Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 74


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara adzan berkumandang Niko dan Ray yang sekarang sudah terbiasa bangun saat mendengar suara adzan segera bangkit dan berjalan gontai menuju kamar mandi secara bergantian dan membersihkan diri bersiap kemasjid untuk sholat subuh berjamaah.


Keduanya tampak khusyuk dalam melakukan ibadah sholat shubuh.


Selesai sholat keduanya belajar membaca Al-Quran.


Sementara ditempat lain, Danu dan Aisyah juga sholat subuh berjamaah.


Hari ini Aisyah dan Danu menyempatkan diri untuk joging bersama sebelum mereka memulai aktivitas mereka.


"Assalamu'alaikum Om Burhan" Sapa Danu melihat pak Burhan joging sendiri


"Sendiri aja om, tante Devi tidak ikut? tanya Danu


"Assalamu'alaikum Om" sapa Aisyah sedikit menganggukkan kepala


"Walaikumsalam, hah.. tantemu itu orang penting. wajarlah kalau tidak sempat menemani olahraga. beda sama istri yang tidak ada kerjaan" jawab Burhan dengan ekspresi sombongnya


Danu dan Aisyah saling pandang tersenyum.


"Om, mau sesibuk apapun kita. olahraga juga penting Om. buat apa banyak duit kalau gak sehat" ucap Danu kembali tersenyum


"Tante olahraganya lain hah.. " Pak Burhan berlalu


"Mas, om Burhan itu kalau sama Aisyah kok kayaknya gak suka kenapa ya?"


"Udah biarin saja, yang penting aku sayang kamu" ucap Danu mencolek gadu Aisyah dan kembali berlari


Sesampainya dirumah, Aisyah segera kedapur untuk menyiapkan sarapan dan bekal suaminya.


"Mas, pulang dari kampus Aisyah boleh ke butik? Aisyah ingin mulai mendisain" ucap Aisyah


"Boleh, nanti pulangnya aku jemput. kalau pekerjaan dikantor udah selesai ya"


***


Di pesantren


Niko mengambil ponselnya dan mencari kontak mamanya. lalu menekan tombol hijau


"Assalamu'alaikum" ucap Niko


"Ada apa Nik? cepat katakan. mama sama papa sebentar lagi meeting" ucap Bu Nisa yang tak membalas salam dari Niko


"Ma, Niko kan sedang mengucapkan salam. harusnya mama menjawab dengan Walaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh" protes Niko


"Kamu salah makan atau kesambet apa sih? tumben pakek salam-salaman segala"


"Ma, dijawab dulu salam Niko"


"Iya, iya Walaikumsalam. cepat katakan ada apa menelpon?" jawab bu Nisa


"Ma, mama tidak kangen ya sama Niko? apa kalau telpon harus ada apa-apa dulu"


"Kangen, tapi mama tidak ada waktu untuk hal yang tidak penting Nik. ya sudah kalau tidak ada yang penting. Mama tutup ya telponnya. mama dan papanharus segera pergi meeting"


"Tu-tunggu ma, ada yang mau Niko katakan sama mama dan papa"


"Ada apa Nik? cepet katakan jangan lama-lama. mama tidak punya banyak waktu" ucap bu Nisa


"Niko sekarang tinggal di pesantren ma" Ucap Niko


"What? apa tadi kamu bilang? pesantren? kamu tidak salah?"


"Iya ma, Niko sekarang tinggal dipesantren, Niko ingin mengenal Alloh. ma Niko takut sebagai seorang muslim tapi Niko tidak faham sejatinya untuk apa kita ini hidup didunia. dunia yang hanya sebentar ini. dan Niko takut nanti Niko mati Niko tidak punya bekal apa-apa untuk Niko bawa. Sedangkan harta kita yang banyak ini tidak bisa kita bawa. semua akan kita tinggal. hanya amal yang akan kita bawa saat nanti kita mati. karena itu Niko memutuskan untuk mencari bekal menuju akhirat."

