Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah

Tak Cinta Bukan Berarti Lampu Merah
CH 121


__ADS_3

Malam ini Bu Devi merasa hatinya hampa saat makan malam sendiri. biasanya suaminya selalu ada dirumah saat dirinya pulang dari kantor. Tapi malam ini saat Bu Devi pulang lebih awal dari kantor justru hatinya negara hampa lantaran hanya ada dirinya sendiri dan asisten rumah tangga dirumah sebesar ini.


Hari ini dirinya menyadari mungkin dulu suaminya juga sering merasakan hal serupa, makan sendiri saat dirinya yang sibuk dengan pekerjaan hingga jarang ada waktu walaupun hanya sekedar makan malam bersama.


Bu Devi meletakkan kembali sendok dan gapunya melihat kursi yang biasanya digunakan pak Burhan suaminya.


***


Keesokannya harinya Bu Devi mengirimkan pesan pada pak Burhan dan mengajaknya bertemu dicafe untuk makan siang bersama.


Selama makan siang keduanya hanya diam tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka.


"Bagaimana kabar kamu akhir-akhir ini Pah?" tanya Bu Devi


"Alhamdulillah baik" Jawabnya singkat dan kembali memasukkan makanan kedalam mulutnya


"Sudah berapa hari kamu tidak pulang pah?" tanya bisa Devi


"Tiga hari ini kan seharusnya? nanti malam aku akan pulang kerumah" jawab pak Burhan


"Sebaiknya mulai sekarang kamu tidak usah pulang pah?" ucap Devi melihat Burhan


Burhan menghentikan makannya dan melihat kearah Devi.


"Maksud kamu?" pak Burhan memicingkan matanya


"Hufftt... " Devi menarik nafas


"Ceraikan aku mas" ucap Devi lirih nyaris tak terdengar


"Kamu yakin?" tanya Burhan menatap Devi tajam


Devi terdiam, berusaha menahan bulir-bulir kristal agar tak jatuh, namun pertahanannya sia-sia. Bulir-bulir kristal yang sedari tadi berusaha ditahan akirnya menggenangi sudut matanya.


Setelah semalaman merenung dari awal pernikahan, ternyata dirinya memang tidak pernah menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik.


Tak mau lagi menjadi orang yang egois dan menyakiti hati laki-laki yang dicintainya dan sudah menemaninya selama bertahun-tahun, Devi memutuskan untuk membebaskan Burhan.


"Iya mas, aku yakin. Ceraikan aku!" ucap Devi terisak


Melihat Devi menangis, tidak bisa dipungkiri hati Burhan merasa ikut teriris. Meskipun selama ini dirinya sangat menginginkan perceraian ini, tapi Burhan tidak menyangka kalau Devi yang biasanya tegas dan tidak mau mengalah tiba-tiba menjadi lunak seperti ini.


Burhan mendekat dan mengusap punggung Devi yang terisak. Burhan juga memberikan tisu untuk Devi.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Burhan


"Tidak pah, aku tidak apa-apa."


"Apa kamu yakin tidak akan berubah pikiran?" kembali Burhan bertanya


Devi menggelengkan kepala dan menyeka air matanya.


"Semalam aku sudah berpikir tentang semua ini. Aku juga sudah merenungi perjalanan pernikahan kita selama ini. Dan sekarang aku sadar, aku salah. Aku sudah berdosa. Aku tidak akan menjadi orang yang egois lagi. Aku akan melepaskan mu pah, semoga kamu bahagia" ucap Devi terisak


Burhan memeluk Devi dalam dekapannya.


"Tolong maafkan aku juga, sebagai suami aku pun gagal menjadi imam buat keluarga kita. Apapun jalan yang akan kamu pilih nantinya, aku harap kamu juga bahagia. Dan semoga karir kamu akan semakin terang seperti apa yang kamu inginkan selama ini. Aku akan mendoakan yang terbaik untuk mu Dev" ucap Pak Burhan


***


Dirumah Pak Herman


"Assalamu'alaikum" ucap Burhan

__ADS_1


"Walaikumsalam Burhan" jawab bu Retno


"Kak Herman dimana kak?" Burhan melihat keseluruh ruangan


"Papa sedang ke pesantren tadi, biasanya ketemu besan" ucap bu Retno


"Kak Retno tumben tidak ikut?"


