
"Mas, Aisyah ngantuk mau tidur. besok harus kuliah" ucap Aisyah membuyarkan lamunan Danu
"Eh.. iya, kamu tidur dikasur saja, biar aku tidur disofa" ucap Danu
"Jangan mas tidak usah, Ais tidur disofa saja"
"Aku bilang biar aku saja yang tidur disofa. ini perintah" ucap Danu lagi-lagi mengeluarkan jurus andalan
"Iya mas" Aisyah menurut dan tidur dikasur menatap Danu yang tidur disofa
Danu pun menatap Aisyah yang tidur dikasur . kini kedua mata mereka saling bertemu
"Aisyah" ucap Danu lirih
"Iya mas"
"Maafkan aku ya, sempat menjadikan kamu sebagai pelarian dari rasa sakit hatiku"
"Tidak apa-apa mas, Ais faham" ucap Ais senyum
Keduanya saling pandang dan tersenyum.
Keesokan harinya Danu bangun lebih dulu. dilihatnya lekat wajah wanita yang kini sudah mulai ada dihatinya. tapi Danu masih masih cukup malu untuk mengakui perasaannya
"Hoam" Aisyah mengeliat, matanya perlahan terbuka
"Astaghfirullah" Aisyah tercengang melihat Danu sudah ada didepan wajahnya
"Apa yang kamu lakukan mas? kenapa ada disini?"
"Sedang menunggumu bangun. sana cepet wudhu, aku tunggu disini"
"Iya mas"
Aisyah bangun dan mengambil air wudhu
Kini Aisyah yang sedang menjadi makmum berdiri dibelakang Danu. sekilas Aisyah merasakan perubahan pada diri suaminya yang nampak ganteng dengan balutan baju koko, sarung dan pecinya
Seselai sholat Aisyah mencium tangan suaminya dan Danu tiba-tiba menarik Aisyah dan mencium keningnya dengan lembut
Sontak Aisyah membelalakkan matanya, karena tidak biasanya Danu seperti ini.
Aisyah membuka mukenanya dan segera membetulkan jilbabnya agar Danu tak melihat rambut indahnya tapi tiba-tiba saja Danu memegang tangan Aisyah dan melepaskan jilbabnya
"Mas Danu mau apa?" Aisyah kaget dan mau menghindar tapi lagi-lagi Danu tak menjawab hanya senyum dan membuka jilbab Aisyah
"Aku suami mu, aku berhak atas dirimu"
"I-iya tapi kan" Ucap Aisyah terpotong
Danu melepaskan ikat rambut Aisyah dan membiarkan terurai panjang, menata rambut indah Aisyah dengan jari dan menyelipkan satu sisi rambut Aisyah dibelakang telinganya.
"Kamu cantik" ucap Danu
Aisyah tersipu malu dan menundukkan wajahnya
__ADS_1
Danu mengangkat dagu Aisyah dan mencium kembali kening Aisyah. Aisyah pun memejamkan matanya.
***
Sekarang Aisyah sedang sibuk didapur menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuanya
Aisyah juga tidak lupa mbuatkan bekal untuk Danu suaminya
"Pagi Ma, Pa" ucap Danu menuruni anak tangga sambil mengancingkan kancing dilengan bajunya "
"Pagi sayang, sini sarapan dulu" ucap bu Retno
"Danu sepertinya tidak bisa sarapan bareng kalian, Tiba-tiba jadwal meeting diajukan ma" ucap Danu buru-buru
"Mas"
Danu menoleh kearah aisyah dilihatnya Aisyah mendekat dengan membawa kotak bekal makanan.
"Ini sudah Aisyah buatkan bekal. untuk makan dikantor" ucap Aisyah senyum
Diambilnya kotak makan siang, dan Aisyah mencium punggung tangan Danu. Danu pun dengan cepat mencium kening Aisyah
"Manis sekali" gumam bu Retno melihat Danu yang sepertinya sudah banyak berubah dan itu membuat bu Retno merasa lega tentunya.
Pak Herman pun tersenyum melihat pemandangan yang dirasa sangat indah dipagi hari
Didalam mobil, Danu terlihat sangat bahagia. hatinya merasakan sesuatu yang berbeda ada perasaan nyaman setiap berasa dideket Aisyah.
