
"Assalamu'alaikum" ucap Niko dan Raya
"Walaikumsalam" jawab Aisyah dan Danu melihat kearah sumber suara
"Maaf ya kami baru mendengar tentang berita kalau Aisyah kecelakaan dan kalian kehilangan anak kalian. kamu kenapa tidak memberitahu kami Dan, sebagai teman kami adalah orang terakhir yang mengetahui keadaan kalian saat ini" Niko menghujani dengan berbagai pertanyaan Niko dan Ray juga mengungkapkan rasa bersalahnya karena saat itu Danu terlambat menjemput Aisyah lantaran asyik ngobrol dengan mereka berdua
"Bukan salah kalian dan bukan salah siapa-siapa. ini memang takdir yang harus kami jalani. InsyaAlloh kami iklas" Aisyah mencoba tersenyum dan memperlihatkan ketenarannya
"Kamu beruntung Danu memiliki istri seperti Aisyah, Aisyah benar-benar bisa merubah Danu yang emosian menjadi pribadi yang lebih tenang" Niko mengacuni jempol
"YA Alloh, kirimkan aku jodoh wanita seperti Aisyah satu saja" sahut Ray mengangkat tangannya
"Kamu mau juga wanita seperti Aisyah? kirain tipe kamu wanita yang sexy dengan pakaian yang super minim hahaha" Niko tertawa
Sebenarnya Niko, Ray dan Danu ini dulunya memang menginginkan wanita yang sexy dan terlihat modis dari segi penampilan, karena pekerjaan mereka dibidang fashion menuntut mereka untuk setiap saat menghadiri jamuan makan dengan para pengusaha lainnya dan tak jarang mereka akan membawa serta memamerkan wanita mereka. tentunya penampilan wanita mereka pun akan menjadi pusat perhatian tamu undangan yang menghadiri acara tersebut.
"Gak lah, melihat kebahagiaan Danu setelah menikah dengan wanita sholihah. Membuat aku juga menginginkan wanita seperti itu, wanita yang bisa membawa kita menjadi peribadi yang lebih baik. aku juga sudah bosan dengan wanita-wanita yang memamerkan aurat mereka, kalau hanya untuk bersenang-senang mungkin mereka cocok. Tapi untuk dijadikan istri aku rasa tidak." Ray yang sudah hijrah sekarang lebih memilih untuk mencari wanita yang sholehah.
"Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam"
"Aisyah, ini dokumen yang harus kamu tanda tangani! untuk pengiriman pesanan ke timur Tengah sudah aku selesaikan dengan kak Ulya, kemungkinan dalam waktu dua tiga hari lagi barang akan sampai" Fitri menyerahkan beberapa dokumen yang membutuhkan tanda tangan Aisyah
"Maaf ya Aisyah aku terpaksa membawa dokumen ini kesini, karena ini harus segera kita kirim ke klien" ucap Fitri
"Iya tidak apa-apa, tinggal disini dulu, biar nanti aku tanda tangan" jawab Aisyah
"Wow kedip wow, anak orang lo plototin kayak gitu. dosa tau!" goda Niko dan membuat semuanya tertawa dan Fitri salah tingkah
"Ini siapa Dan?" tanya Ray menunjuk Fitri
"Teman kuliah Aisyah, dan sekarang bekerja membantu bisnisnya Aisyah juga" jawab Danu yang mulai mencium gelagat Ray tertarik dengan Fitri
"Hai.. kenalkan aku Ray" ucap Ray
"Fitri hanya membalas dengan anggukkan dan senyuman manis
"Ehemm.. " Danu berdeham dan melihat kearah Ray dengan tatapan penuh arti
"Kok aku tidak pernah tau kalau istri kamu punya teman semanis ini" Ray yang malu-malu memberanikan diri dan Aisyah tersenyum melihat melihat tingkah sabahat suaminya
***
__ADS_1
"Assalamu'alaikum Abah"
"Walaikumsalam, kamu baru pulang nduk?" tanya Abah tersenyum melihat kedatangan Ulya
"Iya bah, ada kak Fir disini?" tanya Ulya melihat Firdaus sedang menunjukkan beberapa Dokumen pada Abah
"Iya, nak Fir sedang membantu Abah dalam mengelola sekolah yang InsyaAlloh tahun ajaran ini sudah bisa mulai menerima siswa baru." jelas Abah karena pembangunan sekolah sudah berjalan 90%
"Alhamdulilah, berarti butuh guru baru banyak kan bah? kalau begitu Ulya akan membantu mengajar disekolah kita saja bah"
"Kamu tidak ingin jadi Dosen saja nduk?" kembali Abah bertanya karena sesungguhnya Abah ingin Ulya menemukan pengalaman baru dilingkungan kerja yang baru.