__ADS_1


"Niko sebenarnya apa yang kamu bicarakan? jangan menakut-nakuti mama seperti itu. kenapa kamu bawa-bawa kematian? kamu tidak sedang sakit kan?" bu Nisa kawatir


"Alhamdulillah Niko sehat ma, tapi bukankan semua yang bernyawa pasti akan mati dan kembali kepada sang Pencipta yaitu Alloh ma? kematian itu sesungguhnya sangat dekat dengan kita. hanya saja tidak banyak manusia yang menyadari itu. manusia terlalu disibukkan dengan silau dan gemerlap dunia hingga lupa menyiapkan bekal akhirat"


"Ma ayo cepat kita telat nanti" ucap pak Bima


"Nik, kita bicara lagi nanti ya! mama sama papa sudah terlambat" ucap Bu Nisa menutup telpon


"Assalamu'alaikum" ucap Niko namun sambungan telpon sudah terputus


"Ya Alloh semoga Engkau memberikan hidayahMu untuk mama dan papa Niko" gumam Niko memandang foto mama dan papanya yang ada di meja.


"Kenapa Nik. om dan tante tidak perduli kamu tinggal di sini?" tanya Ray yang sedang bermain ponsel dikasur


"Iya Ray, mereka masih saja lebih mementingkan bisnis mereka ketimbang anak kandung mereka sendiri" jawab Niko


"Itulah kenapa aku juga belum menghubungi mama dan papaku. aku ingin tau kapan mereka menyadari kalau putra satu-satunya mereka tidak ada dirumah" ucap Ray yang orang tuanya juga selalu sibuk dengan bisnis mereka.


"Semoga suatu saat orang tua kita sadar. dan segera mendapatkan hidayah dari Alloh" ucap Niko dan Ray mengaminkan


***


Dimobil pak Bima


"Pah, sekarang Niko tinggal dipesantren" ucap Bu Nisa


"Dipesantren? kenapa Niko tinggal disana? ucap pak Bima yang sedari tadi sibuk mempelajari dokumen untuk persiapan meeting


"Entahlah, keracunan apa tu anak.bicaranya nglantur. masak pakek bawa-bawa mati segala. tadi Niko juga bilang kalau semua yang kita miliki ini nanti akan kita tinggal saat kita mati" ucap Bu Nisa


"Hah.. bocah baru kemarin sore, tau apa dia tentang semua ini?" ucap pak Bima menghentikan aktivitasnya


"Dia pikir untuk bisa sampai sekarang ini gampang, kita harus mengorbankan waktu. tenaga, pikiran. dia pikir semua ini untuk siapa? ini semua nantinya juga buat dia." gerutu pak Bima lagi


***


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Aisyah melirik jam yang ada ditangannya. melihat sudah terlalu sore Aisyah bersiap untuk pulang.


"Assalamu'alaikum" sapa Danu saat Aisyah sedang menutup pintunya


"Walaikumsalam, mas Danu. Aisyah kira tidak jadi kesini. baru saja Aisyah mau pulang sendiri" ucap Aisyah


"Maaf ya, tadi pekerjaan dikantor lumayan banyak. ya sudah kita langsung pulang" ucap Danu mengajak Aisyah berjalan menuju ke mobil.


Danu memabukkan pintu mobilnya dan mempersilahkan Aisyah masuk


"Terimakasih ya mas" ucap Aisyah tersenyum dan masuk kedalam mobil.


Didalam mobil Danu dan Aisyah tampak berbincang ringan. satu tangan Danu seakan tidak mau lepas dari Aisyah. selalu menggenggam tangan Aisyah dan satu tangan memegang setir mobilnya.


"Mas fokus pada jalan" ucap Aisyah


"Iya sayang, bagaimana kalau kita cari makan dulu? kamu mau tidak?"


"Boleh mas, kebetulan Aisyah juga sudah lapar" ucap Aisyah


"Bagaimana kalau kita makan, makanan Jepang. mau tidak?"


"Boleh" jawab Aisyah singkat


Danu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran Jepang.


Disana Danu bertemu dengan tantenya yang tak lain adalah istri dari pak Burhan


"Assalamu'alaikum tante" ucap Danu dan Aisyah

__ADS_1


"Walaikumsalam, Danu, Aisyah. kalian juga makan disini?" tanya bu Devi


"Iya, tante tidak sama om Burhan?" tanya Danu melihat sekitar


"Tidak, tante bersama rekan-rekan kantor tante. bagaimana mau gabung atau_? bu Devi menawarkan


" Tidak usah tante, kita makan sendiri saja. tidak ingin mengganggu acara tante"jawab Danu tersenyum


