Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 106


__ADS_3

"Ulya" panggil Zidan saat bertemu Ulya dan Niko dipusat perbelanjaan


"Mas Zidan" gumam Ulya menoleh kearah sumber suara, begitu juga dengan Niko


"Dia" Zidan menunjuk Niko, pasalnya Zidan tau kalau Ulya sudah menikah lagi, tapi tidak menyangka kalau menikahinya dengan laki-laki yang pernah dituduh dekat dengan Ulya ketika Ulya masih menjadi istrinya


"Oow.. ini mas Niko suami Ulya" ucap Ulya memperkenalkan


"Niko" ucap Niko mengulurkan tangan dan dengan ragu Zidan membalas uluran tangan Niko


"Selamat atas pernikahan kalian, aku do'akan semoga kalian bahagia" ucap Zidan


Meskipun ada perasaan seperti tidak rela, namun Zidan berusaha lapang dada dan menerima kenyataan Ulya sudah menikah dan Ulya bukan miliknya lagi.


Sela yang saat itu ada disana bersama dengan Zidan memperhatikan penampilan Niko tampak seperti orang kaya, dari apa yang Niko kenakan.


"Sepertinya mantan istri mas Zidan pintar menggait laki-laki ya, baru cerai udah berhasil mendapatkan laki-laki kaya" ucap Selamat dengan ekspresi merendahkan


"Sudahlah Sel, lagian sudah sepantasnya dia mendapatkan laki-laki yang baik dan mencintai dia, Ulya wanita yang baik. Jadi pantas kalau Ulya sekarang bahagia" ucap Zidan berjalan lebih dulu


"Mas Zidan, mas Zidan kok malah ninggal Sela. Kenapa? mas Zidan menyesal cerai dengan mbak Ulya?" tanya Sela kesal


"Sudahlah Sela jangan mulai lagi, ayo kita pulang. Kasihan putri kalau kita pergi terlalu lama"


Zidan sengaja ingin segera sampai rumah, untuk menghindari pertengkaran dengan Sela. Karena setiap membahas masalah Ulya pasti ujungnya akan ribut.


Dirumah lagi-lagi Zidan dan Sela ribut, suara Sela yang keras membuat putri anak mereka yang masih kecil menangis histeris karena terbangun.


Zidan segera kekamar putri dan menggendongnya, menengkannya sampai putri kembali tertidur


"Mau samapai kapan kita hidup seperti ini mas? kamu harus segera mencari pekerjaan yang baru. kamu tau kan kebutuhan punya bayi itu banyak. Dan harga susu bayi itu mahal" teriak putri


"Sela, Bukankah asi kamu keluar? kenapa kamu tidak kasih anak kita asi saja, lagipula asi itu jauh lebih baik dari pada susu formula"


Untuk kesekian kalinya Zidan meminta Sela untuk memberikan asinya pada Sela. Karena selama ini Sela selalu membuang asinya dan memberikan putri susu formula


"Mas Zidan mau Sela menyusui Putri? bilang saja mas Zidan keberatan membeli susua formula. Sela gak mau menyusui nanti badan Sela rusak, gendut, igh.. Sela gak bisa bayangin. Gak.. gak.. Sela gak mau" ucap Sela


Zidan menghela nafas kasar, istrinya yang berumur masih muda sepertinya belum siap untuk menjadi seorang ibu, itu yang selalu ada dipikiram Zidan.


Walapun terkadang Zidan merasa kesal tapi sekarang Zidan belajar lebih sabar menghadapi Sela, dan menganggap ini sebagai balasan karena sudah pernah menyia-nyiakan istri sebaik Ulya. Dan menganggap dirinya pantas mendapatkan semua ini..


***


"Uwek.. uwek... " Aisyah merasakan perutnya sangat mual saat sedang sarapan

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa? tanya Danu cemas


"Gak tau mas perut Aisyah mual banget rasanya"


Aisyah menutup mulut dengan tangannya dan segera berlari ke kamar mandi, disusul Danu karena cemas


"Jangan-jangan Aisyah hamil pah?" ucap bu Retno pada pak Herman


"Semoga ya ma, kita do'akan saja. Semoga kali ini kita segera punya cucu" jawab pak Herman tersenyum dan merasa senang.


Dikamar mandi Ais memuntahkan semua isi perutnya.


"Sayang hari ini gak sah kekampus dulu ya, sebaiknya kita ke Dokter"


Danu menyentuh kening istrinya yang terasa dingin.


