itu masih mencintai Vallen. kamu seperti ini pasti karena takut sama papa dan mama kamu kan? paman kasih tau ya, kamu akan rugi jika sampai melepaskan Vallen. dia itu wanita yang luar biasa, wanita terhormat dari keluarga yang sederajat dengan kita dan satu lagi, dia wanita yang tidak hanya bisa menyusahkan. jika kamu menikah dengan Vallen perusahaan ini pasti akan semakin maju karena Vallen pasti akan membantu memajukan perusahaan" ucap pak Burhan berdiri memasukkan kedua tangannya disaku celana
"Justru Danu akan rugi jika menikah dengan Vallen paman. karena yang Danu butuhkan itu seorang istri yang bisa sepenuhnya mengurus Danu, bukan yang sibuk bekerja. untuk apa menikah kalau istri justru malah sibuk kerja dan tidak ada yang mengurus kita?" ucap Danu menyindir istri pamannya yang seorang wanita karir. Hari-harinya dihabiskan untuk pekerjaan bahkan tidak ingin memiliki anak karena menganggap anak itu akan menghambat pekerjaannya.
"Alah kamu ini hidup dijaman apa? wajarlah kalau istri sibuk kerja, kita kan ada pembantu yang bisa mengurus semua keperluan kita, tidak perlu sekolot itu"
"Prinsip setiap orang kan berbeda paman, kalau Danu lebih suka dengan istri yang bisa mengurus Danu dan tidak sibuk sendiri dengan pekerjaannya"
"Tapi apa kamu tidak malu, jika ada pertemuan yang mengharuskan membawa istri, istri kamu terlihat paling aneh. seluruh tubuhnya ditutup seperti itu"
"Kenapa harus malu paman? justru Danu merasa bangga membawa Aisyah ke setiap acara. kenapa? itu karena Danu adalah satu-satunya laki-laki yang bisa melihat keindahan istri Danu. justru Danu akan malu jika membawa seorang istri yang tubuhnya dijadikan konsumsi publik." ucap Danu tersenyum
__ADS_1
"Hah, terserah lah. paman pusing ngomong sama kamu. otak kamu itu benar-benar udah gak waras. paman ingatkan kamu sebaiknya segera berterima kasih pada Vallen. jika kemarin Vallen tidak membantu kamu, mungkin saat ini kamu sudah berhadapan dengan seluruh investor yang merasa kamu rugikan. ucap pak Burhan meninggalkan ruangan Danu dengan kesal
****
Dirumah Abah
"Ulya, bagaimana proses perceraian kamu nak?" tanya Abah
"Sudah diurus pengacara bah" jawab Ulya
"Semalam umi tidak sengaja mendengar kamu telpon. itu dari siapa? apakah Zidan" tanya Umi
"Iya umi, semalam mas Zidan telpon. meminta maaf karena langsung percaya saja dengan apa yang sela katakan"
"Lalu apa kamu memaafkannya?" kambali umi bertanya
"Ulya sudah memaafkan mas Zidan mi, karena kita tidak boleh membenci atau menyimpan dendam dengan seseorang. tapi kali ini Ulya sudah tidak bisa lagi kemabali bersama mas zidan"
"Terimakasih Abah, umi. maafkan Ulya sudah mengecewakan Abah dan membuat Abah malu"
"Tidak Ulya, itu tidak benar. kamu tidak pernah membuat kami malu. kami tau kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk bisa mempertahankan pernikahan kamu dan Zidan. namun Alloh mempunyai rencana lain. dan yang pasti Abah yakin akan ada hikmah dibalik semua ini" ucap Abah
***
"Hai Dan" ucap Niko dan Ray
"Kalain ini kebiasaannya gak bisa dirubah ya. berapa kali aku bilang. kalau mau masuk ruangan ketuk pintu dulu" ucap Danu
"Iya, iya maaf" ucap Niko
__ADS_1
"Katakan ada perlu apa?" ucap Danu
"Santai brow, kita gak buru-buru kok" ucap Ray
"Kalian mungkin gak buru-buru tapi aku banyak pekerjaan" ucap Danu
"Hahaha.. oke, oke. pak direktur ini pasti sibuk sekali" ucap Niko
"Nanti malam kita ada party, kamu datang ya. ini ulang tahunnya si Tom. kamu sudah dikirimi undangannya kan?" tanya Ray
"Entahlah sepertinya aku tidak bisa datang, pekerjaanku sangat banyak" ucap Danu
"Ayolah Dan, sudah lama kan kita tidak kumpul bareng" bujuk Niko
"Okey, tapi nanti aku tanya sama istriku dulu" ucap Danu
"Hahaha.. seorang Danu Dirgantara takut istri ceritanya? sampai keluar rumah aja mesti laporan" ucap Ray dan Niko tertawa
"Bukan masalah takut istri brow, tapi itu sebagai wujud kita menghargai seorang istri. nanti kalau kalian sudah menikah pasti mengerti" ucap Danu
"Wah sepertinya menikah itu meresahkan ya. jadi tidak bebas" ucap Ray
"Kamu salah Ray, justru menikah itu menyejukkan jiwa. rasanya setiap hari itu bahagia terus" jawab Danu
"Iya kalau nikah dengan orang yang kita cintai tapi kalau tidak? apa bisa bahagia?" tanya Niko
"Pernikahan itu tidak menjamin kepuasan tapi pernikahan itu menjanjikan kebahagiaan dan keberkahan bagi yang tau ilmunya" ucap Danu tersenyum
"Dalam banget ni omongan pak ustadz sekarang! udah satu frekuensi kayaknya sama istrinya" ucap Ray
__ADS_1
^Happy Reading^