
Siang ini Abah bertemu dengan Firdaus, menjelaskannya jika Ulya sudah mendapatkan jawaban untuknya, namun dengan berat hati Abah menyampaikan permintaan maaf. Kalau sepertinya mereka belum ditakdirkan untuk berjodoh.
"Firdaus paham bah, walapun Firdaus sebenarnya sedih karena jujur Firdaus sangat berharap Ulya Ulya adalah jodoh Firdaus. Tapi Firdaus juga tau, bahwa jodoh merupakan takdir dari Alloh, tentu saja Firdaus harus berbesar hati jika ternyata Fir dan Ulya belum berjodoh." ucap Firdaus berbesar hati dengan penolakan dari Ulya karena sadar jika kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk berjodoh dengan kita.
"Alhamdulillah, Abah lega nakal Fir bisa legowo dengan keputusan ini. Karena ini sudah menjadi keputusan Ulya. Yang Abah juga tidak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan Ulya, Abah harus mendungnya. Ulya sudah pernah kecewa dengan pilihan Abah, kali ini Abah ingin melihat Ulya bahagia dengan pilihannya sendiri" ucap Abah seraya menepuk bahu Fir lembut memberikan kekuatan
"Fir paham bah, Fir InsyaAlloh iklas dan Fir berdoa semoga Ulya menemukan jodoh yang terbaik dan Fir akan ikut bahagia jika Ulya bahagia" ucap Firdaus dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya ingin memperlihatkan jik Fir baik-baik saja.
Abah sebenarnya tau kalau Fir hanya mencoba terlihat baik-baik saja, terlihat jelas jika Fir bersedih dengan keputusan Ulya, tapi Abah juga mendoakan agar Firdaus segera bertemu dengan jodoh yang terbaik untuknya.
***
Hari ini Niko dan kedua orang tuanya yang awalnya sempat menentang saat Niko menyampaikan keinginannya untuk menikah dengan Ulya lantaran status Ulya yang janda, datang ke rumah Abah untuk mengkhitbah Ulya dengan hati iklas dan lapang pak Bima dan Bu Nisa merestui anaknya menikah dengan wanita pilihannya dengan segala konsekuensinya.
Setelah pak Bima dan bu Nisa timbang-timbang Ulya memang wanita baik yang mungkin sengaja Alloh kirim untuk membantu putranya menjadi pribadi lebih baik dengan menikahi wanita yang paham akan akhidah agama yang benar.
"Jadi niatan kami semua kesini untuk mengantar putra Kami saru-satunya yang berkeinginan untuk mengkhitbah Ulya sebagai istri dari putra Kami Niko. Kami tau anak kami ini masih jauh dari kata baik, tapi kami sangat berharap semoga Ulya bersedia untuk menerima Niko" ucap pak Bima menyampaikan maksud kedatangannya. Dan Niko yang duduk dengan perasaan cemas, seraya berdzikir didalam hatinya
"Jadi gimana Ulya? apa jawaban kamu?" tanya pak Bima
Ulya masih terdiam dan sedikit melihat kearah Niko yang duduk dengan raut wajah yang cemas.
"Jadi gimana nduk?" tanya Abah
"Bismillah, InsyaAlloh Ulya bersedia" jawab Ulya menunduk malu
"Apa?"gumam Niko seakan tidak percaya dan mengangkat wajahnya yang dari semua menunduk karena takut
"A-apa tadi? apa bisa diulang lagi? aku belum mendengar dengan jelas?" ucap Niko melihat Ulya. Abah, Umi, pak Bima dan bu Nisa tersenyum melihat ekspresi dari Niko yang seperti orang linglung
"InsyaAlloh Ulya bersedia menerima mas Niko sebagai calon imam Ulya" ucap Ulya tersenyum
"Ma, pah, ini benaran? ini benaran Niko diterima? ini benaran Ulya mau jadi istri Niko? pah, mah. Niko tidak salah dengar kan? Niko benaran diterima jadi calon suami Ulya kan?" tanya Niko melihat kearah papa dan mamanya untuk menyakinkan bahwa dirinya tidak salah mendengar
"Iya benar Niko Ulya menerima kamu sebagai calon suaminya" jawab bu Nisa
"Alhamdulillah" gumam Niko dengan mata berkaca-kaca tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya hingga terharu dan meneteskan air mata, tapi dengan cepat Niko segera menyeka air mata yang jatuh dipipnya.