Sesampainya dikantor
"Vallen, untuk apa kamu disini"
"Okey, biar saya lihat
Danu melihat disain yang diberikan oleh Vallen, dan Vallen berusaha mencuri pandang pada Danu. dan sekilas Vallen melihat kotak bekal makanan yang baru saja diletakkan Danu di mejanya.
"Apa itu bekal dari wanita kampungan itu" batin Vallen
"Dan" ucap Vallen terputus
"Aku tidak suka membicarakan masalah selain urusan pekerjaan dikantor" ucap Danu memotong pembicaraan Vallen
"Aku mohon dengarkan aku. aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu Dan, saat itu aku sedang mabuk dan kami sama-sama tidak sadar saat melakukan itu. aku hanya mencintai kamu Dan"
"Apa kamu sudah tidak bisa lagi mendengar kata-kataku? aku tidak membahas masalah pribadi dikantor. jadi tolong segera keluar dari ruanganku" ucap Danu melihat pintu mengisyaratkan agar Vallen keluar
"Dan.aku.. "
"Keluar aku bilang" Danu meninggikan suara
Tak terasa air mata Vallen menetes membasahi pipi mulusnya. ini kali pertamanya Danu berbicara dengan nada tinggi padanya. selama ini Danu selalu bersikap lembut dan manis pada Vallen.
Vallen menyeka air mata di pipinya dan pergi meninggalkan ruangan Danu. sementara Danu yang tidak pernah tega melihat Vallen menangis berusaha menahan perasaannya agar tidak goyah kedalam pelukan Vallen.
***
__ADS_1
Dret... dret...
"Assalamu'alaikum" Danu mengangkat telpon dari Aisyah
"Walaikumsalam mas" jawab Aisyah
"Ada apa? baru juga samapai kantor sudah ditelpon. kangen ya?" goda Danu
"Apaan sih mas, Ais mau minta ijin pulang dari kuliah mau mampir ke apartemen kak Ulya"
"Okey, nanti aku jemput dirumah kak Ulya ya"
"Iya mas. Assalamu'alaikum" Aisyah menutup telpon
"Walaikumsalam"
Danu menutup telpon dan tersenyum. matanya memandang kotak bekal yang disiapkan Aisyah
Tok.. tok..
"Masuk"
"Pak Danu, saya mau memberitahu kalau bu Vallen kecelakaan.didepan kantor dan sekarang dibawa kerumah sakit
"Vallen kecelakaan?bagaimana keadaannya? Danu panik dan segera berlari ke parkiran untuk mengambil mobilnya sebelum Roni menjawab pertanyaannya.
Danu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
sesampainya dirumah sakit, Danu berlari keruang UGD dan mencari Vallen.
"Danu" ucap Vallen seneng melihat Danu yang tampak mengkhawatirkan nya.
"Huft.. " Danu menghembuskan nafas lega melihat keadaan Vallen yang sepertinya tidak begitu parah.
"Syukurlah sepertinya kamu baik-baik saja" ucap Danu melihat Vallen yang masih berada di ruang UGD dengan duduk dan tangan diperban.
"Iya, hanya saja tanganku untuk sementara tidak bisa digunakan untuk bekerja. karena kata dokter masih harus memakai gips selama 2 bulan" ucap Vallen sedih
"Ya sudah tidak apa-apa, kamu istirahat saja dulu. untuk sementara tidak usah kekantor"
"Tapi bagaimana dengan fashion show yang akan digelar di Paris?"
"Tidak perlu kamu pikirkan masalah itu, aku kan mencari disainer lain untuk mengurus masalah itu"
"Iya ta-tapi gak bisa begitu dong! lalu bagaimana dengan ku?"
"Mau bagaimana lagi, dipaksakan pun juga percuma. kamu tidak akan bisa bekerja dengan kondisi tangan seperti itu"
Vallen menunduk sedih. air matanya mentes.
"Sudah tidak apa-apa, kamu pikirkan saja kesehatan kamu. masih banyak kesempatan" ucap Danu menyentuh bahu vallen untuk menenangkan nya.
"Danu" Vallen mengangkat wajahnya dan memegang tangan Danu yang berada di pundaknya.
menatap mata Danu dengan penuh harap
__ADS_1
^Happy Reading^
Maafkan author ya sayang, jarang up disini 🙏karena kesibukan Author akhir-akhir ini jadi tidak bisa membagi waktu.