"Sama-sama mengajar kan bah? sekolah kita saja masih mencari guru, kenapa Ulya harus mengajar ditempat lain?"
"Maksud Abah, Abah ingin kamu menemukan pengalaman baru nduk." Abah mengutarakan apa yang menjadi isi hatinya, karena selama ini Ulya adalah anak yang memang kurang pandai bergaul
"Kalau Abah mengijinkan, biar Ulya mengajar disekolah kita saja bah"
"Baiklah kalau itu mau kamu. oya bagaimana keadaan Aisyah saat kamu pulang tadi?"
"Alhamdulillah, Aisyah sudah jauh lebih baik bah"
"Alhamdulillah kalau seperti itu, habis menyelesaikan ini, Abah dan Umi akan kerumah sakit" ucap Abah
"Aisyah kenapa lagi bah? bukannya kemarin sudah pulang dari rumah sakit?" Firdaus memotong pembicaraan Abah dan anak ini
"Inalilahi wainnailaihi rojiun, maaf bah Fir baru dengar. Lalu bagaimana keadaan Aisyah saat ini bah?"
"Alhamdulillah Aisyah selamat, tapi bayi yang dikandung Aisyah keguguran" Abah berusaha untuk menahan kesedihannya karena biar bagaimana ini adalah cucu yang sangat Abah nantikan
"Semoga Alloh memberikan kesabaran dan akan menggantikan dengan yang lebih baik" ucap Firdaus. Abah dan Ulya pun mengaminkan
"Kalau diijinkan, bagaimana kalau Firdaus antarkan Abah dan umi kerumah sakit?"
"Nak Firdaus mau mengantar kami? tapi apa tidak merepotkan nak Fir? Abah tau nak Fir ini pasti sangat sibuk"
"Tidak Abah, kebetulan Firdaus ada waktu" jawab Firdaus tersenyum karena senang bisa mengantarkan Abah
"Baiklah, Ulya tolong panggil Umi untuk bersiap. Abah akan pergi bersama nak Fir kerumah sakit" Abah menyuruh Ulya untuk memanggil Umi agar segera bersiap. tidak bisa dipungkiri, Abah juga senang karena Firdaus berinisiatif untuk mengantarkan Abah. Abah memiliki feeling kalau Firdaus sepertinya ada rasa ketertarikan dengan putrinya Ulya.
***
Abah dan Umi kita sudah sampai dirumah sakit diantarkan oleh Firdaus, dan disana masih ada Niko, Ray dan juga Fitri
__ADS_1
Abah memperkenalkan Firdaus pada Danu dan Aisyah. Niko menatap kearah Firdaus dan memiliki firasat yang kurang mengenakkan. apalagi Niko tau, Abah selalu menjodohkan anak-anaknya dengan laki-laki pilih Abah.
Nik memandang penampilan Firdaus yang cukup religi. ganteng dan mengenakan baju Koko, apalagi dengan latar belakang seorang Dosen dan pemahamannya tentang agama cukup tinggi. sudah pasti Firdaus memiliki nilai plus dimata Abah. dan entah kenapa ada perasaan takut seperti tidak rela jika Ulya dijodohkan dengan laki-laki ini.
Kini Niko yang ada didalam mobil, tidak henti-hentinya memikirkan tentang Firdaus yang sudah tampak akrab dengan keluarga Abah.