"Ini benaran Niko anak papa? sejak kapan anak papa bisa nangis gini?" goda pak Bima
__ADS_1
"Papa, ngledeknya jangan disini juga dong. Malu kan sama calon istri dan calon mertua" ucap Niko menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan seketika gelak tawa menyelimuti ruangan yang awalnya terasa tegang dan penuh keharuman kini berubah dengan gelak tawa.
***
"Alhamdulillah, jadi kak Ulya bersedia menerima khitbah dari mas Niko mi?" tanya Aisyah dari sebrang telpon
"Iya Alhamdulillah, awalnya umi kira Ulya akan menerima Firdaus, tapi ternyata Ulya lebih memilih Niko. Tapi siapapun yang dipilih Ulya, kita do'akan saja semoga kali ini pilihan Ulya adalah jodoh yang terbaik yang dikirim Alloh untuk Ulya" ucap Umi penuh harap. Tidak ingin Ulya gagal lagi dalam membina rumah tangga
"Aamiin, Umi kali ini Aisyah yakin. Kakak pasti tidak akan salah dengan pilihannya. Jadi umi tidak perlu khawatir, Aisyah tau masa lalu mas Niko yang membuat umi resah. Tapi umi harus yakin setiap orang mempunyai kesempatan untuk berubah, dan Aisyah yakin kali ini mas Niko sudah berubah. kita do'akan saja ya mi, semoga Mas Niko selalu istiqomah dan semoga kak Ulya bisa hidup bahagia dunia akhirat dengan mas Niko"
"Aamiin, iya Aisyah. Umi selalu berdoa untuk kebahagiaan Ulya dan kebahagiaan Aisyah" ucap Umi
"Oya Umi sampai lupa menanyakan kabar kamu dan Danu bagaimana? kapan kalian main kesini?"
"Alhamdulillah Aisyah dan mas Danu sehat mi, InsyaAlloh kami akan datang minggu depan sebelum pernikahan kak Ulya. Maaf ya mi kalau kami jarang main. Akhir-akhir ini mas Danu lagi sibuk, Aisyah juga sama mi urusan kuliah dan pekerjaan lumayan banyak" jelas Aisyah
"Iya Umi mengerti, tapi Ais. Kalau bisa kamu kurangi kesibukan kamu, gimana mau cepet hamil lagi kalau kalian begitu sibuk." nasehat umi yang ingin bisa segera menimang cucu
"Iya umi, Ais paham. hanya saja saat ini di butik sedang banyak pesanan mi. Tapi Aisyah sudah berusaha membatasi pesanan kok mi, Karena tujuan Aisyah membuka butik hanya sekedar menyalurkan hobby. Aisyah tidak mau sampai mengabaikan keluarga. Takut dosa" cicit Aisyah tertawa
"Alhamdulillah kalau anak umi sudah paham dan ingat kodratnya. Jadi umi tidak perlu khawatir" ucap Umi
"Ya sudah, umi mau menyiapkan keperluan Abah untuk mengisi kajian. Assalamu'alaikum" umi menutup telpon
"Telpon dari umi ya sayang?" Tanya Danu yang baru saja keluar dari kamar mandi masih dengan rambut basah seraya mengeringkan dengan handuk kecil ditangannya
"Iya mas, Umi barusan mengabari tentang kak Ulya yang akan segera menikah dengan mas Niko" jawab Aisyah tersenyum, karena sebentar lagi kakaknya akan segera menemukan pendamping hidup yang baru
"Jadi kak Ulya menerima lamaran dari Danu?" tanya Danu merasa senang
"Iya mas, kak Ulya sudah menerima khitbah dari mas Niko. sepertinya acara pernikahan mereka dalam waktu dekat. Karena Abah pasti tidak akan membiarkan kak Ulya di khitbah terlalu lama." Jelas Aisyah, karena memang seharusnya seperti itu jarak antara mengkhitbah dan pernikahan jangan terlalu lama. Memang tidak ada batas pasti berapa jarak yang baik antara khitbah dan nikah tapi semakin cepat akan semakin baik. Bukankah niat baik itu harus segera disegerakan?