"Okey, kalau begitu silahkan dilanjutkan" ucap Danu lagi dan menggandeng Aisyah mencari meja


***


"Dan, kita makan siang bersama. sekalian ada yang mau Om bicarakan" ucap pak Burhan masuk ruangan Danu


"Makan siang disini saja ya om, biar saya pesankan makanan buat Om Burhan" ucap Danu dan segera memerintah Roni untuk membelikan makan siang buat pak Burhan


"Kenapa hanya memesan satu makanan. apa kamu tidak makan siang?" tanya Pak Burhan


"Danu bawa bekal dari rumah Om" jawab Danu mengeluarkan kotak bekalnya


"Kamu ke kantor bawa bekal kayak gini?" tanya Pak Burhan menatap Danu


"Iya Om, kenapa?"


"Apa kamu tidak malu bawa bekal dari rumah?"


"Kenapa harus malu. justru Danu senang disiapkan bekal dari rumah. karena kalau menurut Danu, seenak apapun makanan diluar tetap enak makanan buatan istri sendiri om. karena makanan buatan istri sudah pasti masaknya pakek cinta" jawab Danu tersenyum


Tok.. tok..


"Masuk"


"Ini makanan yang Anda pesan pak" ucap Roni menyerah paper bag berisi makanan


"Terimakasih Ron" ucap Danu dan Roni segera meninggalkan ruangan Danu


"Silahkan dimakan Om"


Om Burhan tampak memperhatikan Danu yang tersenyum saat membuka bekal makan siangnya. bekal yang terlihat lucu dengan bentuk hati ditengah nasinya.


"Hah.. seperti anak kecil saja" sindir pak Burhan


"Justru ini namanya romantis Om, ini bentuk sayangnya Aisyah untuk Danu" jawab Danu tersenyum


"Sepertinya kamu benar-benar mencintai istri kamu"


"Tentu saja Om, Aisyah wanita yang sangat menghargai suami. dan dia tau persis bagaimana seharusnya tugas dan tanggung jawab dia sebagai seorang istri. walaupun dia masih harus memikirkan kuliahnya juga, tapi dia tidak pernah mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri" jawab Danu


"Iya tapi menurut Om, tetep saja dia tidak lebih baik dari Vallen"


"Om salah, Aisyah tidak bisa dibandingkan dengan Vallen. mereka wanita yang sangat jauh berbeda. Aisyah itu wanita yang sangat istimewa. dah keberuntungan Danu adalah bisa menikah dengan wanita seperti Aisyah" jawab Danu


"Sudahlah, bahas kamu dan Aisyah itu oercuu. karena kamu sudah dibutakan oleh Aisyah" gerutu Pak Burhan dan Danu tersenyum


"Oya, semalam Danu bertemu dengan tante Devi sedang makan bersama dengan rekan-rekan kantornya direstoran Jepang. Om kenapa tidak pernah ada diacara tante?"


"Kami ini orang sibuk, kami punya kesibukan masing-masing. beda sama kamu dan istri kamu yang hanya dirumah. wajarlah jika Om tidak bisa selalu ada untuk tante dan tante tidak selalu ada untuk Om"


"Beda sama Danu Om, semenjak Danu menikah rasanya ingin dekat terus dengan istri Danu."


"Sudah-sudah, sebenarnya Om kesini ingin menayangkan. apa akhir-akhir ini kamu membeli butik? Om dikasih tau pak Bagus kalau kamu habis membeli butik darinya. apa itu benar?"


"Iya bener, memang kenapa Om?"


"Tidak apa-apa, hanya saja Om penasaran untuk apa kamu membeli butik. jangan bilang untuk istri kamu? istri kamu kan tidak faham tentang fashion, kenapa kamu bukakan butik?"

__ADS_1


"Kata siapa istri Danu tidak mengerti fashion. justru dia itu punya bakat yang tidak banyak orang tau Om. nanti saat butiknya sudah mulai dibuka. Om akan tau hasil rancangan Aisyah. karena nanti semua yang ada di butik itu semua rancangan Aisyah"


"Hah..Om tidak yakin. orang mana yang akan membeli disain dari seorang yang maaf, tapi Om rasa apa yang katakan ini benar. orang yang tidak faham fashion. lihat saja penampilan istri kamu, sama sekali tidak menunjukkan seorang yang faham dunia fashion" ucap pak Burhan


__ADS_2