"Tadinya mau ikut, tapi tidak jadi. Ada acara pengajian ibu-ibu komplek nanti sore."


"Kak, Burhan tadi bertemu dengan Devi dan kita sudah sepakat untuk berpisah. Sidang perceraian akan digelar dua minggu lagi" ucap Burhan


"Syukurlah kalau seperti itu, jadi kamu tidak perlu lagi bingung dengan dua istri" jawab bu Retno


"Sebenarnya melihat Devi seperti tadi, hati Burhan juga tidak tega. Entah kenapa, Burhan bisa melihat penyesalan dimata Devi dan ada ketulusan"


"Burhan, semua sudah terjadi. Dan dimana-mana yang namanya penyesalan pasti dibelakang. Kamu sudah membuat keputusan jadi ya sudah jangan pernah berpikir untuk mundur lagi. Kasihan Wati kan, kalau disaat seperti ini justru kamu kembali melihat Devi. Sedangkan Devi tidak akan mungkin mau terang-terangan dimadu. Jadi sudahlah jangan melihat kebelakang!" ucap Retno


"Iya kak, Burhan tau itu" jawab Burhan


"Assalamu'alaikum" ucap Aisyah dan Danu


"Walaikumsalam, anak dan menantu kesayangan mama sudah pulang. Sini sayang duduk disamping mama"


Aisyah duduk disamping bu Retno


"Om Burhan kok ada disini ?" tanya Danu mencium tangan Burhan


"Ini, lagi curhat sama mama kamu" jawab Burhan


"Curhat soal apa om?" tanya Danu


"Soal perceraian om yang akan disidangkan dua minggu lagi" jawab Burhan


"Justru Devi sendiri yang meminta untuk cerai"


"Apapun pilih hidup om Burhan, selalu libatkan Alloh." ucap Danu


"Iya Dan, sekarang om sadar. Kita ini tidak bisa apa-apa tanpa pertolongan Alloh, mungkin rumah tangga om dan tante Devi berantakan juga karena kesalahan om Burhan yang tidak bisa menjadi imam dalam keluarga. Sekarang om sadar, menjalani sebuah rumah tangga itu tidak cukup hanya dengan cinta, tapi juga butuh tanggungjawab dan ilmu agama sebagai dasar membangun rumah tangga yang sesuai syari'at islam, rumah tangga yang Qurrotaayun sesuai dengan yang Rosulullah contohkan. Jujur om ini senang dengan rumah tangga kalian tampak begitu harmonis " ucap Burhan


"Kita juga masih belajar om, belajar untuk saling menjaga dan mengingatkan agar tidak terlena. Karena didalam rumah tangga itu dibutuhkan komitmen dan yang paling utama harus ingat Alloh. Jika kita mencintai karena Alloh InsyaAlloh kita tidak akan berani bermain-main dengan yang namanya pernikahan" ucap Danu


"Iya Dan, om beryukur kamu mengingatkan Om, kadang om malu. Seharusnya om ini bisa jadi panutan tapi malah sebaliknya. Kalian yang lebih muda tapi justru yang lebih pantas untuk dijadikan panutan" ucap Burhan


"Saling mengingatkan Om, kalau Danu salah om juga harus menegur Danu" jawab Danu


***


Dua minggu kemudian


Dipengadilan


Kini Burhan dan Devi sudah sepakat untuk cerai secara baik-baik. Devi menerima keputusan pengadilan dan pembagian harta gono gini sesuai dengan keputusan hakim. Tidak ada keributan dan tidak ada keberatan. Semau saling menerima. setelah ketok palu dari hakim kini keduanya resmi bercerai dan bukan lagi suami istri


"Aku do'akan semoga kalian bahagia" ucap Devi yang menggunakan kaca mata hitam untuk menutupi matanya yang sembab.


