Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
RUJUK


__ADS_3

"Tunggu-tunggu, bukankah dua bulan yang lalu kita ketemu ya? yang kamu nyusulin kita ke club malam? apa itu kamu sudah menikah?"


"Iya itu hari dimana aku menikah" jawab Danu senyum


"Gila bener kamu Dan, kenapa saat itu kamu tidak mengatakan apa-apa, tapi justru hari itu aku ingat kamu sepertinya lagi sedih dan bingung sampai nyusul kita kesana. padahal kan itu hari pernikahan kamu? sepertinya kamu juga mencintai istri kamu?" Niko bertanya-tanya


"Awalnya aku memang tidak menginginkan perjodohan itu, aku menerima perjodohan itu karena Vallen. aku sakit hati karena melihat Vallen tidur bersama David"


"Apa? Vallen? tidur bersama David? gila Vallen. kenapa kamu baru cerita brow, kalau kami tau Vallen menghianati kamu, tidak mungkin kemarin kita mengundang Vallen. kami mengundang Vallen karena kami pikir itu akan membuatmu bahagia. karena selama ini yang kami tau, kamu mencintai Vallen"


"Sebenarnya aku juga tidak ingin ada yang tau tentang apa yang dilakukan Vallen dan David. tapi karena sudah seperti ini, ya sudah tidak perlu lagi aku tutupi."


"Bener kan Dan, Vallen itu tidak benar-benar mencintai kamu? bukankah dari dulu aku sudah mengingtkan kamu. tapi kamu sudah dibutakan oleh cintanya Vallen" ucap Niko


"Aku sendiri juga tidak menyangka kalau Vallen bisa melakukan itu, tapi Vallen bilang dia tidur dengan David karena sedang mabuk, meski begitu tetap saja aku tidak bisa menerima perbuatannya itu"


"Apa benar kamu sudah bisa melupakan Vallen?" tanya Ray menatap wajah Danu


"Aku tidak bilang sudah melupakan Vallen, tapi aku akui saat ini Aisyah lebih bisa membuatku nyaman."


"Jangan bilang kamu beneran jatuh cinta sama wanita aneh itu?" tanya Niko yang tidak terbiasa melihat wanita berpakaian syar'i


"Siapa yang kamu bilang wanita aneh? dia itu istriku" Danu merasa tidak terima istrinya dibilang wanita aneh


"Iya tapi dia itu aneh, coba saja lihat penampilannya. norak banget. seorang Danu Dirgantara mencintai wanita seperti itu? apa itu normal?" ucap Niko


"Tentu saja sangat normal, salahnya dimana? dia itu tidak norak, dia justru sangat elegan dan Anggun ucap Danu membela Aisyah istrinya


"What elegan? dilihat dari mana, model seperti itu kamu bilang elegan?" Ray menggelengkan kepala


"Brow, kalian salah. justru wanita seperti Aisyah itu menurutku wanita yang sangat pintar dalam memilih fashion. karena dia ingin menjaga apa yang menjadi hak suaminya tidak terlihat orang lain. terutama laki-laki mata keranjang kayak kalian" Danu tersenyum menyeringai


"Sialan kamu Dan" umpat Niko dan semua tertawa


"Gini brow, saat kita memilikii sesuatu, pasti kita tidak ingin apa yang kita miliki itu jadi konsumsi publik kan? dan kita juga tidak ingin semua orang bisa menikmatinya kan? pasti kita ingin apa yang menjadi milik kita itu hanya kita yang boleh melihat dan menikmati. begitu juga istri. saat nanti kalian mempunyai istri dan merasakan jatuh cinta yang sebenarnya, pasti kalian tidak ingin ada yang ikut melihat keindahan istri kalian."


Ray dan Niko terdiam

__ADS_1


"Intinya aku bersyukur bisa menikah dengan wanita seperti Aisyah, karena aku satu-satunya laki-laki yang bisa melihat kecantikan dan keindahan yang dimiliki Aisyah selain ayahnya.


Niko dan Ray, hanya terdiam memikirkan apa yang dikatakan sahabatnya ini. karena apa yang dikatakan sahabatnya memay masuk akal.