"Alhamdulillah, aku sama sekali tidak menyangka dengan kepribadian Niko dia bisa benar-benar serius dengan omongannya. Semoga kali ini kak Ulya bisa hidup bahagia bersama Niko" doa tulus dari Danu untuk kakak iparnya dan juga sahabat baiknya.
"Aamiin" Aisyah mengamini dan memeluk suaminya.
"Mas aku menginginkannya" bisik Aisyah ditelinga Danu sontak membuat Danu membulatkan matanya dan tersenyum, karena tidak biasanya Aisyah lebih dulu agresif, biasanya Aisyah yang hanya melakukan saat suaminya menginginkan. Berbeda dengan hari ini Aisyah berinisiatif meminta lebih dulu pada suaminya
"Tumben hari ini kamu inisiatif mengatakan lebih dulu?" tanya Danu mengerutkan keningnya
__ADS_1
"Karena seorang istri akan mendapatkan pahala lebih banyak jika berinisiatif meminta lebih dulu, Seperti disebutkan dalam kitab Adabun Nisa juz 1 halaman 292. "Ketika seorang istri mencium suaminya dengan ikhlas maka dia seperti khatam 12 kali." terang Aisyah malu-malu dengan wajah memerah seperti udang rebus
"Jadi gimana mas, mau tidak?" kembali Aisyah bertanya dan menutup wajah dengan kedua tangannya
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya Danu langsung mengangkat tubuh kecil Aisyah didalam gendongannya dan perlahan merebahkan Aisyah diatas ranjang, melepaskan satu persatu kain yang menutup tubuh Aisyah dan melemparkan kesembarangan arah, hingga keduanya meneguk indahnya surga dunia dan meraih pahala bersama. Karena melakukan hubungan suami istri merupakan bentuk ibadah.
***
Keesokan harinya
Danu, Niko dan Ray berkumpul disebut cafe
"Mbak Pesen Americano dua late satu ya" ucap Danu pada karyawan cafe
"Baik Pak, mohon ditunggu sebentar" ucap karyawan cafe
Danu kembali duduk menghampiri kedua sahabatnya
"Keren kamu Nik, aku gak nyangka kamu benar-benar berani mengambil keputusan sebesar ini. Jadi kapan rencana pernikahannya?" tanya Niko menggeaer kursi dan duduk disamping Niko
"Tunggu, tunggu. Kalian ini membicarakan apa sih? sepertinya baru satu minggu aku keluar negeri sudah ketinggalan berita besar?" sahut Ray, karena maminya yang tiba-tiba mengatakan sakit dan meminta Ray untuk menyusul maminya ke Singapura sehingga membuat Ray tidak tau perihal Niko Mengkhitbah Ulya
"Sahabat kita yang satu ini sebentar lagi soldout" jawab Danu melirik Niko dan senyum penuh arti
"Maksudnya Niko mau nikah gitu? ini benaran?
kamu mau nikah?" tanya Ray melihat kearah Niko
Niko mengangguk dan tersenyum malu-malu
"What? jadi benaran? mau nikah sama siapa?" Ray tercengang
"Siapa lagi yang mampu membuat playboy kita insaf kalau bukan kak Ulya, sebentar lagi aku manggilnya harus kak Niko bearti dong?" goda Danu
"Wuiihh.. keren juga kamu Nik, tiba-tiba langsung mo nikah" Ray kagum dan bertepuk tangan
"Ini pesannya kak" ucap karyawan cafe
"Terimakasih mbak" jawab semuanya dan menikmati coffee pesenan mereka
__ADS_1
^ Happy Reading ^
Jangan lupa like, coment dan vote ya, kasih poin juga ya kasih dukungan terbanyak, karena masih ada kesempatan mendapatkan pulsa dan parfum dari thor. syarat harus sudah follow akun Qurrotaayun ya terimakasih 🙏🙏