"Aku ini sebenarnya kenapa? memangnya kenapa kalau Firdaus dekat dengan keluarga Abah dan memang kenapa juga kalau Ulya dijodohkan dengan Firdaus? dia laki-laki yang sepertinya cukup baik? tidak.. tidak.. bukan cukup baik. tapi sepertinya memang baik. lalu apa masalahnya? kenapa aku seperti tidak rela seperti ini? apa aku ini sudah gila sekarang? aku ini bukan siapa-siapa Ulya. kenapa juga aku tidak rela?" umpat Niko pada dirinya sendiri
"Niko kok tumben masuk rumah tidak salam?" tanya bu Nisa
"Assalamu'alaikum, maaf ma Niko tidak tau kalau mama ada dirumah" ucap Niko yang wajahnya terlihat lagi muram
"Walaupun mama tidak dirumah bukankan seharusnya mengucapkan salam ketika kita masuk? Bi Nisa tersenyum dan mencoba memperhatikan putranya yang tampak tidak bahagia
"Ada apa dengan anak mama? kenapa wajahnya terlihat tidak bahagia?" tanya bu Nisa
"Tidak ada apa-apa kok ma" Niko berbohong
"Mama ini kenal siapa anak mama. ya walaupun mama akui, mama memang jarang ada waktu untukmu. Tapi mama ini tetaplah seorang ibu yang telah melahirkan kamu, jadi mama tau kapan anak mama bahagia, kapan anak mama sedang tidak bahagia" Bu Nisa merasa bersalah karena selama ini waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dari pada mengurus putra semata wayangnya
Niko mendekat dan memeluk mamanya.
"Ma, Niko memang sedang tidak bahagia" ucapnya tanpa melepas pelukan mamanya
"Sini duduk, cerita sama mama. kamu kenapa? apa yang membuat anak kesyangan mama ini tidak bahagia?" Bu Nisa mentap lekat anaknya yang saat ini duduk disampingnya
"Niko tidak tau ma, Niko sendiri sampai saat ini sebenarnya tidak yakin dengan perasaan Niko. hanya saja kenapa saat Niko mengetahui Ulya seperti akan dijodohkan dengan laki-laki lain hati Niko seperti tidak rela" ucap Niko jujur dengan bu Nisa
"Ulya? jadi ini masalah Ulya yang akan dijodohkan dengan laki-laki lain? apa kamu menyukai Ulya?" tanya Bu Nisa seakan tidak percaya
Niko diam tidak menjawab
"Kamu tidak benar-benar mencintai Ulya kan Nik? kembali bu Nisa mengajukan pertanyaan
"Niko sendiri juga sebenarnya belum yakin dengan perasaan Niko ma, tapi gak tau kenapa saat tadi Niko melihat Abah bersama dengan laki-laki yang sepertinya akan dijodohkan dengan Ulya hati Niko seperti tidak rela ma" terang Niko
"Niko apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan nak? mama sebenarnya juga mengharapkan kamu segera menikah, karena mama juga ingin segera memiliki cucu. Tapi kalau Ulya? begini Niko, Ulya memang anak yang baik. Mama juga suka dengan Ulya, anaknya cantik, santun dan lembut tapi kalau untuk dijadikan istri sebaiknya kamu pikirkan lagi Niko. kamu tau kan status Ulya?" Bu Nisa menatap Niko dan berusaha menyadarkan Niko
"Kerena Ulya seorang janda?" Niko bertanya dan melihat mamanya
"Jujur iya Niko. Kamu tau kan, keluarga kita ini keluarga terpandang. apa kata orang jika pewaris satu-satu kami menikah dengan seorang janda?"
"Ma, apakah dosa menikahi seorang janda? Ulya jadi janda pun bukan karena kemauan dia, Ulya jadi janda karena suaminya yang memperlakukan dia secara tidak manusiawi. menjadi janda bukanlah pilihan hidupnya. tapi saat takdir tidak sesuai dengan kehendak manusia, bukankah manusia hanya bisa menjalani dengan iklas. jadi Niko mohon ma, jangan memandang rendah Ulya hanya karena dia seorang janda" Niko mencoba memberi pengertian pada mamanya agar bisa melihat Ulya dengan sudut pandang yang luas, tidak seperti kebanyakan orang yang melihat predikat janda dengan dengan sudut pandang yang sempit bahkan cenderung negatif. padahal menjadi janda pasti bukanlah pilihan mereka.
__ADS_1
^Happy Reading^
Jangan lupa terus berikan dukungan kalian dengan like sebanyak-banyaknya dan Berikan Vote yang banyak. karena akan ada hadiah menatimu bagi 5 pemenang pembari dukungan terbanyak. dan jangan lupa follow Qurrotaayun karena syarat pemenang harus sudah follow terimakasih 🙏