***


Dirumah Abah


"Nduk, kenapa kamu tidak jadi bercerai? jika kamu tidak bahagia dengan pernikahan kamu?" tanya Abah


"Ulya memang sakit hati dengan mas Zidan bah, tapi Ulya juga masih mencintai Mas Zidan. Ulya ingin memberi mas Zidan satu kali kesempatan lagi karena setiap manusia berhak untuk mendapatkan pengampunan dan kesempatan kedua." Jawab Ulya


"Abah sudah tua, Abah hanya ingin melihat putri-putri Abah bahagia. maafkan Abah ya nduk, karena Abah kamu harus mengalami semau ini".


"Tidak Abah, jangan berkata seperti itu, sungguh Ulya tidak apa-apa bah, Ulya akan baik-baik saja" ucap Ulya memeluk Abah


"Assalamu'alaikum" Zidan salam


"Walaikumsalam"


"Umi, Abah, Zidan mau menjemput Ulya pulang" ucap Zidan setelah mencium tangan Abah, dan umi


"Abah sudah mendengar keputusan Ulya untuk kembali memberi kesempatan lagi untuk kamu, Abah harap kali ini kamu bisa adil dan jangan menyakiti hati anak Abah lagi. tolong nak Zidan! Abah titip Ulya"


"InsyaAlloh, kali ini Zidan akan berbuat adil terhadap istri-istri Zidan Abah" ucap Zidan


Kini Zidan dan Ulya kembali ke apartemen Ulya.


"Mas apa mas Zidan malam ini akan tidur disini?" tanya Ulya


"InsyaAlloh, mas Zidan malam ini menginap disini. terimakasih Ulya kamu sudah memberi kesempatan kedua untuk mas Zidan. maafkan mas Zidan jika selama ini membiarkan kamu menderita." Ucap Zidan memeluk Ulya


"Iya mas" Ulya membalas pelukan Zidan


"Tok.. tok.. tok.. "


"Sepertinya ada tamu" ucap Zidan

__ADS_1


"Iya, Ulya buka pintu dulu nya mas"


"Baiklah" jawab Zidan


"Assalamu'alaikum mbak Ulya" ucap Sela setelah pintu dibuka


"Wa-Walikumsalaam, Selamat kenapa kamu disini?" Ulya tercengang dengan kehadiran Sela malam-malam


"Mas Zidan disini kan mbak? kenapa mbak terkejut seperti itu? tuntu saja Sela mencari suami Sela" ucap Sela senyum dan menerobos masuk


"Sela, kenapa kamu kesini? mas kan sudah bilang. malam ini mas menginap di apartemen Ulya" ucap Zidan yang juga terkejut dengan kedatangan Sela yang tiba-tiba


"Maaf mas Zidan, mbak Ulya. Sela kan lagi hamil bawaannya gak bisa jauh- jauh dari mas zidan."ucap Sela bergelayut ditangan Zidan


Zidan memandang Ulya, Zidan tau ada raut tidak suka diwajah Ulya


"Em.. Ulya, mas minta maaf ya. ini semua karena Sela sedang mengandung anakku. kamu tau kan orang hamil itu bagaimana" ucap Zidan


"Terserah kamu mas" Ulya masuk kekamar


"Ya sudah ayo masuk" Zidan membawa Sela untuk masuk ke kamar tamu


Malam ini kembali Ulya tidak bisa memejamkan matanya. dirinya hanya memandang langit-langit memikirkan apakah dirinya kali ini salah mengambil keputusan lagi? bahkan sekarang kenangan saat dirinya sedang hamil tapi Zidan juga tidak seperhatian itu kembali di benaknya.


Pagi hari setelah sholat subuh, Ulya bangun untuk membuat saran didapur.


"Pagi istriku" Zidan memeluk Ulya yang sedang masak dari belakang


"Mas kamu sudah bangun" ucap Ulya


"Iya sayang, mas merindukanmu" ucap Zidan di telinga Ulya


"Mas, mas Zidan" Sela memanggil


"Huh.. maaf ya, Sela sepertinya membutuhkanku" Zidan segera kembali kekamar Sela


Sakit, itulah yang dirasakan hati Ulya. melihat suaminya begitu memperhatikan Istri mudanya

__ADS_1


"Astaghfirullah" Ulya segera beristighfar


^Happy Reading^


__ADS_2