Didepan kantor pengadilan agama setelah sidang perceraian selesai Wati pun meminta maaf kepada Devi


"Bu Devi tolong maafkan Wati"


"Tidak perlu lagi minta maaf, semoga kalian bahagia" ucap Devi berlalu


Burhan dan Wati melihat Devi hingga tak terlihat lagi punggungnya.

__ADS_1


"Mas, kenapa aku jadi merasa bersalah sama bu Devi? aku sudah merusak rumah tangga kalian" ucap Devi


"Kamu tidak sepenuhnya salah, aku lah yang salah. Sudahlah semua sudah terjadi, Semoga Alloh mengampuni dosa kita" ucap Burhan


***


Hari ini Abah menggelar acara syukuran atas kehamilan Ulya dan Aisyah.


Acara berjalan dengan lancar, setelah acara doa bersama, para tamu undangan tampak menikmati hidangan yang telah disediakan


"Abah Aisyah tidak menyangka abah akan bikin acara syukuran untuk kami" ucap Aisyah


"Alhamdulillah ada rejeki dan Alhamdulillah Abah ingin membagi kebahagiaan bersama mereka, Abah beryukur kamu dan Ulya InsyaAlloh sebentar lagi akan menjadi seorang ibu dan Abah akan menjadi seorang kakek" jawab Abah bahagia


"Assalamu'alaikum Abah" ucap Firdaus dan Fitri


"Walaikumsalam Fir, Fitri. Alhamdulillah kalian datang" jawab Abah


"Maaf kami terlambat bah, karena tadi nunggu Fitri bimbingan dulu dikampus" jawab Firdaus


"Iya tidak apa-apa, bagaimana Fit. lancar kuliahnya?" tanya Abah


"Alhamdulillah lancar Abah" jawab Fitri


"Fit, ikut aku sebentar yuk, ada yang mau aku bicarakan. Abah, pak Fir, Aisyah kesana dulu sama Fitri ya" ucap Aisyah menujuk sofa disudut ruangan. Abah dan Fir mengiyakan


"Nak Fir, Alhamdulillah Abah senang melihat kamu menikah dengan Fitri. Fitri ini juga sudah Abah anggap seperti anak sendiri karena memang sejak mereka SMA Fitri ini sering kesini bermain bersama Aisyah. Jadi kami ini sudah seperti keluarga" Abah menceritakan masa SMA Fitri dan Aisyah dengan antusias


Fir pun tampak bersemangat mendengarkan cerita SMA mereka.


"Jodoh memang tidak disangka-sangka bah. Niatnya melamar Ulya tapi ketemu jodohnya justru di acara pernikahan Ulya" ucap Fir tersenyum


"Ya seperti itulah jika Alloh sudah mentakdirkan seseorang untuk bertemu dengan jodohnya, seribu satu cara yang tidak disangka-sangka"


Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang – pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS Yasin : 36).


"Assalamu'alaikum Abah"


"Walaikumsalam Zidan, datang sendiri? Abimu tidak datang?" tanya Abah


"Abi menitipkan pesan dan permintaan maaf untuk Abah karena tidak bisa datang. Kurang enak badan" jawab Zidan


"Apa Abimu sakit?" tanya Abah


"Hanya sedikit tidak enak badan saja bah"


"Syafakillah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman. Artinya: “Semoga Allah menyembuhkanmu secepatnya, dengan kesembuhan yang tiada sakit selepasnya.”


"Aamiin" jawab Zidan saat Abah membacakan doa untuk Abinya


"Mas Zidan, kamu datang?" tanya Ulya


"Abah yang mengundang zidan Ul, karena biar bagaimana Abah tidak ingin ada permusuhan lagi. Sekarang kalian sudah bahagia dengan pasangan masing-masing"


"Iya bah, tidak apa-apa. Ulya senang mas Zidan datang."


"Semoga janinnya sehat lahir dengan selamat ya Ul" ucap Zidan


"Aamiin" jawab semuanya


"Terimakasih sudah datang ke acara syukuran kehamilan istri saya" ucap Niko mengulurkan tangan dan Zidan membalasnya


^happy Reading^

__ADS_1


Jangan lupa like, comet dan vote ya. jangan lupa di follow juga ya terimakasih. dukungan kalian sangat berarti bagi thor🙏


__ADS_2