"Iya mas" Jawab Aisyah lemas


Danu segera memapah Aisyah


"Pah, mah. Kami kerumah sakit dulu ya" pamit Danu


"Iya sayang, hati-hati ya. Segera kabari kami kalau sudah tau hasilnya ya" ucap bu Retno


"Iya ma, assalamu'alaikum"


pak Herman dan bu Retno mengantar Aisyah dan Danu sampai depan.


"Jadi bagaimana Dok, istri saya sakit apa?" tanya Danu setelah Dokter memeriksa


"Bapak tidak perlu khawatir, istri bapak baik-baik saja, dan ini kondisi yang wajar yang dialami setiap ibu hamil muda" jelas Dokter tersenyum


"Maksud Dokter, istri saya hamil?" Danu terlihat bahagia mendengar perkataan dokter


"Ja-jadi saya hamil dok? apa benar saya hamil Dok? kembali Aisyah bertanya dengan mata berkaca-kaca


"Iya ibu Aisyah saat ini sedang mengandung enam minggu, selamat ya ibu, bapak" ucap Dokter bisa merasakan kebahagiaan pasangan muda ini


"Terimakasih Dokter, terimakasih. Sayang kamu hamil, sebentar lagi kita akan jadi orang tua. terimakasih sayang, terimakasih" ucap Danu mencium kening Aisyah


Danu merasa sangat bahagia, dan kali ini ingin menjaga Aisyah dengan lebih baik, tidak ingin hal. dimasa lalu sampai terulang


"Mas kita kerumah Abah dan umi dulu boleh tidak?" ucap Aisyah saat pulang dari rumah sakit


"Iya sayang, kita kerumah Abah"

__ADS_1


Danu melajukan mobilnya dengan sangat hati-hati menuju rumah Abah


"Assalamu'alaikum umi" sapa Aisyah dan Danu saat melihat umi yang sedang menyapu halaman


"Walaikumsalam, Aisyah, Danu. Ada apa pagi-pagi sudah disini. Apa Danu tidak kerja dan apa Aisyah tidak kuliah?" cerca umi tapi Aisyah hanya tersenyum dan memeluk uminya


"Aisyah hamil umi" ucap Danu


"Aisyah hamil? Alhamdulillah. Akhirnya kamu hamil nak, dan umi sebentar lagi akan punya cucu"


"InsyaAlloh umi" Jawab Aisyah


"Siapa yang hamil mi? apa Aisyah hamil?" sahut Abah yang sekilas mendengar ada yang hamil


"Iya bah Aisyah hamil, sebentar lagi kita akan punya cucu" jawab Umi mengelus perut Aisyah yang masih rata


"Alhamdulillah, MasyaAlloh. Abah senang, dijaga dengan baik kehamilannya" pesan Abah


"InsyaAlloh bah" jawab Aisyah


Setelah dari rumah Abah, Danu dan Aisyah pulang kerumah memberi tau pak Herman dan bu Retno tentang kehamilannya. Benar saja kedua mertunya sangat senang mendengar Aisyah hamil, dan mereka sangat memanjakan Aisyah menghujani dengan kasih sayang.


"Aisyah kamu mau ngapain sayang?"


"Aisyah mau masak ma"


"Aisyah istirahat saja ya, jangan capek-capek. Ayo mama bantu kekamar" Ucap Bu Retno memapah Aisyah


"Ma, Aisyah gak papa kok. Aisyah justru bosan kalau tidak ngapa-ngapain"


"Gitu ya, ya sudah tapi janji ya. jangan capek-capek. Kamu harus lebih memperhatikan Kehamilan kamu kali ini ya"


"Iya ma, Aisyah akan lebih hati-hati" jawab Aisyah


***


Dikantor Danu juga tidak fokus dengan pekerjaan, pikiranannya selalu tertuju pada Aisyah dan hampir tiap jam selalu telpon Aisyah


"Assalamu'alaikum Aisyah, kamu gimana apa membutuhkan sesuatu?" tanya Danu dari sebrang telpon


"Walaikumsalam mas, kan baru satu jam yang lalu mas Danu telpon. Aisyah tidak membutuhkan apa-apa mas, mas Danu kerja yang benar saja. jangan mengkhawatirkan Aisyah berlebihan."


"Iya sayang, maaf. Tapi gimana ya, aku kangen terus sama kamu. Gak bisa terlalu lama tidak mendengar suara kamu"


"Terlalu lama gimana mas? hampir tiap jam mas Danu telpon hehehe" Aisyah tertawa dengan tingkah suaminya

__ADS_1


Danu memang lagi bucin banget sama Aisyah, apalagi saat tau kalau Aisyah hamil, rasa sayang dan cintanya untuk Aisyah semakin tak terbendung.


^Happy Reading^


__ADS_2